RADARSOLO.COM - Hobi menyayangi hewan peliharaan sah-sah saja.
Namun, ada baiknya diskusikan dulu dengan pasangan, jika tidak ingin bernasib seperti Temon, yang digugat cerai Sipon gara-gara rumahnya berubah jadi kebun binatang.
Pasangan Temon dan Sipon selama ini domisili di Kecamatan Serengan, Kota Solo. Kini mereka resmi bercerai, setelah hakim Pengadilan Agama (PA) Solo mengetuk palu saat persidangan.
Penyebabnya bukan persoalan ekonomi atau orang ketiga. Melainkan kebiasaan Temon yang terlalu sering membawa pulang hewan peliharaan, tanpa meminta pendapat Sipon.
Baca Juga: DPRD Sragen Desak Maksimalkan Hanggar dan Tambahan Truk di TPA Sukosari
Ditemui usai sidang, Sipon mengaku sudah mengenal watak Temon yang menyayangi binatang. Di awal pernikahan, ia sejatinya tidak mempermasalahkan karena hanya memelihara beberapa ekor ikan dan burung.
“Dulu masih biasa, hanya ikan dan burung. Saya pikir itu sekadar hobi,” jelas Sipon.
Namun seiring berjalannya waktu, jumlah hewan peliharaan di rumah terus bertambah. Temon kerap tiba-tiba pulang bawa hewan, tanpa seizin polda (polisi dapur).
“Kadang pulang kerja tiba-tiba bawa kucing, besoknya kelinci. Pernah juga tiba-tiba ada kura-kura di teras,” ujar Sipon.
Sipon mengaku awalnya masih mencoba memahami hobi suaminya tersebut. Namun lama-kelamaan kondisi rumah tidak nyaman. Terlalu banyak hewan yang dipelihara.
“Rumah jadi ramai dan susah diatur. Belum soal bau, suara, dan perawatannya. Saya seringnya tahu setelah hewannya sudah ada di rumah,” keluhnya.
Sipon mengaku biaya perawatan hewan sangat memengaruhi pengeluaran. Mulai dari makanan, kandang, hingga perawatan kesehatan hewan. Ini sontak sering memicu perdebatan.
“Kadang kebutuhan rumah tangga sendiri masih banyak, tapi dia lebih dulu beli perlengkapan hewan,” beber Sipon.
Sipon mengaku sudah beberapa kali mengingatkan agar jumlah hewan dikurangi, termasuk minta izin dulu sebelum membawa peliharaan baru. Namun, Temon lebih sayang dengan hewan-hewan tersebut.
Baca Juga: Astra Women Network 2026 Dorong Pemberdayaan Perempuan untuk Ciptakan Dampak Nyata
“Ngakunya tidak tega,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat hubungan Sipon dan Temon kian renggang.
“Awalnya terdengar sepele. Tapi kalau hampir setiap bulan ada hewan baru, lama-lama capek juga,” ungkapnya.
Sipon menegaskan keputusan cerai sudah melalui pertimbangan matang.
“Saya tidak membenci hobinya. Tapi, rumah tangga kan harus dijalani bersama, bukan berdasarkan keputusan sepihak,” sesalnya. (atn/fer)
Editor : fery ardi susanto