RADARSOLO.COM – Menjelang pelaksanaan Upacara Adat Kirab Malam 1 Suro, tensi konflik internal Keraton Kasunanan Surakarta kembali menghangat. Dua kubu yang sama-sama mengklaim sebagai penerus sah tahta Kasunanan, yakni kubu PB XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi, tetap bersikukuh sebagai penyelenggara yang memiliki legitimasi atas prosesi sakral tahunan tersebut.
Di tengah situasi itu, sejumlah tokoh Keraton meminta Pemkot Solo turun tangan untuk menjembatani komunikasi antar-kubu demi mencegah potensi gesekan saat pelaksanaan kirab pada Selasa (16/6) malam mendatang.
Permintaan tersebut disampaikan Penanggung Jawab Keraton Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, usai rapat koordinasi yang digelar bersama sejumlah putra-putri PB XII, Lembaga Dewan Adat (LDA), dan perwakilan Pemkot Surakarta, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga: Layanan SIM Online Diperluas, Warga Bisa Urus dari Rumah dan SIM Diantar ke Alamat
Menurut Tedjowulan, upaya membangun komunikasi langsung masih menemui jalan buntu karena sejumlah tokoh dari kubu PB XIV Purboyo tidak menghadiri undangan pertemuan yang telah dilayangkan.
“Tanggal 13 atau 14 Juni ini saya minta Pak Wali mengundang kita di tempatnya wali kota untuk rapat lanjutan,” ujarnya.
Senada, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta sekaligus Pengageng Sasana Wilapa versi PB XIV Mangkubumi, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, berharap Wali Kota Surakarta dapat menjadi mediator yang mempertemukan kedua pihak.
Baca Juga: BBM Pertamax Naik, Antrean Di SPBU Jombor Sukoharjo Mengular Ratusan Meter
Menurutnya, berbagai undangan dialog yang selama ini dikirimkan pihaknya, baik terkait revitalisasi keraton maupun persiapan Malam 1 Suro, belum pernah mendapat respons dari kubu yang berseberangan.
“Di sini kita nyuwun untuk Suro ini Pak Wali yang mengundang kami. Ya kita, ya mereka, untuk berembug bersama-sama,” katanya.
Baca Juga: SPMB SKO Solo Dapat Rapor Merah, DPRD Soroti Data Kelulusan Janggal
Kubu Mangkubumi menilai pertemuan terbuka penting dilakukan agar pelaksanaan tradisi sakral yang menjadi perhatian masyarakat luas itu berlangsung aman dan tetap menjaga marwah Keraton Kasunanan Surakarta.
Sementara itu, kubu PB XIV Purbaya memilih fokus mematangkan persiapan teknis pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro. Sejumlah rapat panitia telah digelar dalam beberapa hari terakhir guna memastikan seluruh kebutuhan prosesi adat berjalan sesuai rencana.
KGPHA Panembahan Dipokusumo mengatakan seluruh perangkat pendukung kirab mulai dari petugas pembawa pusaka, pembawa payung kebesaran, pembawa oncor, tombak, hingga pengiring kirab telah disiapkan.
“Persiapan ini terkait rute dan petugas yang juga sudah siap semua. Misalnya siapa yang membawa payung, oncor, tombak, pengiring dan lainnya yang bersifat teknis,” ujarnya.
Selain menyiapkan perangkat kirab, panitia juga masih melakukan pendataan peserta yang akan mengikuti prosesi. Pendataan tersebut diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik, termasuk konsumsi dan fasilitas pendukung lainnya.
“Saat ini sudah ada sekitar 5.000 peserta yang mendaftar dari berbagai elemen. Tujuan pendataan ini untuk mengetahui jumlah pasti peserta sehingga seluruh kebutuhan dapat dipersiapkan dengan baik,” jelas pria yang akrab disapa Gusti Dipo tersebut.
Dengan waktu pelaksanaan yang tinggal hitungan hari, perhatian kini tertuju pada kemungkinan adanya langkah mediasi dari Pemkot Surakarta untuk mempertemukan kedua kubu. Upaya tersebut dinilai penting agar tradisi Malam 1 Suro yang menjadi ikon budaya Kota Solo dapat berlangsung khidmat tanpa dibayangi konflik internal Keraton. (ves)
Editor : Kabun Triyatno