RADARSOLO.COM-Kemenangan krusial Persis Solo atas Dewa United dengan skor tipis 1-0 dalam laga pekan ke-33 Liga 1 2025/2026 di Stadion Manahan, Sabtu (16/5/2026) malam, harus dibayar mahal.
Euforia keberhasilan Laskar Sambernyawa memetik tiga poin penting demi menjauhi zona degradasi justru ternodai oleh aksi tidak bertanggung jawab.
Penyalaan flare, smoke bomb, hingga petasan oleh sejumlah oknum suporter seusai laga memicu kepanikan luar biasa di area tribun akibat kepulan asap pekat yang mengendap di dalam stadion.
Baca Juga: Nodai Kemenangan Persis Solo, 33 Oknum Suporter Diamankan Polresta Solo
Stadion Manahan yang memiliki karakteristik atap melingkar tertutup menjadi faktor utama pekatnya konsentrasi asap di area tribun penonton.
Udara di dalam stadion mendadak pengap dan memotong jarak pandang setelah suar-suar raksasa dinyalakan secara serentak dari beberapa sudut kelompok suporter.
Akibatnya, suasana perayaan kemenangan yang harusnya meriah berubah menjadi situasi darurat bagi penonton rentan.
Direktur Persis Solo sekaligus Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Pertandingan Ginda Ferachtriawan mengungkapkan rasa kekecewaannya yang mendalam atas ketidakpatuhan oknum suporter terhadap regulasi keselamatan.
Sanksi denda yang pernah diterima klub di masa lalu rupanya belum cukup menjadi pembelajaran bagi sebagian penonton di tribun.
“Ini sangat kami sesalkan. Kami sebenarnya sudah berulang kali mengimbau agar tidak ada flare, smoke bomb, maupun petasan di dalam stadion. Kami juga pernah mendapat sanksi akibat kejadian serupa,” ujar Ginda pada Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: Sambut Hari Jadi Wonogiri, Puluhan Atlet Paralayang Taklukkan Langit Watu Lumbung
Panpel menegaskan bahwa upaya pencegahan telah dilakukan secara maksimal melalui penyisiran berlapis sebelum pintu gerbang stadion dibuka untuk umum.
Petugas keamanan bahkan telah mengendus adanya modus penyelundupan barang terlarang yang dilakukan satu hari sebelum pertandingan dengan cara menyisipkannya di fasilitas-fasilitas tersembunyi di dalam area tribun penonton.
“Petugas sebenarnya sudah bekerja maksimal. Sebelum pertandingan kami sudah mengamankan banyak flare dan kembang api. Ada yang dibawa penonton, ada juga yang disimpan atau diumpetkan di area stadion,” kata Ginda.
Dari rangkaian razia pra-pertandingan tersebut, polisi mengamankan 33 suporter beserta puluhan barang bukti termasuk 23 flare, 7 smoke bomb, 11 petasan, dan minuman keras.
Baca Juga: Anak Bawah Umur di Giritontro Wonogiri yang Dianiaya Warga Disebut Sering Mencuri
Namun, beberapa buah flare tetap lolos dari pemeriksaan petugas.
Dampaknya langsung dirasakan di lapangan. Sebanyak delapan penonton dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut dan serangan panik di tengah ketebalan asap kimia yang menyengat mata dan tenggorokan.
Tim medis dan armada ambulans yang bersiaga di pinggir lapangan bergerak cepat melakukan evakuasi korban ke tempat terbuka.
“Ada yang sesak napas, ada juga yang panik karena kondisi tribune penuh asap," ungkap Ginda.
"Bahkan ada anak kecil yang dibawa ibunya meminta diamankan karena ketakutan,” imbuhnya.
Beruntung, seluruh korban dapat tertangani dengan baik di lokasi tanpa harus dilarikan ke rumah sakit rujukan karena kondisi fisik mereka berangsur stabil setelah diberikan bantuan tabung oksigen.
Baca Juga: Sempat Buron, Pelaku Curanmor Asal Banten Diringkus Polresta Surakarta di Indekos Wilayah Kartasura
Pascakejadian ini, manajemen Laskar Sambernyawa kini dihadapkan pada ancaman hukuman berat dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Kerugian finansial akibat denda bernilai ratusan juta rupiah kini membayangi kas klub.
Sebuah situasi yang sangat disayangkan mengingat manajemen tengah menguras energi untuk menjaga stabilitas operasional tim di akhir musim kompetisi yang krusial ini.
Panpel kini tengah merumuskan nota pembelaan resmi yang akan dilampiri bukti-bukti visual mengenai penangkapan serta penyitaan barang bukti yang telah dilakukan petugas sebagai bentuk komitmen klub dalam menegakkan aturan.
Kendati demikian, beban sanksi tetap menjadi tanggung jawab kolektif yang merugikan eksistensi klub secara jangka panjang.
“Kami tidak ingin menyalahkan suporter. Tapi kalau ada korban dan ada sanksi, tentu klub juga yang dirugikan," tegas Ginda.
"Di satu sisi suporter ingin tim lebih baik, tapi di sisi lain kalau terkena denda besar tentu memberatkan klub,” lanjut dia.
Evaluasi total terhadap sistem pengamanan gerbang masuk serta pengawasan CCTV tribun dipastikan akan diperketat secara radikal demi menjamin keselamatan penonton pada musim-musim selanjutnya. (atn)
Editor : Tri Wahyu Cahyono