RADARSOLO.COM – Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret oknum dosen di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Solo berbuntut panjang.
Seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris berinisial N mengaku menjadi sasaran teror dan intimidasi oleh akun anonim di media sosial.
Teror tersebut ia terima usai mengunggah ulang pemberitaan mengenai kasus pelecehan di lingkungan kampusnya tersebut di media sosial (medsos).
N membeberkan, dirinya pertama kali membagikan ulang tautan berita terkait kasus tersebut melalui fitur Instagram Story pribadinya pada 21 dan 23 Mei 2026.
Baca Juga: SPEK-Ham Sarankan Mahasiswi UIN Solo Korban Dosen Prdator Untuk Cari Pendampingan Di Luar Institusi
Alasan utamanya mengunggah berita tersebut murni karena merasa kasus ini krusial dan perlu mendapat perhatian publik secara luas.
Namun, sehari pasca-unggahan itu, ia dikejutkan oleh kiriman pesan singkat (Direct Message/DM) dari sebuah akun misterius yang langsung melayangkan serangkaian ancaman.
“Di DM itu dia langsung menyertakan nama, NIM, dan fakultas aku. Dia gak mau kalau kasusnya diramaikan. Sampai ngancem nilai aku dan mau nyebar dokumentasiku katanya,” ungkap N saat dimintai keterangan pada Senin (25/5/2026).
Baca Juga: Dosen Predator FEBI UIN Solo Dinonaktifkan, Kembali Ancam Korban Ungkit Nilai Matkul Tidak Lulus
N pun menegaskan adanya kejanggalan dalam aksi teror ini.
Pasalnya, ia bukan merupakan mahasiswa dari fakultas yang sedang tersangkut isu tersebut, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).
Serta tidak memiliki relasi personal apa pun dengan pihak terduga pelaku.
“Aku tidak pernah interaksi sama dia (oknum dosen). Aku juga gak pernah stalking dosen itu, aku cuma naikin berita yang ada. Kebanyakan yang banyak ancaman anak FEBI, sedangkan aku bukan korban ataupun punya kenalan dari fakultas itu,” terangnya.
Sebagai mahasiswi yang saat ini duduk di semester 6, N mengaku kaget karena selama ini dirinya tidak pernah menonjol atau vokal dalam pergerakan politik mahasiswa di kampus.
Kesehariannya di lingkungan akademik hanya berjalan normatif sebagai mahasiswa biasa yang langsung pulang selepas jam perkuliahan selesai.
Mahasiswa Takut Diancam Nilai Kelulusan
Berdasarkan kesaksian N, iklim ketakutan dan bungkam saat ini tengah menyelimuti sebagian besar mahasiswa aktif di UIN Raden Mas Said Solo terkait pengawalan isu pelecehan ini.
Menurut dia, banyak mahasiswa sebenarnya mengetahui adanya ancaman terhadap pihak-pihak yang mencoba menyoroti kasus tersebut.
Namun, mereka memilih diam karena takut dengan adanya ancaman tidak diluluskan.
“Temen kelasku bilang banyak mahasiswa yang masih aktif tidak berani meramaikan kasusnya karena takut diancam nilai kelulusan,” tutur dia.
Baca Juga: Sema FEBI Sorot Kinerja Satgas UIN Solo, 13 Korban Pelecehan Seksual Dosen Belum Dapat Pendampingan
Sebagai langkah preventif perlindungan diri, N memutuskan untuk mengunggah tangkapan layar (screenshot) pesan ancaman tersebut ke medsos demi mengumpulkan bukti-bukti digital yang kuat jika intimidasi terus berlanjut.
“Aku nge-up itu karena menurutku kalau aku diancam aku harus ngumpulin bukti-buktinya. Jadi aku share di sosmed supaya banyak yang notice,” ujarnya.
Meski mengaku takut karena masih berstatus mahasiswa semester 6, Nayla menegaskan dirinya merasa tidak melakukan kesalahan.
Namun ia mengakui sempat menyinggung pihak rektorat dalam caption unggahannya.
“Aku takut ya karena masih semester 6. Tapi gak sampai paranoid, karena aku gak salah,” lanjut dia.
Untuk saat ini, N mengaku belum menerima ancaman lanjutan.
Namun jika intimidasi kembali terjadi, dia telah mempertimbangkan akan melapor ke polisi karena menganggap tindakan tersebut sebagai kejahatan siber.
“Kalau ancaman ini berlanjut sampai minggu depan aku mau lapor ke polres. Ancaman ini kejahatan siber,” ucapnya.
Di sisi lain, N juga menyayangkan minimnya kepedulian dan pergerakan dari organisasi internal mahasiswa tingkat tinggi di kampusnya dalam mengawal isu kekerasan seksual maupun perlindungan saksi.
“Aku rasa dari pihak DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) dan SEMA (Senat Mahasiswa) univ juga gak bergerak,” cetusnya.
Lebih kanjut, N mengaku saat ini justru jauh lebih mengkhawatirkan dampak sosiologis berupa victim blaming (menyalahkan korban/pihak yang bersuara) dari lingkaran pertemanan mahasiswa sendiri dibanding gertakan akun anonim tersebut.
Kendati demikian, ia bersyukur karena gelombang dukungan moral dari orang-orang terdekatnya tetap mengalir kuat untuk menguatkan mentalnya. (alf/ria)
Editor : Syahaamah Fikria