RADARSOLO.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo resmi menggeser parameter keberhasilan penyelenggaraan acara di Kota Bengawan. Ke depan, kesuksesan sebuah acara tidak lagi diukur dari seberapa padatnya lautan manusia atau kemeriahan seremonialnya, melainkan dari seberapa besar dampak finansial yang berputar langsung di kantong masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Komitmen ini ditegaskan oleh Wali Kota Solo Respati Ardi menyusul kesuksesan besar rangkaian event Adeging Mangkunegaran 2026 yang di dalamnya mengemas ajang lari bergengsi, Mangkunegaran Run. Event ini dinilai sukses menjadi contoh utama model sport tourism (wisata olahraga) yang ideal.
Baca Juga: Marc Marquez Datang ke MotoGP Italia 2026, Sinyal Bakal Balapan di Mugello? Ini Kondisi Terbarunya
Berdasarkan hasil riset komprehensif dari Katadata Insight Center yang dipaparkan langsung kepada Wali Kota, Mangkunegaran Run yang digulirkan pada 3 Mei 2026 lalu berhasil menyedot 7.750 pelari. Luar biasanya, para peserta tersebut datang dari 22 negara yang berbeda.
Perpaduan apik antara olahraga dan wisata sejarah-budaya ini otomatis memperkuat posisi Solo sebagai salah satu kandidat terkuat destinasi sport tourism utama di Indonesia.
Baca Juga: Dukung Liga Basket Junior Solo, Wawali Astrid Janjikan Upgrade Fasilitas Olahraga
“Mulai sekarang, setiap event di Kota Solo harus memprioritaskan dampak ekonomi ril dan penguatan branding kota. Acara harus memberikan manfaat nyata bagi ekosistem lokal, mulai dari perhotelan, kuliner, UMKM, transportasi, hingga sektor ekonomi kreatif,” tegas Wali Kota Respati Ardi, Kamis (28/5).
Merujuk pada data riset Katadata Insight Center, Respati memaparkan angka yang fantastis. Dampak ekonomi yang bergerak dan berputar di Solo selama rangkaian Adeging Mangkunegaran 2026 berlangsung sukses menyentuh angka Rp87,9 miliar.
Angka tersebut menunjukkan lonjakan eksponensial sebesar 119,8 persen jika dibandingkan dengan penyelenggaraan di tahun 2025 lalu.
Baca Juga: Suzuki Fronx E100 Segera Meluncur, Jadi Mobil Bahan Bakar Etanol Massal Pertama Suzuki?
Melalui metode survei terhadap 320 responden yang mencakup pelari, pengunjung, dan pelaku usaha, riset tersebut memotret profil pengeluaran (spending) para peserta lari mancanegara dan luar kota yang tergolong tinggi. Angka pengeluaran per individu dalam event ini bahkan berani diadu dengan event lari skala nasional hingga internasional lainnya.
“Jika sebuah event dikurasi secara profesional dan matang, ia pasti mampu menjadi mesin penggerak ekonomi lokal yang kuat. Solo itu punya modal besar di sektor budaya, kuliner yang otentik, keramahan masyarakat, hingga ketersediaan ruang publik yang estetik,” papar Respati.
Respati menambahkan, formula sukses ini harus segera diadopsi oleh seluruh penyelenggara acara yang ingin masuk ke kalender wisata Solo. Pemerintah kota tidak ingin kecolongan memfasilitasi acara yang hanya menyisakan sampah atau kemacetan lalu lintas, tanpa memberikan efek kesejahteraan bagi warga lokal.
“Ketika semua potensi itu dikemas dengan manajemen yang rapi, dampaknya akan langsung dirasakan oleh pedagang kecil dan memberikan kesan mendalam di ingatan siapa pun yang datang ke Solo. Ini harus jadi standar baku baru bagi kita semua: ramai saja sudah tidak cukup, event harus bisa menghidupkan ekonomi rakyat,” ujar wali kota. (ves)
Editor : Kabun Triyatno