RADARSOLO.COM - Tak hanya Kirab Budaya, perayaan Waisak di Kota Solo juga diwarnai dengan adanya lampion dan ornamen tematik yang dipasang di sekitar Gladag hingga Pasar Gede. Lampion ini akan dipasang hingga 19 Juni mendatang.
"Tahun ini (lampion yang dipasang di sekitar Gladag hingga Pasar Gede) kami mengambil tema tentang hewan Jataka, seperti Gajah hingga Ular. Yang paling unik di Jembatan Pasar Gede ada Ular Naga besar. Selain itu ada Rupang Buddha Mahayana Parinibbana (Buddha Berbaring)," terang Pendeta Mettasiri Sutrisno, salah satu panitia Waisakha Raya, Selasa (12/5).
Baca Juga: Persis Solo Dapat “Nyawa Tambahan” dari Eks Pemain, Begini Kata Milomir Seslija
Namun yang paling khas dan jadi pembeda dengan tahun sebelumnya, perayaan Waisak 2026 ini akan dilengkapi dengan Kirab Budaya yang diikuti lebih dari 1.500 peserta. Kirab tersebut akan diikuti oleh 55 Bhikkhu Thudong, 2 Bhikkhu dari Indonesia dan 2 samanera.
Kirab ini juga akan menghadirkan Bhikkhu Sangha, organisasi Buddhis, dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Kirab akan dilaksanakan pada Sabtu (23/5) petang mulai 18.00 dan ditutup dengan Prosesi Puja Pemandian Rupang Bodhisattva Siddhartha di plaza balai kota.
"Tema tahun ini adalah Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri. Maknanya budaya Dharma ini tidak hanya menjadi pedoman namun juga diwujudkan nyata dalam semangat persaudaraan toleransi dan harmoni kebangsaan," terangnya.
Sekadar informasi, Perayaan Waisak di Solo juga akan dimeriahkan berbagai kegiatan menarik lainnya, seperti pentas seni dan budaya, hingga bazar kuliner di halaman Balai Kota Solo dan lain sebagainya. "Kirab wisata dari Mas Wali mengharapkan bisa jadi rutinitas tahunan," beber Sutrisno. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy