RADARSOLO.COM – Kota Solo kembali belum mampu menembus jajaran 10 besar Kota Toleran versi Setara Institute tahun 2026. Dalam laporan terbaru lembaga tersebut, Kota Bengawan masih bertahan di posisi ke-12 nasional, sama seperti capaian tahun sebelumnya.
Kondisi itu mendapat perhatian serius dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Surakarta (FKUB) Solo. Organisasi yang menjadi garda terdepan dalam menjaga harmoni antarumat beragama tersebut langsung menyiapkan sejumlah program inovasi untuk mendongkrak indeks toleransi Kota Solo agar mampu menembus 10 besar nasional pada 2027 mendatang.
Ketua FKUB Solo Muhammad Mashuri menegaskan, hasil penilaian tersebut menjadi refleksi bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah. Menurutnya, penilaian kota toleran memiliki banyak indikator sehingga tidak bisa hanya dibebankan kepada FKUB maupun pemerintah semata.
“Solo belum berhasil masuk 10 besar kota toleran versi Setara Institute. Kita masih di angka 12 seperti tahun kemarin. Banyak faktor dan variabel yang menjadi penilaian. Jadi memang harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh stakeholder,” ujarnya.
Baca Juga: Polresta Solo Ungkap 43 Kasus Narkoba, 55 Tersangka Berhasil Diamankan
Mashuri mengungkapkan, berdasarkan evaluasi FKUB, salah satu penyebab Solo belum mampu menembus 10 besar karena indikator penilaian dari Setara Institute terus berkembang setiap tahun. Sementara beberapa program yang pernah menjadi keunggulan Solo kini sudah banyak diadopsi daerah lain.
Menurutnya, sejumlah inovasi toleransi yang sebelumnya lahir di Solo justru direplikasi kota-kota lain sehingga nilai keunggulan Kota Bengawan tidak lagi terlalu menonjol dibanding daerah lain.
“Kami evaluasi memang ada beberapa indikator yang dulu menjadi kekuatan Solo, sekarang sudah dilakukan daerah lain. Mereka tinggal menduplikasi program yang pernah dijalankan Solo, akhirnya mereka bisa masuk 10 besar,” katanya.
Baca Juga: Jelang Laga Penentuan, Manajemen Persis Solo Pastikan Semangat Pemain Masih Membara
Selain itu, Mashuri menilai implementasi program toleransi di tingkat masyarakat juga masih perlu diperkuat. Dia mengakui selama ini sejumlah kegiatan lebih banyak menyentuh level formal dan komunitas tertentu, sehingga FKUB kini mencoba memperluas sosialisasi langsung hingga tingkat RT dan RW.
“Kami melihat perlu penguatan di akar rumput. Karena toleransi itu bukan hanya slogan atau seremoni, tetapi harus menjadi budaya sehari-hari masyarakat,” terangnya.
Dia juga menyoroti pentingnya keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, media hingga generasi muda. Menurutnya, tanpa kolaborasi yang kuat, sulit bagi Solo meningkatkan skor penilaian toleransi secara signifikan.
“Penilaian ini bukan hanya soal kegiatan FKUB saja, tetapi menyangkut ekosistem kota secara keseluruhan. Maka semua pihak harus bergerak bersama,” tandasnya.
Meski demikian, pihaknya tidak ingin larut dalam kekecewaan. FKUB justru menjadikan hasil tersebut sebagai momentum memperkuat budaya toleransi dan harmoni sosial di Kota Solo.
“Ini menjadi bahan refleksi bersama untuk memperkuat budaya toleransi dan harmoni sosial. Kemudian menjadi pendorong peningkatan kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, media, dan seluruh warga,” tegasnya.
Baca Juga: Eagle Fist Solo Borong Medali di Kejuaraan Wushu Piala Rektor Unnes 2026
Selain penilaian dari Setara Institute, Mashuri menyebut Kota Solo sebenarnya memiliki capaian cukup baik dalam penilaian indeks kerukunan dari Kementerian Agama RI. Dari 94 kota di Indonesia, Solo berhasil masuk kategori atas.
“Ada dua penilaian, pertama dari Setara Institute dan kedua dari Kemenag pusat. Untuk penilaian Kemenag kita masuk kategori 2 besar kota Harmoni dan mudah-mudahan bisa terus naik,” jelasnya.
Untuk mengejar target masuk 10 besar Kota Toleran pada 2027, FKUB menyiapkan sedikitnya 10 program strategis yang akan dijalankan secara bertahap sepanjang tahun ini.
Program pertama adalah sosialisasi wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan regulasi kerukunan di 54 kelurahan se-Kota Solo. Program tersebut sudah mulai berjalan di Kecamatan Jebres dan akan dilanjutkan ke Pasar Kliwon, Serengan, Laweyan hingga Banjarsari.
Mashuri menjelaskan, dalam kegiatan tersebut FKUB tidak hanya bertemu perangkat kelurahan, tetapi juga turun langsung menyapa masyarakat, RT dan RW agar pesan toleransi benar-benar dipahami hingga level bawah. “Kami ingin masyarakat betul-betul memahami pentingnya toleransi dan kerukunan. Jadi bukan hanya berhenti di tingkat formalitas,” ujarnya.
Program kedua adalah branding taman cerdas menjadi “Taman Toleransi”. FKUB berencana menambahkan pesan-pesan moderasi beragama dan edukasi kerukunan di sekitar 17 titik taman cerdas yang ada di Kota Solo.
Menurut Mashuri, konsep tersebut telah mendapat dukungan dari Wali Kota Solo dan saat ini tinggal mematangkan konsep serta penganggaran. “Esensinya tidak mengurangi fungsi taman cerdas, tetapi ditambah edukasi mengenai toleransi dan moderasi beragama,” katanya.
Program ketiga adalah audisi Putra-Putri Duta Kerukunan. Program ini menyasar generasi muda agar menjadi agen perubahan sekaligus influencer toleransi di lingkungan masing-masing.
Nantinya proses seleksi akan dilakukan mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kota. Para duta kerukunan tersebut akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan edukasi kebhinekaan. “Kami ingin anak muda menjadi motor penggerak toleransi di tengah masyarakat,” ucap Mashuri.
FKUB juga menyiapkan hotline kerukunan yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam. Layanan tersebut diharapkan menjadi jalur cepat penyelesaian ketika muncul persoalan sosial maupun potensi konflik antarumat beragama. “Kalau ada persoalan bisa langsung dikomunikasikan sehingga tidak membesar,” imbuhnya.
Selain itu, FKUB akan menerbitkan buletin kerukunan yang berisi pesan-pesan toleransi, kegiatan lintas agama, hingga edukasi moderasi beragama. Buletin tersebut akan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai media literasi sosial.
Program lain yang juga disiapkan adalah kirab kerukunan antarumat beragama berbasis hari besar keagamaan. Agenda terdekat akan dilaksanakan dalam momentum Hari Raya Waisak. Selanjutnya kegiatan serupa juga akan digelar dalam perayaan agama lain agar seluruh umat beragama mendapatkan ruang yang sama dalam membangun harmoni sosial.
“Kita ingin semua agama mendapatkan ruang yang sama dan masyarakat melihat bahwa kerukunan itu nyata,” katanya.
Tak hanya fokus pada edukasi sosial, FKUB juga memperkuat program Kelurahan Sadar Kerukunan berbasis potensi lokal. Selama dua tahun terakhir FKUB melakukan pemetaan potensi di 54 kelurahan, mulai dari UMKM, sentra industri, wisata religi, situs sejarah hingga budaya lokal.
Mashuri menilai penguatan ekonomi masyarakat berbasis kerukunan menjadi langkah penting menjaga harmoni sosial di tingkat bawah. “Ketika masyarakat memiliki kepentingan ekonomi bersama, maka kerukunan akan lebih mudah dijaga. Kalau ada pihak yang mengganggu, otomatis dianggap mengganggu kepentingan bersama,” jelasnya.
FKUB juga berencana menggandeng CSR perusahaan, pemerintah hingga komunitas lokal untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis toleransi. Selain itu, berbagai kegiatan olahraga dan hobi lintas agama juga akan mulai digelar tahun ini. Mulai dari turnamen olahraga bertema kerukunan hingga kegiatan mancing bersama lintas komunitas.
Menurut Mashuri, olahraga dan kegiatan hobi diyakini mampu menghapus sekat perbedaan karena masyarakat akan lebih mengutamakan sportivitas dan kebersamaan. “Dari olahraga orang bisa lebih cair dan melupakan perbedaan. Itu juga bagian dari memperkuat toleransi,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy