RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengeluarkan instruksi tegas menjelang perayaan Idul Adha 2026. Para juru jagal, Juru Sembelih Halal (Juleha), serta seluruh pengurus takmir masjid yang mengelola penyembelihan hewan kurban diminta untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai sebagai wadah pembungkus dan distribusi daging. Langkah preventif ini ditempuh sebagai upaya nyata menekan lonjakan produksi sampah plastik di Kota Bengawan.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengimbau masyarakat yang terlibat dalam kepanitiaan kurban untuk beralih memanfaatkan material alternatif yang jauh lebih akrab lingkungan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya pembagian daging identik dengan kantong kresek, tahun ini Pemkot Solo menghendaki draf budaya baru yang lebih hijau.
Baca Juga: Dispertan PP Karanganyar Terjunkan Petugas Pengawas Kurban, Sempat Temukan Kondisi Lemas
“Saya memohon dengan sangat kepada seluruh panitia untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat pembagian daging kurban. Khusus di Kota Solo, mari kita gunakan besek bambu, daun pisang, atau wadah lain yang ramah lingkungan dan bisa dipakai kembali oleh masyarakat,” tegas Respati Ardi, Senin (25/5/2026).
Pesan kelestarian lingkungan tersebut sebelumnya juga telah diamplifikasi oleh Wali Kota dalam draf kegiatan kolektif "Sangu Jagal 2" yang dihelat di Masjid Agung Solo, Minggu (24/5) lalu. Di hadapan ratusan perwakilan Juleha se-Solo Raya, Pemkot Solo mewanti-wanti agar esensi penyembelihan hewan kurban wajib menyelaraskan aspek syariat dengan aspek kebersihan lingkungan (green qurban).
Baca Juga: Mikrofon Sufmi Dasco Bocor Bilang 'Jangan Teriak Hidup Jokowi', Begini Respons Santai Eks Presiden
Selain masalah wadah daging, Respati juga menyoroti draf penanganan limbah biologis pasca-penyembelihan yang kerap memicu keluhan aroma tidak sedap di tengah permukiman warga.
Memilih area penyembelihan yang memiliki jarak aman dan tidak berdekatan dengan instalasi sumur air bersih warga atau aliran sungai. Melarang keras draf pembuangan darah hewan langsung ke selokan umum atau area terbuka. Darah wajib ditampung di lubang khusus.
Menggunakan lapisan terpal tebal atau permukaan semen sebagai alas pencacahan, sehingga darah dan kotoran tidak langsung merembes ke tanah atau mencemari lingkungan.
Baca Juga: Belanja Pegawai Ambyar Tembus 36 Persen, Pemkot Solo Stop Rekrutmen Baru dan Hitung Ulang ABK
Ditemui secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Peternakan (Dispartan KPP) Kota Solo Wahyu Kristina menyatakan kesiapan jajarannya untuk mengawal penuh instruksi dari wali kota tersebut. Pihaknya sepakat bahwa draf pengurangan sampah plastik harus dimulai dari komitmen takmir masjid di tingkat rukun tetangga (RT).
“Kami sangat mendukung instruksi Mas Wali. Selama ada opsi material lain yang lebih aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, mengapa tidak kita maksimalkan? Penggunaan besek bambu juga sekaligus membantu menggerakkan roda ekonomi perajin lokal,” tutur perempuan yang akrab disapa Inna tersebut.
Inna menambahkan, pada hari H pelaksanaan Iduladha nanti, Dispartan KPP Kota Solo akan menerjunkan tim teknis yang akan berkeliling melakukan monitoring secara acak di lima kecamatan.
Petugas lapangan tidak hanya akan menguji kelayakan draf kesehatan daging kurban (post-mortem), melainkan juga melayangkan draf evaluasi langsung terhadap bagaimana sistem pengelolaan limbah karkas dan penerapan wadah non-plastik di setiap titik lokasi penyembelihan. (ves)
Editor : Kabun Triyatno