RADARSOLO.COM - Wayang suket, salah satu warisan budaya tradisional Indonesia yang mulai jarang dikenal generasi muda, diperkenalkan kembali kepada masyarakat melalui workshop gratis di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (31/5).
Kegiatan yang digelar Komunitas Wayang Suket Indonesia tersebut mengajak pengunjung belajar membuat wayang suket sekaligus mengenal nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Salah satu peserta, Khoirunnisa Maria Azhar siswi kelas 10 mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman baru yang berbeda dari pengenalan wayang pada umumnya.
“Biasanya yang saya tahu ada wayang kulit dan wayang beber, tetapi ini ada wayang suket. Menurut saya inovasi ini menarik karena berbeda dan unik. Cara pembuatannya juga mudah dan menyenangkan,” ujarnya.
Baca Juga: Teror Pocong Viral, Polresta Solo Ingatkan Modus Kejahatan Berkedok Menakut-nakuti Warga
Menurut Khoirunnisa, permainan dan budaya tradisional saat ini memang mulai jarang ditemui di kalangan anak muda. Bahkan dia mengaku sudah jarang memainkan permainan tradisional.
“Permainan tradisional sekarang sudah jarang dimainkan. Saya sendiri paling hanya sesekali main dakon atau petak umpet,” katanya.
Sementara itu, founder Komunitas Wayang Suket Indonesia Gaga Rizky menjelaskan, komunitas tersebut telah berdiri di Solo sejak 2018.
Baca Juga: Pelaku Percobaan Pencurian di Proyek Pembangunan Rumah di Solo Diamankan, Ini Kronologinya
Selama ini mereka aktif menjalankan empat program utama, yakni pementasan, workshop pengenalan dan pembuatan wayang suket, pameran, serta kegiatan sosial.
“Untuk kegiatan sosial, biasanya kami membuat karya yang hasil penjualannya 100 persen didonasikan kepada korban bencana. Selain itu kami juga mengadakan pertunjukan untuk trauma healing anak-anak di daerah terdampak bencana,” jelasnya.
Komunitas tersebut juga rutin mengadakan program edukasi bertajuk "Dolan Sekolahan" yang bertujuan mengenalkan wayang suket kepada pelajar melalui berbagai aktivitas budaya.
“Beberapa waktu lalu kami mengadakan Dolan Sekolahan. Kegiatannya mengajak anak-anak belajar dan mengenal kebudayaan wayang suket Indonesia secara langsung,” tambahnya.
Dalam kegiatan CFD kali ini, pengunjung diajak membuat wayang suket secara gratis dan hasil karya mereka dapat dibawa pulang.
Gaga mengatakan, pembuatan wayang suket relatif mudah dipelajari karena hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit.
“Kami mengajarkan bentuk dasar wayang suket yang terdiri dari empat karakter utama, yaitu laki-laki alus, laki-laki gagah, perempuan, dan anak-anak. Proses pembuatannya cukup sederhana sehingga bisa diikuti semua kalangan,” ujarnya.
Menurut Gaga, wayang suket sebenarnya bukan budaya baru, melainkan warisan leluhur yang telah ada sejak lama.
Namun minimnya eksposur membuat kesenian tersebut kurang dikenal oleh generasi muda saat ini.
“Kami ingin memperkenalkan kembali wayang suket sebagai salah satu warisan budaya bangsa Indonesia. Ini bukan inovasi baru, tetapi budaya lama yang mulai terlupakan. Banyak anak muda sekarang yang belum pernah mengenalnya,” katanya.
Meski eksistensi wayang suket masih terbatas dan jumlah pelakunya tidak banyak, Gaga optimistis kesenian tersebut tetap memiliki peluang berkembang apabila dikemas dengan pendekatan yang menarik. (alf/nik)
Editor : fery ardi susanto