Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Festival Drama Realis Remaja 2026 di Solo Jadi Ruang Remaja Belajar Menjadi Manusia Sosial ‎

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Sabtu, 6 Juni 2026 | 12:55 WIB
DOKUMENTASI FDRR 2026
‎
‎TOTALITAS: Pertunjukan dari SMAN 1 Gemolong Sragen dalam ajang Festival Drama Realis Remaja (FDRR) 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta
 TOTALITAS: Pertunjukan dari SMAN 1 Gemolong Sragen dalam ajang Festival Drama Realis Remaja (FDRR) 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. (DOKUMENTASI FDRR 2026) 

RADARSOLO.COM - Suasana Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta beberapa hari terakhir dipenuhi energi anak muda. Mereka datang bukan sekadar untuk berlomba, melainkan membawa cerita, gagasan, dan semangat kolektif dalam gelaran Festival Drama Realis Remaja (FDRR) 2026 yang berlangsung pada 2–5 Juni.

‎Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membuat interaksi manusia kian bergeser ke layar gawai, Omah Kreatif Arturah memilih menghadirkan panggung teater sebagai ruang perjumpaan. Sebuah ruang yang mempertemukan remaja dengan sesamanya melalui proses kreatif yang menuntut kerja sama, komunikasi, dan empati.

Baca Juga: Menelaah Makna Mendalam Pementasan Wanita Dalam Pelita di TBJT: Menghidupkan Kembali Suara Marsinah

Pimpinan Omah Kreatif Arturah sekaligus Ketua Panitia FDRR 2026 Turah Hananto mengatakan, festival ini lahir dari kegelisahan terhadap semakin sempitnya ruang berekspresi bagi pelajar, khususnya siswa SMA dan sederajat.

Menurutnya, tidak banyak wadah yang benar-benar memberikan kesempatan kepada remaja untuk menyalurkan kreativitas sekaligus belajar membangun karakter. Karena itu, FDRR hadir sebagai ruang alternatif yang mencoba menjawab kebutuhan tersebut.

Namun, bagi Turah, persoalan yang ingin dijawab tidak berhenti pada aspek kesenian semata. Ada kegelisahan lain yang dianggap jauh lebih mendasar, yakni perubahan pola hidup generasi muda yang semakin bergantung pada gawai dan media digital.

‎"Kami berharap bisa mengembalikan marwah remaja sebagai manusia sosial. Sekarang banyak yang terlalu bergantung pada gadget sehingga cenderung menjadi lebih individual," ujar Turah kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (5/6/2026). 

Baca Juga: Pementasan Sedulur Papat Limo Pancer di Desa Gombang: Kolaborasi 100 Seniman Memukau Ribuan Penonton

Turah menilai makna sosial tidak hanya sebatas kemampuan bergaul di tengah masyarakat. Lebih dari itu, sosial berkaitan dengan kemampuan bertanggung jawab, bekerja dalam tim, serta membangun komunikasi yang sehat dengan orang lain.

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, justru tumbuh secara alami dalam proses penciptaan teater. Setiap pertunjukan membutuhkan kerja kolektif yang melibatkan banyak individu dengan peran berbeda. Dari proses itu lahir rasa saling menghargai, empati, dan kesadaran terhadap kepentingan bersama.

"Ketika mereka latihan, otomatis HP ditaruh. Mereka bertemu langsung, berdiskusi, menyelesaikan masalah bersama. Itu pendidikan karakter yang sangat penting," katanya.

Baca Juga: Teater Tradisi Menoreh dan Kolaborasi Budaya: Prodi Teater ISI Surakarta Bersama Seniman Cilacap Gelar Diskusi dan Pementasan Inovatif

Meski demikian, penyelenggaraan festival semacam ini tidak selalu berjalan mulus. Turah mengakui tantangan terbesar justru datang dari lingkungan pendidikan yang belum sepenuhnya memberikan perhatian terhadap kegiatan seni di luar agenda resmi pemerintah.

Dia menyontohkan, banyak sekolah memiliki ekstrakurikuler teater, tetapi belum tentu memberikan dukungan maksimal ketika siswa mengikuti festival independen seperti FDRR. Sebaliknya, sekolah cenderung lebih fokus pada kompetisi yang menjadi program resmi pemerintah, seperti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N).

Padahal, menurut Turah, nilai utama yang ditawarkan FDRR justru berada pada prosesnya. Teater menjadi media pembelajaran yang mampu membentuk karakter melalui pengalaman nyata, bukan sekadar mengejar hasil kompetisi.

Kekhawatiran itu muncul karena generasi saat ini lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Dia melihat banyak remaja lebih akrab dengan realitas virtual dibandingkan realitas sosial yang terjadi di sekeliling mereka.

‎"Yang berbahaya ketika dunia realitas mereka justru ada di digitalisasi itu, bukan di kehidupan nyata. Karena itu kami mencoba menyumbangkan gagasan dan wadah sebagai secercah harapan untuk dunia pendidikan," tuturnya.

FDRR 2026 sendiri diikuti 10 kelompok teater pelajar dari berbagai SMA dan SMK di Jawa Tengah serta menghadirkan empat kelompok ekshibisi.

Festival yang mengusung tema Muda Berkarakter, Identitas Budaya Masa Kini tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan pendidikan karakter melalui seni budaya. 

Pada akhir penyelenggaraan, Teater Brastomolo dari SMA Negeri 1 Gemolong Sragen berhasil keluar sebagai Juara I FDRR 2026. Juara II diraih Teater 9 dari SMK Negeri 9 Solo, sedangkan Juara III menjadi milik Teater Larasati dari SMK Negeri 2 Sragen. Teater Larasati juga meraih penghargaan Juara Favorit Pilihan Penonton. 

Sementara itu, Teater Brastomolo mendominasi penghargaan individu dan teknis dengan meraih Aktor Terbaik melalui pemeran Kakek dalam pentas Kebo Nyusu Gudel, Aktris Terbaik melalui pemeran Istri dalam pentas yang sama, serta penghargaan Artistik Terbaik dan Musik Terbaik.

‎Ke depannya, Omah Kreatif Arturah berkomitmen menjadikan FDRR sebagai agenda tahunan. Turah berharap semakin banyak pihak, mulai dari sekolah, pemerintah, hingga berbagai pemangku kepentingan, ikut mendukung keberlangsungan festival tersebut. Baginya, FDRR mungkin hanya sebuah api kecil, tetapi api itu diharapkan terus menyala sebagai ruang belajar dan harapan bagi masa depan remaja. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
#smk 9 surakarta #pementasan #teater #TBJT