RADARSOLO.COM - Perpustakaan tak lagi sekadar tempat membaca buku.
Di Kelurahan Serengan, Solo, perpustakaan dikembangkan menjadi ruang interaksi sosial dan pusat kegiatan belajar anak-anak sekitar.
Inovasi tersebut mengantarkan perpustakaan kampung (perpung) ini masuk enam besar Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani mengapresiasi prestasi perpustakaan Kelurahan Serengan tersebut.
Baca Juga: EcoLogic, Aplikasi Pemilah Sampah Karya Siswa SD Pangudi Luhur Solo Sabet Juara Nasional
Menurutnya, perpustakaan kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca buku, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang mampu menghidupkan kegiatan positif di tengah derasnya arus disrupsi teknologi.
“Perpustakaan ini tidak hanya sebagai pusat buku, tetapi juga ruang interaksi sosial masyarakat di tingkat wilayah paling kecil dalam hal ini kelurahan,” katanya, Jumat (22/5)
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah kota untuk terus menghadirkan koleksi buku terbaru serta karya-karya yang mampu menggerakkan ekonomi lokal masyarakat.
Baca Juga: Dosen Predator FEBI UIN Solo Dinonaktifkan, Kembali Ancam Korban Ungkit Nilai Matkul Tidak Lulus
Sementara itu, dewan juri lomba Mecca Arfa menjelaskan, terdapat delapan dimensi penilaian dalam kompetisi tersebut, mulai dari koleksi buku, pengelolaan perpustakaan, pustakawan, hingga keterlibatan masyarakat dan inovasi yang berdampak langsung bagi warga.
“Tapi saya kira untuk Solo ini banyak stakeholder banyak pejabat yang memerhatikan. Saya kira ini langkah yang cukup bagus. Walaupun secara pendanaan dalam artian APBD itu belum dianggarkan ke arah sana, tetapi nanti akan bisa berjalan kalau memang didukung oleh semua lapisan masyarakat,” jelasnya.
Ia menyebut, peserta lomba berasal dari 16 daerah terbaik hasil seleksi tingkat kota dan kabupaten di Jawa Tengah.
Kelurahan Serengan berhasil masuk dalam kategori enam besar dan masih menunggu penilaian akhir untuk menentukan juara.
Di sisi lain, Pengurus Perpustakaan Serengan Muji Mulyani mengatakan, salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Rumah Belajar Sekar Pustaka, yakni komunitas belajar anak yang memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar di luar sekolah.
“Anak-anak yang ikut kebanyakan usia SD dan TK. Pembelajarannya bervariasi karena mangsa padar kami anak-anak, jadi bagaimana perpustakaan ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk bermain dan belajar,” tutupnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto