RADARSOLO.COM-Kirab pusaka Keraton Solo untuk memperingati malam 1 Suro tak bisa dilepaskan dari kerbau (kebo) bule Kyai Slamet.
Kerbau pusaka Keraton Solo itu selalu menjadi cucuk lampah (rombongan terdepan) kirab pusaka.
Nah untuk kelancaran tradisi budaya tersebut, kerbau bule akan diikutkan dalam gladi resik yang dilaksanakan, Sabtu (13/6/2026) sekitar pukul 16.00.
Untuk diketahui, dalam pemahaman simbolik tradisi Jawa, penempatan kerbau bule di barisan terdepan kirab pusaka Keraton Solo bukanlah tanpa makna.
Kerbau sejak dahulu merupakan hewan yang sangat dekat dengan kehidupan agraris masyarakat Nusantara.
Ia adalah tenaga pembajak sawah, pengolah tanah, pembuka lahan kehidupan.
Ketika kerbau membajak sawah, tanah yang keras diurai menjadi gembur, gulma dibersihkan, penyakit tanaman ditekan, sehingga sawah menjadi siap untuk ditanami dan menghasilkan panen yang baik.
Karena itulah, Kirab 1 Sura dengan dipucuki kerbau bule dapat dimaknai sebagai perlambang “membajak” kehidupan dan negeri secara spiritual.
Bukan membajak tanah secara fisik, melainkan membersihkan jagad batin dan jagad sosial dari berbagai marabahaya, kekacauan, penyakit, serta energi buruk yang dapat mengganggu keselamatan masyarakat dan negara.
Kerbau menjadi simbol pembuka jalan keselamatan, penetral, sekaligus pengolah “tanah kehidupan” agar tahun yang akan dijalani menjadi lebih subur, tenteram, dan penuh berkah. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono