Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Unik! Sampah Rumah Tangga Di Pucangsawit Solo Disulap Jadi Tabungan Hari Raya

Alfida Nurcholisah • Senin, 1 Juni 2026 | 18:07 WIB
Warga RW 13 Pucangsawit, Jebres, Solo menimbang limbah rumahan di Bank Sampah Pucang Cuan, Senin (1/6). (M IHSAN/RADAR SOLO)
Warga RW 13 Pucangsawit, Jebres, Solo menimbang limbah rumahan di Bank Sampah Pucang Cuan, Senin (1/6). (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Bank Sampah Pucang Cuan RW 13 Pucangsawit, Jebres, Solo sukses ajak 100 warga pilah 50 jenis sampah. Tabungan cair setahun sekali jelang Lebaran, yang menyentuh Rp 780 ribu.

Di tangan warga RW 13 Kelurahan Pucangsawit, botol sampo bekas, kardus susu, hingga kantong kresek tidak lagi berakhir tragis di bak pembuangan.

Benda-benda yang biasanya dicap sebagai limbah kotor itu kini bertransformasi menjadi pundi-pundi rupiah yang dinanti setiap menjelang lebaran.

Melalui Bank Sampah Unit Pucang Cuan, warga setempat membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan selaras dengan peningkatan isi dompet.

Baca Juga: Kirab Bhinneka Gandekan Naik Kelas, Tonjolkan UMKM Lurik, Batik, Dan Kuliner

Tidak tanggung-tanggung, dari pilahan sampah rumah tangga, seorang warga bahkan mampu mengantongi tabungan hingga Rp780 ribu dalam setahun.

Setiap hari operasional, pelataran bank sampah dipadati ibu-ibu yang membawa kantong besar berisi pilahan limbah kering.

Sampah-sampah tersebut ditimbang dengan teliti sesuai kategorinya sebelum dikonversi menjadi angka di buku rekening nasabah.

Koordinator Bank Sampah Induk Kerja Nyata Kota Solo Denok Martiastuti memaparkan, kunci keberhasilan gerakan ini terletak pada edukasi pemilahan yang mendalam di tingkat hulu (rumah tangga).

Baca Juga: Solo Sabet Peringkat 2 Tertinggi HIV/AIDS se-Jateng, KPA Keluhkan Pasien 'Gaib' yang Kerap Pindah Domisil

“Kami edukasi masyarakat terlebih dahulu supaya bisa memilah sesuai spesifikasi pabrik daur ulang. Mulai dari botol plastik PET, cup bening, kertas, koran, hingga toples. Saat ini, warga sudah fasih memilah hingga sekitar 50 jenis sampah,” ujar Denok, Senin Senin (1/6).

Geliat pilah sampah di Solo sebenarnya memiliki basis massa yang besar. Saat ini tercatat ada sekitar 230 unit bank sampah di Kota Bengawan.

Namun, tantangan terbesar adalah konsistensi pengurus. Dari jumlah tersebut, yang aktif beroperasi dengan manajemen baik 70 persen, sementara sisanya mati suri.

Salah satu penyebabnya terjadinya pergantian pengurus yang tidak berkesinambungan dan vakumnya kegiatan. 

Denok menegaskan, Bank Sampah Pucang Cuan RW 13 merupakan salah satu potret unit yang tangguh dan menjadi pionir kelestarian di Pucangsawit.

Target jangka panjangnya, pemerintah kota berharap regulasi "Satu RW, Satu Bank Sampah" bisa diwujudkan secara menyeluruh.

Ketua RW 13 Pucang Cuan Siti Rochmani tersenyum melihat perubahan perilaku warganya. Saat ini, lebih dari 100 kepala keluarga aktif menjadi nasabah.

Baca Juga: Tiket Go Show Masih Diburu, KAI Daop Luncurkan 7 Kereta Tambahan Antisipasi Penumpukan Penumpang

Sampah plastik yang dulu berserakan di selokan, kini diperebutkan karena dihargai Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram.

Sistem penarikan dana sengaja didesain unik. Pengurus menerapkan sistem tabungan berjangka yang baru bisa dicairkan setahun sekali, tepatnya menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Hasil konversi sampah menjadi bantalan ekonomi ekstra untuk membeli kue lebaran atau baju baru.

"Sekarang sampah plastik hampir tidak ada yang dibuang percuma. Warga sadar itu bisa jadi cuan, jadi sayang kalau dibuang begitu saja," kata Siti.

Apresiasi tinggi datang dari Lurah Pucangsawit Iwan Murtanto.

Keberadaan Bank Sampah RW 13 dinilai menjadi instrumen vital dalam menekan volume sampah harian yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo yang kapasitasnya kian kritis.

Langkah adaptif RW 13 kini mulai menular. Saat ini tercatat sudah ada enam RW lain di wilayah Pucangsawit yang mereplikasi sistem serupa.

"Ke depan, impian kami adalah pengembangan teknologi pengolahan mandiri. Jadi, semua sampah bisa diputar kembali dalam siklus ekonomi, dan yang benar-benar dibawa ke TPA hanyalah sampah residu yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi," ujar Iwan optimistis. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
#bank sampah pucang cuan #pucangcawit #solo #sampah