RADARSOLO.COM - Imam Besar Islamic Center of New York Muhammad Syamsi Ali menilai Amerika Serikat tengah menghadapi persoalan moral dan sosial yang serius di tengah dominasi kekuatan ekonomi dan militernya. Dalam situasi tersebut, Islam justru dinilai hadir sebagai kekuatan moral dan jalan penyelamatan bagi masyarakat Barat.
Pandangan itu disampaikan Syamsi Ali saat menjadi pembicara kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis lalu (21/5/2026).
Menurutnya, selama hampir tiga dekade tinggal di Kota New York, ia melihat langsung bagaimana masyarakat Amerika mengalami kegelisahan sosial, krisis spiritual, hingga problem keluarga dan kemanusiaan yang semakin kompleks.
“Kehadiran dakwah Islam di Amerika bukan ancaman, tapi adalah salvation atau penyelamatan. Amerika adalah lahan dakwah yang sangat subur,” ujarnya.
Syamsi Ali mengatakan, banyak masyarakat Amerika mulai mencari nilai-nilai spiritual baru di tengah kehidupan modern yang serba materialistik. Dalam kondisi itu, Islam dipandang menawarkan ketenangan, kedisiplinan hidup, serta nilai kemanusiaan yang kuat.
Dia bahkan menilai tragedi September 11 attacks atau 9/11 justru menjadi titik balik meningkatnya rasa ingin tahu masyarakat Amerika terhadap Islam.
“Setelah tragedi 9/11, orang-orang di Amerika justru berbondong-bondong belajar dan masuk Islam,” katanya.
Menurut Syamsi Ali, meski pasca 9/11 umat Islam menghadapi stigma dan tekanan cukup besar, kondisi itu sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas tentang Islam di tengah masyarakat Barat.
Dia menilai tantangan dakwah di Amerika saat ini bukan lagi sekadar persoalan identitas agama, tetapi bagaimana umat Islam mampu menunjukkan nilai universal Islam melalui perilaku sosial, toleransi, dan kontribusi nyata di masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Syamsi Ali juga menceritakan perjalanan hidupnya hingga menjadi tokoh Islam di Amerika Serikat. Alumni Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara itu mengawali perjalanan internasionalnya melalui seni bela diri Tapak Suci sebelum mendapat beasiswa pendidikan ke Pakistan dan mengajar di Arab Saudi.
“Sekarang ini sudah hampir 30 tahun di Kota New York. Rasa-rasanya hidup saya lebih banyak di luar negeri. Tapi saya cinta Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III UMS Mutohharun Jinan mengatakan kuliah umum tersebut menjadi ruang penting bagi sivitas akademika untuk memahami perkembangan Islam di dunia Barat secara langsung dari pelaku dakwah internasional.
Menurutnya, pengalaman Syamsi Ali menunjukkan bahwa Islam dapat berkembang di tengah masyarakat multikultural selama mengedepankan nilai kemanusiaan dan dialog terbuka. (*)
Editor : Kabun Triyatno