Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kaki Lecet dan Berdarah, Para Biksu Tudong Tetap Jalan Demi Sebarkan Perdamaian: Pesan Toleransi ke Warga Solo Ternyata Cukup Mengharukan

Alfida Nurcholisah • Minggu, 24 Mei 2026 | 20:03 WIB

BERBAGI: Seorang penjual bakpao memberikan barang jualannya kepada biksu yang tengah melintas melakukan tudong. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

BERBAGI: Seorang penjual bakpao memberikan barang jualannya kepada biksu yang tengah melintas melakukan tudong. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Langkah kaki para biksu tampak pelan, namun mantap saat menyusuri jalanan di Kota Solo. Di bawah terik matahari, kaki-kaki mereka yang mulai lecet dan sobek tetap bergerak menuju satu tujuan, menebarkan kedamaian. 

Ang Kip, 50, warga Cirebon yang menjadi 'dayaka' atau pendamping perjalanan para biksu. Tudong bukan sekadar perjalanan fisik. Di balik setiap langkah, ada pesan tentang toleransi, cinta kasih, dan pembuktian bahwa perdamaian bisa diciptakan.

“Motivasi kami menyebarkan toleransi. Karena saya melihat di berita-berita luar negeri, Indonesia sering dimunculkan sebagai negara yang tidak toleran. Makanya kami menyebarkan perdamaian dengan berjalan,” ujarnya saat ditemui di Gereja Santa Maria, Kartasura, Minggu (24/5).

Baca Juga: Klasemen Akhir Liga 1 2025/2026: Persib Bandung Juara, Tiga Tim Termasuk Persis Solo Dipastikan Terdegradasi ‎

Ini menjadi pengalaman kedua bagi Ang Kip mengikuti perjalanan panjang tudong. Pada 2023 lalu, dia pernah mendampingi perjalanan kaki para biksu dari Thailand, Singapura, hingga Indonesia dengan tujuan akhir Borobudur. Tahun ini, perjalanan kembali dilakukan menyambut Waisak.

Rute perjalanan dimulai dari Bali sejak 8 Mei lalu, kemudian melintasi Jawa Timur dan Jawa Tengah sebelum akhirnya tiba di Borobudur. Selama perjalanan, para biksu berjalan kaki sambil membawa petta (mangkuk biksu), jubah, tongkat dan perlengkapan pribadi.

Baca Juga: "Kami Tidak Akan Membiarkan Air Mata Kalian Sia-Sia": Pesan Menyentuh Direktur Persis Solo Usai Tim Terdegradasi ke Liga 2

Menurut Ang Kip, tradisi tudong sebenarnya lazim dilakukan para biksu mengitari sejumlah negara seperti Thailand, India, Pakistan, bahkan Afghanistan. Namun Indonesia sebelumnya jarang dilalui.

“Itu yang menjadi motivasi kami. Indonesia harus dilewati karena banyak candi-candi dan sejarah buddha di sini. Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia negara yang sangat toleran,” katanya.

Pembuktian itu dirasakan langsung sepanjang perjalanan. Tidak hanya umat buddha, banyak warga dari latar belakang agama berbeda turut membantu para biksu dengan memberikan makanan, air minum, tempat istirahat hingga donasi.

“Banyak umat non-buddha membantu dan berbuat baik kepada para biksu yang berjalan,” ujarnya.

Perjalanan ini bukan hal mudah. Beragam dokumen harus disiapkan, mulai dari paspor, pemeriksaan kesehatan, hingga kesiapan mental para biksu untuk berjalan ratusan kilometer. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari diri sendiri.

“Persiapannya lebih ke mental. Kalau rasa sakit semua orang pasti merasakan sakit. Tapi yang dijaga adalah tekad,” tutur Ang Kip mengusap keringat yang membasahi wajahnya.

Tekad itu diuji tiap jejak perjalanan setiap harinya. Kaki para biksu kerap luka akibat berjalan jauh di bawah panas matahari. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan.

“Lukanya sampai sobek-sobek cukup dalam. Tapi kami tetap berjalan,” katanya sembari melepas plaster di kaki.

Baca Juga: Jefferson, Maricic, dan Tumbas Menangis Usai Persis Solo Terdegradasi, Milo: Persis Tak Pantas Turun Kasta, Tapi Inilah Sepak Bola

Bagi para biksu, penderitaan fisik merupakan bagian dari latihan spiritual. Tudong dimaknai sebagai bentuk spiritual tertinggi sebagai penerimaan diri bahwa hidup terus berubah dan tidak ada yang kekal.

“Tudong ini bentuk spiritual tertinggi. Bahwa penderitaan tidak bisa dihindari tapi harus dirasakan. Semua akan berubah. Umur, fisik, kecantikan, keadaan, tidak ada yang tetap,” jelasnya.

Baca Juga: Curhat Pilu Pasoepati Usai Persis Solo Terdegradasi dari Panggung Super League 2025/2026: Ada Masalah Apa di Internal Klub?

Sebelum perjalanan dimulai, para biksu menjalani ritual penyucian diri atau 'pariwasakama'. Dalam proses itu, mereka melatih batin untuk melepaskan ego, kebencian, dan keterikatan duniawi demi mencapai kedamaian.

Disiplin hidup para biksu juga sangat ketat. Ang Kip menjelaskan seorang biksu memiliki 227 aturan yang harus dipatuhi. Mereka hanya boleh makan pada pukul 11.00 hingga 12.00 siang, tidak boleh menggunakan wewangian maupun perhiasan, serta tidur di tempat yang tingginya tidak lebih dari 30 sentimeter.

Meski demikian, Ang Kip menilai inti ajaran kebaikan sejarinya dapat dilakukan siapa saja, termasuk umat awam.

“Hati kita harus tetap baik, karena baik dan buruknya akan kembali kepada diri kita sendiri,” katanya.

Di tengah perjalanan, Ang Kip menceritakan sambutan baik dari berbagai umat di beberapa wilayah. Salah satunya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di sana mereka berdoa untuk mendiang Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Kami mendoakan Gus Dur karena beliau membawa nilai toleransi. Kami tidak memandang suku, ras, atau bentuk fisik,” ujarnya.

Bagi rombongan tudong, Waisak bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan perdamaian yang bisa diwujudkan lewat tindakan nyata. “Damai itu bisa kita ciptakan. Damai itu ada kalau kita mau,” tutupnya. (alf/nik)

Editor : Niko auglandy
#Tudong #waisak #solo #borobudur #biksu