RADARSOLO.COM – Tren kenaikan harga minyak goreng di pasar tradisional wilayah Solo Raya belum menunjukkan tanda-tanda melandai sejak sebelum Lebaran.
Fenomena ini mulai memicu keluhan dari para pedagang sembako karena berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat.
Meskipun pasokan barang di pasar dipastikan aman, disparitas harga yang cukup tinggi antara merek nonsubsidi dan Minyakita membuat konsumen mulai membatasi jumlah pembelian harian.
Baca Juga: Polemik Linmas Berpolitik di Solo: PDI Perjuangan dan PSI Terlibat Silang Pendapat Tajam
Sumi, pedagang sembako di Pasar Kadipolo mengungkapkan, kenaikan harga minyak goreng terjadi secara merata, baik pada merek premium maupun minyak goreng program pemerintah.
Menurutnya, lonjakan harga ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode awal tahun.
Sumi menduga, kondisi tersebut selain dipicu oleh harga dasar dari produsen, juga dipengaruhi naiknya biaya komponen pendukung seperti kemasan plastik.
“Dulu Sanco 2 liter harganya Rp39 ribu, sekarang jadi Rp47 Ribu-Rp48 ribu. Yang ukuran 1 liter sekarang Rp25 ribu-Rp26 ribu, padahal sebelumnya masih Rp21-22 ribu,” ujar Sumi, Minggu (10/5/2026).
Harga Minyakita yang menjadi tumpuan masyarakat menengah ke bawah pun ikut melambung.
“Dari sananya belinya hampir Rp235 ribu satu pack. Stok sebenarnya aman, cuma memang harganya naik,” katanya.
Baca Juga: Enggak Ada Habisnya, Polres Klaten Amankan 83 Motor Knalpot Brong di Prambanan
Itu artinya harga Minyakita kini tembus Rp20 ribu per liter dari sebelumnya Rp17 ribu.
Dampak dari meroketnya harga kebutuhan pokok ini mulai terasa pada volume penjualan pedagang.
Sebagian pelanggan kini lebih selektif dan cenderung mengurangi frekuensi penggunaan minyak goreng untuk meminimalkan pengeluaran rumah tangga.
Namun, karena minyak goreng merupakan kebutuhan primer, transaksi jual beli di pasar tetap berjalan meskipun dengan intensitas yang tidak seramai sebelumnya.
“Kalau dari pembeli memang sedikit menurun. Mungkin ada yang mengurangi ya pakai minyak masaknya, tapi tetap ada yang beli karena memang butuh,” jelas Sumi.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pedagang kecil yang harus memutar modal lebih besar untuk mendapatkan stok barang dari distributor di Pasar Legi maupun melalui tenaga pemasar (sales) yang memasok langsung ke lapak mereka di pasar rakyat.
Merespons situasi di lapangan, Bulog Cabang Surakarta memastikan bahwa ketahanan stok minyak goreng untuk wilayah Solo dan sekitarnya masih sangat mencukupi untuk beberapa waktu ke depan.
Bulog mengeklaim tetap menyalurkan minyak dengan harga stabil di bawah harga pasar kepada pedagang di pasar-pasar rakyat guna menekan gejolak harga yang lebih liar.
Penambahan pasokan dari produsen juga dijadwalkan akan masuk dalam pekan depan.
Pemimpin Cabang Bulog Surakarta Nanang Harianto menjelaskan, stok minyak goreng saat ini mencapai 88 ribu liter.
“Harga minyak yang disalurkan Bulog masih berada di kisaran Rp15.700 per liter dan distribusi terus dilakukan secara rutin ke pasar rakyat,” jelas Nanang.
Ia menambahkan bahwa distribusi mencakup wilayah luas. “Kami terus distribusi rutin ke pasar-pasar rakyat seperti Pasar Legi, Pasar Nusukan, Pasar Jongke, Pasar Gede, termasuk pasar-pasar di luar Surakarta,” katanya.
Nanang tidak menampik adanya kenaikan harga di tingkat konsumen yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Minyakita yang ditugaskan ke Bulog hanya 35 persen dari produsen, sedangkan 65 persen disalurkan ke distributor swasta. Kalau secara aturan memang tidak boleh di atas HET,” tegas Nanang. (alf)
Editor : Tri Wahyu Cahyono