RADARSOLO.COM – Pelajaran sejarah di sekolah sering kali diidentikkan dengan tumpukan buku tebal, hafalan tahun yang menjemukan, serta metode ceramah yang monoton. Bergerak mendobrak stigma usang tersebut, Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) resmi menggeber Program GEMAS (Gerakan Cinta Sejarah Masuk Sekolah) sejak April lalu.
Gebrakan ini dirancang untuk mengemas ulang narasi masa lalu menjadi sebuah petualangan edukatif yang interaktif, segar, dan relevan dengan gaya hidup digital generasi muda di Kota Bengawan.
Potret keseruan Program GEMAS salah satunya terlihat jelas saat Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, meninjau langsung praktik pembelajaran interaktif di SMP Warga, Jumat (29/5/2026).
Di hadapan para siswa, perempuan yang akrab disapa Mbak Wawali ini menegaskan bahwa tantangan terbesar mengajar sejarah hari ini adalah memenangkan perhatian anak-anak yang tumbuh di era gempuran informasi instan.
"Pembelajaran sejarah saat ini tidak bisa lagi konvensional, melainkan harus dikemas secara menarik dan memanfaatkan ekosistem multiplatform. Anak-anak zaman sekarang adalah digital native yang sangat memahami teknologi. Karena itu, pendekatan kita yang harus menjemput mereka agar materi sejarah lokal lebih mudah diterima dan diresapi," ujar Astrid di sela kegiatan.
Baca Juga: Pria Telanjang Terekam CCTV Berkeliaran di Gondangrejo Karanganyar
Lebih dari sekadar mengejar nilai akademis, Astrid menilai penguatan literasi sejarah merupakan investasi krusial untuk membentuk karakter dan identitas kokoh pada generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, Gen Z kerap menjadi sasaran empuk disinformasi dan hoaks sejarah yang kabur kebenarannya.
Melalui Program GEMAS, Pemkot Solo ingin menyediakan ruang klarifikasi edukatif yang valid namun tetap menghibur.
"Belajar sejarah itu bukan sekadar menghafal apa yang terjadi di masa lalu. Ini adalah fondasi untuk memahami jati diri, menghargai darah juang para pendahulu, sekaligus menjadi bahan bakar inspirasi bagi anak-anak untuk ikut membangun masa depan Kota Solo yang lebih maju," imbuh Astrid melihat antusiasme tinggi para siswa.
Baca Juga: Ditemukan Lima Stupa Candi, BPK Jateng Duga Desa Nepen Boyolali Bekas Permukiman Buddha Abad Ke-8
Cetak biru Program GEMAS tahun 2026 ini dirancang tidak main-main. Kepala Disbudpar Kota Solo Mareta Dinar Cahyono, memaparkan bahwa program ini memiliki garis waktu (timeline) pelaksanaan yang panjang, mulai dari April hingga Oktober 2026 mendatang.
Secara kumulatif, program edukasi budaya ini membidik total 20 sekolah menengah pertama di Solo, yang terdiri atas 13 SMP negeri dan 7 SMP swasta, dengan target jangkauan mencapai 5.450 siswa.
Guna menjaga mutu dan validitas konten sejarah yang diajarkan, Disbudpar Solo menggandeng para akademisi dan sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sebagai narasumber utama.
"Kami tidak hanya membedah manuskrip sejarah, tetapi juga menyuntikkan materi etika budaya Jawa serta pemetaan potensi kepariwisataan Solo. Melihat respons yang sangat positif dari para pelajar dan guru, kami berharap Program GEMAS tidak berhenti di tahun ini saja, melainkan menjadi agenda tahunan wajib bagi seluruh SMP di Surakarta," pungkas Mareta optimistis. (ves)
Editor : Kabun Triyatno