RADARSOLO.COM-Ruang publik di Kota Solo kembali menjadi sorotan tajam netizen.
Menyusul beredarnya video amatir yang memperlihatkan tindakan tidak pantas sepasang muda-mudi di kawasan Taman Banjarsari atau Monumen 45 Banjarsari (Monjari), Jumat (15/5/2026) malam.
Insiden ini mencuat hanya berselang beberapa hari setelah kasus serupa di Plaza GOR Indoor Manahan viral pada Senin (11/5/2026).
Kejadian berulang ini memicu kritik publik terkait efektivitas pengawasan, sistem penerangan, serta keamanan fasilitas taman kota pada malam hari.
Baca Juga: Jadwal MotoGP Catalunya 2026: Sprint Race Malam Ini Diprediksi Sengit Tanpa Marc Marquez
Kawasan Monjari dinilai memiliki kerawanan lebih tinggi dibandingkan ruang terbuka hijau lainnya karena kondisi geografisnya yang cenderung remang-remang dan minim aktivitas saat malam hari.
Situasi ini dimanfaatkan untuk melakukan tindakan asusila yang melanggar norma sosial.
Aparat penegak perda mengakui bahwa keterbatasan jumlah personel di lapangan membuat pengawasan di seluruh sudut kota belum bisa menyentuh angka 100 persen.
Kepala Satpol PP Solo Didik Anggono menjelaskan bahwa titik kejadian berada di luar jangkauan pengawasan anggotanya saat bertugas.
“Mungkin ya luput dari patroli kita. Sebenarnya taman-taman itu dijaga, tapi memang tidak semua tempat bisa kami jaga penuh karena harus melihat prioritas pengawasan juga,” ujar Didik, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga: Laga Hidup Mati Persis Solo, Pengamanan Besar-Besaran Dilakukan di Stadion Manahan
Ia membedakan tata ruang Monjari dengan taman publik lainnya.
“Kalau taman seperti Taman Cerdas atau Taman Lansia mungkin tidak terlalu ndelik. Tapi kalau Monjari ini terkesan sepi dan tertutup, jadi memang perlu perhatian khusus,” tambahnya.
Menyikapi kelemahan pengawasan di area publik, Satpol PP Solo mendorong adanya standarisasi sarana prasarana yang menunjang sistem keamanan lingkungan.
Kondisi ideal sebuah taman tidak cukup hanya mengandalkan pos penjagaan berkala, melainkan harus didukung oleh intervensi teknologi perekam video visual serta sistem pencahayaan yang mampu menghilangkan area-area gelap yang kerap disalahgunakan.
Baca Juga: Tinjau Sumur Bor TMMD Sragen, Danrem 074/Warastratama Puji Kualitas Air yang Bening dan Dingin
Didik memaparkan bahwa pemenuhan fasilitas keamanan tersebut membutuhkan dukungan kebijakan anggaran yang komprehensif di tingkat wilayah.
“Kalau idealnya, pertama lampunya terang. Kedua kalau tidak ada petugas ya ada CCTV. Kalau di taman mungkin bisa dipasang masing-masing kelurahan. Tapi itu tentu butuh effort dan anggaran yang besar,” jelasnya.
Ketiadaan piranti pemantau otomatis ini membuat petugas sering kali baru mengetahui adanya pelanggaran ketertiban umum setelah videonya terlanjur tersebar luas di jagat maya.
Sebagai langkah taktis jangka pendek untuk meredam keresahan masyarakat, Satpol PP Solo akan melakukan restrukturisasi rute dan jadwal patroli malam.
Pengawasan kini tidak lagi hanya bertumpu pada personel tingkat kota, melainkan akan diintegrasikan dengan mengoptimalkan peran penegak keamanan di tingkat kelurahan dan kecamatan agar jangkauan pemantauan menjadi lebih rapat dan berlapis.
Sinergi antar-lini segera diaktifkan melalui instruksi tegas kepada jajaran di tingkat bawah.
Baca Juga: Gen Z Rentan Stres dan Kecemasan, RS Dr OEN Kandang Sapi Solo Gelar Seminar Kesehatan Mental
“Yang pertama kami akan intensifkan patroli di taman-taman kota bersama Satlinmas yang kami miliki. Nanti biar mereka juga ikut muter melakukan pengawasan,” kata Didik.
Langkah koordinasi ini diharapkan mampu menutup celah kosong pengawasan di jam-jam rawan.
“Saya koordinasi dengan lurah dan camat supaya Linmas di wilayah juga ikut bergerak melakukan pengawasan,” tandasnya. (atn)
Editor : Tri Wahyu Cahyono