RADARSOLO.COM - Komunitas Reptil Zona Solo (Krez) rutin menggelar sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di Solo, terutama saat gelaran car free day (CFD) berlangsung tiap hari Minggu pagi.
Melalui kegiatan ini, warga diajak mengenal berbagai jenis reptil sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang cara perawatan hingga penanganan ular yang masuk ke lingkungan permukiman.
Salah satu anggota komunitas Endrew mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengubah stigma negatif masyarakat terhadap reptil, khususnya ular, melalui pendekatan edukatif dan interaktif.
"Kami sosialisasi dan edukasi masyarakat setiap Minggu di CFD. Kami mengenalkan berbagai jenis hewan reptil sekaligus memberikan edukasi tentang cara merawat reptil dan penanganan jika ada ular yang masuk ke rumah warga," ujarnya, Minggu (31/5).
Baca Juga: Wayang Suket Kembali Menggeliat, Ajarkan Cara Pembuatan Ke Anak-Anak di Solo CFD
Pada kesempatan tersebut, komunitas membawa berbagai jenis reptil koleksi anggota. Hewan-hewan yang ditampilkan merupakan milik pribadi anggota komunitas yang telah dipelihara sejak kecil sehingga terbiasa berinteraksi dengan manusia.
"Hewan yang kami bawa tergantung koleksi masing-masing keeper. Kalau keeper yang datang koleksinya lengkap, hewan yang dibawa juga lebih beragam. Semua yang kami tampilkan di sini merupakan hewan peliharaan anggota komunitas dan sudah jinak karena dirawat sejak kecil," jelasnya.
Berbagai jenis reptil yang dipamerkan antara lain ular sanca, ular pelangi, sejumlah jenis ular albino maupun normal, serta beberapa spesies gecko hingga buaya.
Beberapa ular yang dibawa bahkan memiliki ukuran cukup besar dengan berat mencapai 30 kilogram dan panjang sekitar empat meter.
Baca Juga: Teror Pocong Viral, Polresta Solo Ingatkan Modus Kejahatan Berkedok Menakut-nakuti Warga
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat sejumlah satwa eksotis lain seperti biawak Sulawesi, kadal Papua, kadal panana, dan berbagai jenis gecko yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Meski memperkenalkan beragam jenis ular, komunitas ini hanya membawa ular yang tidak berbisa ke area CFD demi alasan keamanan.
Menurut Endrew, komunitas juga memiliki koleksi ular berbisa, namun tidak ditampilkan dalam kegiatan yang melibatkan masyarakat umum.
"Kami mengenalkan berbagai jenis ular, tetapi yang dibawa ke CFD hanya ular yang tidak berbisa. Ular venom memang ada di komunitas, tetapi tidak kami bawa karena faktor keselamatan," katanya.
Ia menambahkan, materi edukasi yang paling sering disampaikan kepada masyarakat yakni mengenai cara menghadapi ular yang masuk ke rumah dan langkah-langkah pencegahan agar ular tidak memasuki lingkungan tempat tinggal.
Menurutnya, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis ular masih menjadi persoalan serius.
Baca Juga: Pelaku Percobaan Pencurian di Proyek Pembangunan Rumah di Solo Diamankan, Ini Kronologinya
Tidak sedikit warga yang mencoba menangani ular tanpa memahami tingkat bahayanya, sehingga berpotensi menimbulkan korban.
"Karena ketidaktahuan, kadang masyarakat langsung memegang ular tanpa mengenali jenisnya. Padahal ada penanganan khusus seperti tidak boleh tidur sampai mendapatkan pertolongan medis," ujarnya.
Melalui edukasi rutin di CFD, dia berharap masyarakat dapat lebih mengenal reptil secara benar, tidak mudah panik saat berhadapan dengan ular, serta memahami langkah penanganan yang aman ketika menemukan satwa tersebut di lingkungan sekitar. (alf/nik)
Editor : fery ardi susanto