RADARSOLO.COM – Pemkot Solo mengambil langkah masif untuk membenahi tata kelola jaring pengaman sosial di wilayahnya. Secara serentak, Pemkot Solo menggelar gerakan penempelan stiker "Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial" di seluruh sudut Kota Bengawan, Rabu (3/6).
Aksi turun ke jalan ini menjadi instrumen validasi faktual di lapangan sekaligus upaya pembersihan (pemadanan) data ganda atau salah sasaran. Stikerisasi ini menyasar para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan pemerintah pusat, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK), hingga Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Baca Juga: Kebut Renovasi SMP Program Khusus Solo, Respati: Harus Selesai Agustus 2026
Gerakan ini disebar merata di 54 kelurahan se-Kota Solo. Bahkan, Wali Kota Surakarta Respati Ardi turun langsung menempelkan stiker tersebut di beberapa rumah warga di kawasan Kelurahan Gilingan, Banjarsari.
"Penempelan stiker ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memberikan stigma negatif atau mempermalukan warga penerima bansos. Sebaliknya, label ini diharapkan menjadi pemacu semangat psikologis bagi warga untuk segera mandiri dan keluar dari garis kemiskinan," urai Respati Ardi, Rabu (3/6/2026).
Pemkot Solo menegaskan tidak ingin hanya sekadar menempeli stiker tanpa memberikan solusi konkret. Penempelan ini merupakan fase hulu (pendataan), sementara fase hilirnya adalah program pemberdayaan ekonomi.
Bagi warga yang terdata di stiker tersebut namun belum memiliki pekerjaan atau sudah bekerja tetapi upahnya di bawah standar layak, Pemkot Solo langsung mengintervensinya lewat program Rumah Siap Kerja. Melalui wadah ini, warga akan dilatih, disalurkan ke dunia industri nasional, hingga difasilitasi untuk meraih peluang kerja dengan upah tinggi di luar negeri.
Pada gerakan serentak gelombang pertama ini, Pemkot Solo telah mencetak dan mendistribusikan sebanyak 10.018 lembar stiker. Dalam waktu dekat, otoritas kota akan kembali menyisir 7.000 sasaran KPM tambahan untuk gelombang kedua.
Berikut adalah draf target dan peta jalan digitalisasi pengentasan kemiskinan Pemkot Solo:
-
Tahap I (Rabu, 3/6): 10.018 stiker tertempel di 54 kelurahan.
-
Tahap II (Segera): 7.000 stiker susulan siap didistribusikan.
-
Target Kelulusan 2026: Minimal 1.000 KPM dinyatakan mandiri secara ekonomi (graduasi/lulus dari bansos).
-
Sistem Data Baru: Migrasi penuh dari aplikasi lama (E-Sik) menuju sistem digital terbaru DTSEN.
Di lokasi penempelan berbeda, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menekankan bahwa momentum ini merupakan komitmen penuh jajaran eksekutif dalam melakukan pemutakhiran data secara transparan lewat akurasi digital.
“Hari ini menjadi penanda dimulainya program pengentasan kemiskinan terpadu secara serentak di Solo. Kami ingin mengunci validitas data di lapangan agar bantuan ini tepat sasaran. Jika dulu kami menggunakan aplikasi E-Sik, kini sistemnya diupgrade menggunakan DTSEN," ujar Astrid.
Harapannya, mereka yang rumahnya tertempel stiker adalah warga yang benar-benar berhak dan wajib mendapatkan jaminan dari negara, bukan kelompok yang pura-pura miskin.
Melalui integrasi data stikerisasi dan sistem DTSEN ini, Pemkot Solo optimistis mampu memotong rantai birokrasi penyaluran bansos yang tidak tepat sasaran, sekaligus mempercepat penurunan angka kemiskinan ekstrem di Kota Solo sepanjang tahun 2026. (ves)
Editor : Kabun Triyatno