Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Rute Sama, Pusaka Sama, Dua Kubu Keraton Diminta Tahan Ego Saat Malam Satu Suro

Silvester Kurniawan • Selasa, 9 Juni 2026 | 16:31 WIB
Baliho kubu berseberangan di pintu masuk Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. (M Ihsan/Radar Solo)
Baliho kubu berseberangan di pintu masuk Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Momentum Malam Satu Suro tahun ini diprediksi menjadi ujian kedewasaan bagi seluruh elemen Keraton Kasunanan Surakarta. Sebab, dua kubu yang selama ini berbeda pandangan mengenai kepemimpinan keraton berpotensi bertemu dalam rangkaian Kirab Pusaka 1 Suro yang digelar Selasa malam (16/6).

Meski demikian, sinyal positif mulai ditunjukkan kedua belah pihak. Loyalis SISKS Paku Buwono (PB) XIV Purbaya maupun unsur Lembaga Dewan Adat Keraton sama-sama menyerukan agar ritual sakral tersebut berlangsung damai tanpa gesekan.

GKR Panembahan Timoer Kusuma Dewayani menegaskan, seluruh rangkaian upacara adat yang diselenggarakan pihaknya merupakan pelaksanaan dawuh dalem SISKS PB XIV selaku raja yang saat ini mereka yakini bertahta di Keraton Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: Viral Foto KDKMP Berada di Tengah Hutan Kismantoro Wonogiri, Camat Ungkap Faktanya

Putri sulung almarhum SISKS PB XIII Hangabehi itu menyatakan pihaknya tidak mempermasalahkan apabila kelompok lain juga ingin melaksanakan tradisi Suro, sepanjang tetap mengedepankan suasana kondusif dan menghormati jalannya upacara adat.

“Dari kemarin saya sudah menegaskan bahwa acara ini digelar berdasarkan perintah seorang raja. Kalau mereka ingin melaksanakan Suro juga dan ingin bersama kami melaksanakan ini berdasarkan Dawuh Dalem PB XIV, monggo, tidak masalah. Itu justru menjadi momen yang baik jika kita bisa berjalan bersama-sama,” ujarnya seusai jumpa pers di Talang Paten, Keraton Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: Aksi Heroik Bocah SD di Klaten Berusaha Gagalkan Curanmor: Kejar dan Gelayutan di Motor Maling hingga Terbawa Sejauh 1 Km

Berdasarkan Rantaman Tata Upacara Kirab Pusaka 1 Suro Tahun BE 1960, rute kirab tahun ini tetap menggunakan jalur yang selama ini menjadi pakem pelaksanaan tradisi. Arak-arakan akan berangkat dari Keraton Surakarta menuju Supit Urang, Jalan Paku Buwono, Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, kembali ke Gladag, Alun-alun Utara, dan berakhir di Keraton Surakarta.

Rangkaian acara dimulai pukul 18.00 WIB dengan persiapan di Sasana Parasdya-Kamandungan dan diperkirakan selesai sekitar pukul 03.00 WIB saat rombongan kirab kembali memasuki kompleks keraton.

Baca Juga: Antisipasi El Nino 2026, Taman Nasional Gunung Merbabu Larang Pendaki Buat Api Unggun!

Menurut Dewayani, peluang bertemunya dua kelompok dalam prosesi tersebut sangat besar karena seluruh unsur utama ritual berada pada lokasi yang sama.

“Lokasinya sama, rutenya sama, Kebo Bule-nya sama, kemudian tempat keluarnya pusaka juga sama. Pasti kami akan bertemu di situ. Ketika bertemu, kami berharap tidak ada gesekan. Kami hanya menjalankan paugeran dan perintah raja. Karena itu kami meminta masyarakat maupun sentana menghormati acara ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika sampai terjadi konflik dalam prosesi sakral tersebut, hal itu justru menunjukkan tidak adanya penghormatan terhadap tradisi yang sedang dijalankan.

Senada dengan itu, Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta KPH Eddy Wirabhumi juga mendorong agar seluruh unsur di lingkungan keraton dapat melaksanakan peringatan Malam Satu Suro secara bersamaan dan dalam suasana yang harmonis.

Menurut Eddy, upacara adat yang telah menjadi bagian dari kalender budaya nasional itu tidak semestinya diwarnai tindakan maupun ucapan yang berpotensi memicu perpecahan.

“Ini acara sakral, jangan sampai diwarnai tindakan dan ucapan yang tidak baik. Kegiatan Malam 1 Suro sudah menjadi bagian dari kalender nasional sehingga pemerintah juga akan hadir untuk keraton,” katanya.

Eddy mengakui upaya menyatukan berbagai pihak di lingkungan Keraton Surakarta bukan pekerjaan mudah, terlebih di tengah dinamika internal yang masih berlangsung. Namun, menurutnya, upaya tersebut tetap harus dicoba demi menjaga marwah tradisi dan kelangsungan budaya keraton.

“Ini memang gampang diomongkan tetapi tidak mudah dilakukan. Namun kalau tidak dicoba, tidak akan pernah bisa,” pungkasnya. (ves)

Editor : Kabun Triyatno
#kirab pusaka #Lembaga Dewan Adat #PB XIV Purbaya #keraton kasunanan surakarta