RADARSOLO.COM – Pemandangan berbeda terlihat dalam rangkaian peringatan Waisak di Kota Solo, Minggu (24/5). Sebanyak 58 Bhikkhu Thudong dilepas dari Balaikota Surakarta oleh tokoh lintas agama dalam suasana penuh kehangatan dan semangat toleransi.
Momen itu menjadi simbol kuat keberagaman di Kota Bengawan, terlebih di tengah sorotan soal posisi Solo yang sempat terlempar dari daftar kota paling toleran di Indonesia.
Atraksi liong dan barongsai di depan Pasar Gede membuka penyambutan para bhikkhu yang menempuh perjalanan suci menuju Candi Borobudur dalam rangka Tri Suci Waisak.
Di sepanjang jalan, ratusan umat Buddha bersiap melakukan pindapata, tradisi memberikan sedekah makanan dan kebutuhan kepada para bhikkhu yang sedang menjalani perjalanan spiritual.
Tidak hanya disambut umat Buddha, para rohaniawan itu juga diterima hangat tokoh lintas agama di Balai Kota SoloW. Perwakilan agama Konghucu, Protestan, Katolik, Hindu, dan Islam tampak hadir dan memberikan penghormatan sebelum para bhikkhu melanjutkan perjalanan ratusan kilometer menuju Borobudur.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Kota Surakarta, Aryo Widyandoko, menilai kehadiran Bhikkhu Thudong di Solo menjadi bukti nyata praktik toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
“Kota Solo terpilih menjadi salah satu rute perjalanan penting Bhikkhu Thudong yang berasal dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia. Ini sangat penting karena masyarakat bisa melihat sendiri cara kita bertoleransi untuk semua agama dan kepercayaan yang ada di Kota Solo,” ujarnya.
Baca Juga: Perpustakan Masjid Nabawi, Penjaga Manuskrip Cahaya Ilmu Sang Nabi
Setelah dilepas dari Balaikota Surakarta, rombongan bhikkhu dijadwalkan singgah di sejumlah titik sebelum tiba di Borobudur. Salah satunya di Gereja Katolik Santa Maria, kemudian melanjutkan perjalanan ke Vihara Buddha Wangsa Klaten dan Yogyakarta sebelum menuju Magelang.
Panitia Waisak Kota Solo, Mettasiri Sutrisno, mengatakan rombongan diperkirakan tiba di Borobudur pada 29-30 Mei mendatang.
“Di Jogja akan disambut gubernur. Kira-kira sampainya tanggal 29-30 Mei,” katanya.
Sebelumnya, kemeriahan Waisak di Solo juga ditandai kirab budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan para Bhikkhu Thudong. Pada Sabtu (23/5), rombongan mengikuti kirab dari Loji Gandrung menuju Balaikota Surakarta.
Prosesi tersebut menjadi penegasan bahwa semangat kerukunan antarumat beragama di Solo masih terjaga kuat.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyebut kehadiran Bhikkhu Thudong di Solo menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.
“Kami sangat bangga karena yang lama kita harapkan akhirnya kesampaian, Bhikkhu Thudong bisa singgah di Kota Solo. Terima kasih untuk semua masyarakat, Kota Solo terbuka untuk siapapun, bagi kepercayaan dan agama apa pun, termasuk untuk pelaksanaan upacara adat dan sejenisnya,” ucapnya.
Menurut Respati, prosesi tersebut sekaligus menunjukkan kuatnya karakter Surakarta sebagai kota yang menjunjung kebersamaan, kerukunan, dan penghormatan lintas iman. (ves)
Editor : Kabun Triyatno