Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

55 Bhikkhu Thudong Singgah di Mangkunegaran dan Melintasi Jalanan di Kota Solo: Bawa Pesan Perdamaian dan Toleransi

Antonius Christian • Minggu, 24 Mei 2026 | 08:49 WIB
Bhikkhu Thudong dari berbagai negara melintasi Kota Solo, Sabtu (23/5). (DOK. RADARSOLO)
Bhikkhu Thudong dari berbagai negara melintasi Kota Solo, Sabtu (23/5). (DOK. RADARSOLO)

RADARSOLO.COM – Sebanyak 55 Bhikkhu Thudong dari berbagai negara melintasi Kota Solo, Sabtu (23/5), dalam perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur, Magelang, untuk mengikuti puncak perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan sempat singgah di Pura Mangkunegaran dan disambut langsung oleh KGPAA Mangkunegara X. Kehadiran para bhikkhu menjadi perhatian masyarakat sekaligus membawa pesan kuat tentang perdamaian, toleransi, dan persaudaraan lintas bangsa.

Rombongan tiba sekitar pukul 15.30 WIB melalui Regol Selatan Pura Mangkunegaran. Selanjutnya mereka berjalan menuju Pendhapi Ageng untuk mengikuti prosesi penyambutan bersama keluarga besar Mangkunegaran.

Baca Juga: Ruko Tiga Lantai di Solo Baru Ternyata Markas Penipuan Internasional, Tetangga Mengira Kantor Biasa

Para bhikkhu yang mengikuti perjalanan Thudong berasal dari sejumlah negara Asia Tenggara, antara lain Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia. Mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki lintas kota hingga lintas negara sebagai bagian dari praktik spiritual dalam ajaran Buddha.

Dalam sambutannya, KGPAA Mangkunegara X menyampaikan apresiasi atas keteguhan para bhikkhu yang menjalani perjalanan panjang menuju Borobudur. Menurutnya, perjalanan tersebut tidak sekadar perjalanan fisik, melainkan juga membawa nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.

“Langkah-langkah Yang Mulia melintasi negara, kota, dan komunitas membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia saat ini, yaitu kedamaian, welas asih, kerendahan hati, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Baca Juga: Daftar Penghargaan Individu Liga 1 2025/2026: Pemain Asal Boyolali Jadi Pemain Muda Terbaik, Pemain PSIM Jogja, Borneo FC, dan Malut United Juga Jadi Yang Terbaik

Dia menilai masyarakat modern tengah menghadapi berbagai tantangan, termasuk meningkatnya perpecahan dan intoleransi. Karena itu, nilai-nilai harmoni dan persatuan harus terus dijaga bersama.

Menurut Mangkunegara X, budaya dan tradisi seharusnya menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarmanusia, bukan justru menciptakan sekat perbedaan.

“Kami percaya budaya tidak seharusnya memisahkan manusia, melainkan mendekatkan satu sama lain. Tradisi juga tidak seharusnya menciptakan jarak, tetapi memperdalam pengertian dan empati antarmanusia,” katanya.

Dia menambahkan, kehadiran para bhikkhu dari berbagai negara Asia Tenggara menjadi simbol persaudaraan lintas bangsa dan budaya yang dibangun atas dasar saling menghormati serta hidup berdampingan secara damai.

Menurutnya, kesederhanaan dan disiplin yang dijalani para Bhikkhu Thudong menjadi pengingat bahwa perdamaian dapat dibangun melalui nilai-nilai sederhana seperti kebaikan, kesabaran, rasa hormat, dan kepedulian terhadap sesama.

“Kebaikan, rasa hormat, kesabaran, welas asih terhadap sesama, dan menciptakan harmoni merupakan fondasi utama bagi terciptanya perdamaian,” tuturnya.

Baca Juga: Perjalanan Persis Solo dari Puncak Kejayaan Promosi hingga Tragedi Degradasi, Milomir Seslija: Tak Pantas Turun Divisi

Mangkunegara X juga mendoakan agar perjalanan para bhikkhu menuju Borobudur berjalan lancar dan membawa berkah bagi masyarakat yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Sementara itu, Ketua Panitia Bersama Hari Waisak, Chanda, mengatakan kedatangan Bhikkhu Thudong ke Solo menjadi momen istimewa karena baru pertama kali rombongan melintasi Kota Bengawan.

Menurut dia, selama ini perjalanan menuju Borobudur umumnya mengambil rute dari arah barat melalui Jakarta. Namun tahun ini para bhikkhu menempuh jalur timur melalui Surabaya dan Solo sebelum menuju Magelang.

“Ini pertama kali Bhikkhu Thudong melintas di Solo. Biasanya dari Jakarta menuju Magelang. Tahun ini mereka berjalan dari Surabaya menuju Magelang dan melintasi Solo,” jelasnya.

Baca Juga: Ornamen Gajah hingga Naga Hiasi Pusat Kota Solo: Ikut Meriahkan Waisak, dan Jadi Spot Foto yang Instagramable

Selain singgah di Mangkunegaran, para Bhikkhu Thudong juga mengikuti Kirab Kerukunan yang digelar Panitia Perayaan Waisak Bersama Kota Solo. Kirab berlangsung dari Loji Gandrung menuju Balai Kota Surakarta.

Sekitar 1.500 peserta dari berbagai unsur masyarakat dan lintas agama mengikuti kegiatan tersebut. Setiap agama turut mengirimkan perwakilan sebagai simbol persatuan dan toleransi antarumat beragama.

Chanda berharap keikutsertaan para Bhikkhu Thudong dalam kirab dapat memperkuat pesan perdamaian dan kerukunan menjelang Hari Raya Waisak.

Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Solo, para bhikkhu dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur pada Minggu (24/5) pagi untuk mengikuti puncak perayaan Waisak 2026.

Bhante Teja Punyo mengatakan kunjungan ke Pura Mangkunegaran menjadi pengalaman istimewa dalam perjalanan Thudong tahun ini. Ia mengaku merasa terhormat karena rombongan diterima langsung oleh KGPAA Mangkunegara X.

“Sebenarnya hari ini adalah hari yang istimewa karena beliau Adipati Mangkunegara X berkenan menerima kehadiran kami para bhikkhu yang melakukan perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak,” ujarnya.

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Disnakkan Boyolali Temukan 51 Kasus PMK Akibat Lonjakan Lalu Lintas Ternak

Menurut Bhante Teja Punyo, rombongan juga mendapat penjelasan mengenai sejarah, seni, dan budaya Mangkunegaran, termasuk hubungan historis antara Indonesia dan Thailand yang telah terjalin sejak ratusan tahun lalu.

“Tadi beliau memperkenalkan seni, budaya, bahkan hubungan yang luar biasa sejak ratusan tahun lalu, terutama dengan masyarakat Kerajaan Thailand. Ada banyak peninggalan sejarah yang harus kita jaga dan lestarikan bersama,” katanya.

Baca Juga: Terjaring Razia Skala Besar, Puluhan Pemuda Diminta Tuntun Motor ke Mapolres Sragen

Dia menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya bangsa. Sebab, tanpa kepedulian generasi muda, berbagai peninggalan budaya berisiko hilang ditelan zaman.

“Kalau kita sebagai generasi muda tidak mau mencintai dan melestarikan budaya sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya,” ucapnya.

Baca Juga: Curhat Pilu Pasoepati Usai Persis Solo Terdegradasi dari Panggung Super League 2025/2026: Ada Masalah Apa di Internal Klub?

Bhante Teja Punyo juga mengajak masyarakat untuk membangun perdamaian mulai dari diri sendiri. Menurutnya, kedamaian pribadi akan melahirkan keharmonisan dalam keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kedamaian di dalam diri sendiri akan menciptakan kedamaian di dalam keluarga. Kalau keluarga damai, masyarakat juga damai. Kalau masyarakat damai, negara juga damai,” tuturnya.

Baca Juga: Viral Link Video Kebaya Cokelat Muda Durasi 45 Detik Gegerkan Pemburu Tautan, Benarkah Ada atau Cuma Modus Berbahaya?

Dia berharap perjalanan Thudong yang melintasi Bali, Jawa Timur, Solo, hingga Borobudur dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menebarkan kebaikan dan menjaga kerukunan.

“Kalau tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan membuat persoalan. Tetapi kalau bisa berbuat baik, lakukanlah. Kita harus bersama-sama menciptakan kedamaian,” pungkasnya. (atn/nik) 

Editor : Niko auglandy
#waisak #bhikku #balai kota