RADARSOLO.COM – Persoalan sampah domestik atau rumah tangga di Kota Solo kian menjadi sorotan tajam. Volume pembuangan yang terus meroket setiap hari membuat kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo semakin terbebani.
Di tengah ancaman darurat lingkungan tersebut, muncul gerakan swadaya masyarakat yang mencoba mengubah cara pandang warga terhadap sampah, bukan lagi sekadar sebagai limbah buangan semata, melainkan instrumen ekonomi baru berbasis keluarga.
Isu krusial itu mengemuka dalam pelatihan bertajuk “Rahasia Sampah Jadi Berkah” yang diinisiasi oleh Bipeka DPC PKS Banjarsari Selatan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum edukasi teknis, melainkan juga ruang bedah strategi mengenai mitigasi ancaman serius persoalan sampah perkotaan di masa mendatang.
Pakar lingkungan sekaligus Ketua Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim DPD PKS Solo Dian Kresnadipayana menilai penyelesaian tata kelola sampah saat ini tidak lagi bisa diselesaikan secara parsial dengan hanya mengandalkan program pemerintah atau hilir mudik armada truk pengangkut. Menurutnya, episentrum persoalan terbesar justru berada di tingkat hulu, yaitu rumah tangga.
Baca Juga: Mobil Listrik iCar V23 Resmi Meluncur, SUV Mobil Listrik Bergaya Off-Road dengan Jarak Tempuh 501 Km
“Selama ini masyarakat berpikir tugas mereka sudah tuntas ketika sampah dimasukkan ke tempat sampah depan rumah lalu diangkut petugas. Padahal, persoalan lingkungan yang sesungguhnya baru dimulai ketika seluruh sampah campur baur itu menumpuk di TPA,” ujar Dian, Senin (25/5/2026).
Dian menjelaskan, pola konsumsi masyarakat perkotaan modern saat ini turut andil memicu lonjakan volume limbah secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya ketergantungan pada plastik sekali pakai, bungkus kemasan makanan instan, hingga budaya belanja praktis menjadi stimulan utama.
Di sisi lain, daya tampung lahan TPA memiliki batas maksimal. Jika tidak diimbangi dengan draf kebijakan pengurangan dari sumber asalnya, maka bencana overload TPA hanya tinggal menunggu waktu.
Baca Juga: Daftar Mobil Harian Keluarga yang Masih Bisa Isi Pertalite, Budget Beli BBM Jadi Lebih Irit!
Sebagai solusi konkret, Dian mendesak adanya perubahan mindset kolektif agar pengelolaan sampah wajib diselesaikan secara mandiri sejak dari dapur rumah.
Secara teknis, pemilahan minimal dibagi ke dalam tiga draf kategori besar untuk mengaktifkan perputaran ekonomi sirkular. Sampah organik berupa sisa makanan dan dapur dapat langsung diolah mandiri menjadi pupuk kompos atau dialokasikan sebagai media pakan budidaya maggot BSF yang bernilai ekonomi tinggi.
Sampah nonorganik berupa plastik bersih, kertas, botol, dan kaleng dipisahkan karena memiliki nilai jual yang tinggi dan dapat disetorkan ke bank sampah terdekat.
Sampah residu yaitu kategori sampah yang benar-benar tidak bisa diolah lagi (seperti popok sekali pakai atau pembalut), inilah yang barulah layak diangkut ke TPA.
Potensi Ekonomi Sampah: “Jika dikelola secara serius dan konsisten, sampah ini bisa dikonversi menjadi tabungan alternatif keluarga. Ada draf barang yang bernilai jual langsung, dan ada yang bisa didegradasi menjadi produk turunan bernilai ekonomi,” imbuh Dian.
Meski formulanya sederhana, forum tersebut juga menguliti berbagai kendala riil di lapangan. Salah satu batu sandungan terbesar adalah masih rendahnya kesadaran personal warga untuk memilah. Kebanyakan warga masih menganggap aktivitas memisahkan sampah sebagai hal yang merepotkan dan membuang waktu.
Selain itu, eksistensi bank sampah di sejumlah kelurahan di Solo dinilai belum berjalan optimal lantaran angka partisipasi warga yang fluktuatif. Tidak sedikit program pemilahan di tingkat rukun tetangga (RT) mati suri di tengah jalan akibat kelangkaan pendampingan struktural serta pudarnya konsistensi masyarakat.
Melalui gerakan edukasi ini, Bipeka PKS Banjarsari Selatan menargetkan lahirnya kesadaran kolektif yang ajek. Pengurangan volume sampah wajib dimulai dari unit terkecil masyarakat demi menjaga keberlangsungan daya dukung lingkungan hidup di Kota Solo agar tidak semakin berat. (atn)
Editor : Kabun Triyatno