RADARSOLO.COM - Fenomena percobaan bunuh diri di kawasan Jembatan Jurug menjadi perhatian serius. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, tercatat sudah tiga orang berupaya mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan yang menghubungkan Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar tersebut.
Seluruh korban yang berhasil diselamatkan diketahui berjenis kelamin perempuan, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga. Faktor pemicu pun beragam, mulai persoalan asmara, tekanan psikis, hingga dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kasus terbaru terjadi Selasa (12/5) sekira pukul 13.10. Seorang mahasiswi asal Palembang nyaris melompat dari Jembatan Jurug. Beruntung aksinya diketahui petugas proyek pengecatan jembatan yang kemudian melapor ke Pos SAR Perum Jasa Tirta (PJT) Jurug.
Baca Juga: Dikirim via Online, Pemuda asal Sambirejo Sragen Simpan Ribuan Pil Koplo di Rumah
Anggota Tim SAR PJT Jurug, Rivaldo Ardi Pratama mengatakan, korban saat itu sudah berada di tepi jembatan dengan satu kaki melewati pagar pembatas.
“Saya langsung menuju lokasi setelah mendapat laporan dari petugas proyek. Ternyata benar, korban sudah dalam posisi mau melompat,” ujarnya.
Korban kemudian berhasil diamankan dan dibawa ke Pos SAR PJT Jurug untuk ditenangkan. Dari hasil komunikasi sementara, korban diduga nekat mengakhiri hidup karena persoalan asmara.
“Korban jalan kaki dari kos di wilayah Nusukan sambil menangis. Pengakuannya karena ditinggal menikah oleh kekasihnya,” terang pria yang akrab disapa Nando itu.
Baca Juga: Korban Bencana di Karanganyar Digelontor Bansos Rp 570 Juta
Nando mengaku prihatin karena dalam waktu singkat dirinya sudah tiga kali terlibat penyelamatan percobaan bunuh diri di kawasan Jembatan Jurug. Menurutnya, kasus-kasus tersebut didominasi perempuan dengan latar belakang masalah berbeda.
“Yang pertama pelajar dari Colomadu karena depresi dan persoalan pribadi. Kemudian kasus kedua terkait asmara, sedangkan yang terakhir di jembatan lama diduga karena masalah KDRT,” bebernya.
Dia berharap masyarakat tidak mengambil jalan pintas saat menghadapi persoalan hidup. Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah tindakan nekat.
“Kalau punya masalah berat lebih baik cerita ke keluarga atau orang yang dipercaya. Jangan langsung berpikir mengakhiri hidup,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy