RADARSOLO.COM – Langkah kaki peserta kirab berpadu dengan tabuhan perkusi yang menggema di sepanjang jalan di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Solo, Senin (1/6).
Ribuan warga memadati sisi jalan untuk menyaksikan beragam atraksi budaya, dalam kirab menyambut Hari Lahir Pancasila tersebut.
Tahun ini, kirab hadir dengan wajah baru yang lebih hidup. Memberi ruang bagi setiap peserta untuk menampilkan kreativitas dan identitas kampungnya.
Tercatat 1.300 peserta dari sembilan RW, enam lembaga, dinas pemerintah, hingga kelompok sadar wisata (pokdarwis) se Kecamatan Jebres ambil bagian.
Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pemkab Wonogiri Teguhkan Pengamalan Nilai Ideologi Negara
Ketua Pokdarwis Gandekan Redy Manata mengatakan, tahun ini tema yang diusung adalah lurik dan batik. Dua produk yang memiliki jejak sejarah kuat di Gandekan.
“Motif batik wahyu gumurun dipilih sebagai ikon utama kirab. Kami ingin mengangkat kembali potensi industri kreatif Gandekan melalui sajian budaya, kesenian, dan musik,” ujar Redy.
Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, tiap kontingen tampil selama lima menit untuk menyuguhkan pertunjukan terbaik.
Baca Juga: Cara Pemprov Jateng Menghidupkan Roh Pancasila Melalui Beragam Program
Konsep tersebut membuat kirab berjalan lebih lambat, namun menghadirkan pengalaman menarik bagi penonton.
“Selama ini peserta hanya berjalan dalam arak-arakan. Tahun ini kami memberi ruang perform,” imbuhnya.
Peserta paling mencuri perhatian, yakni kontingen RW 02 Gandekan. Barisan depan dihuni sosok Dewi Sri sebagai simbol kemakmuran. Diiringi perkusi dan ogoh-ogoh memedi sawah di belakangnya.
Peserta RW 02 Hendro Siswanto menjelaskan, kelompoknya mengangkat tema Parisumilah. Sebuah motif batik yang bermakna kemakmuran dan kebersamaan.
Mereka juga menampilkan berbagai produk UMKM dalam bentuk gunungan. Seperti sosis basah, semar mendem, timlo, kompia pia, dan aneka kuliner khas Solo lainnya.
Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Lahir Pancasila 2026 Gratis dan Paling Lengkap, Cocok untuk Media Sosial
“Parisumilah identik dengan Dewi Sri sebagai lambang kemakmuran. Kami ingin menunjukkan, bahwa banyak UMKM di RW 02 yang tumbuh dari hasil bumi dan kreativitas warga,” ujar Hendro.
Sekitar 75 hingga 80 personel terlibat dalam kontingen RW 02. Selama satu bulan, warga bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari kereta, kostum, hingga properti pertunjukan seperti ogoh-ogoh.
"Ada ogoh-ogoh memedi sawah, itu rambutnya dari damen, badannya dari gabus, jadi semua ada hubungannya dengan padi," pungkasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto