RADARSOLO.COM – Di saat harga bahan bakar minyak (BBM) terus menekan pengeluaran warga, nasib transportasi publik di Solo justru berada di ujung tanduk. Batik Solo Trans (BST), yang selama ini menjadi andalan mobilitas masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, kini menghadapi ancaman penyusutan layanan akibat minimnya dukungan anggaran pemerintah.
Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Tengah, Anastasia Yulianti, menilai kondisi ini ironis. Ketika masyarakat semakin membutuhkan transportasi murah dan efisien, pemerintah justru mengurangi kapasitas layanan BST.
“Pengurangan anggaran ini bukan sekadar angka di atas kertas. Dampaknya langsung terasa ke masyarakat: koridor berkurang, armada menyusut, jam operasional dipangkas,” ujarnya.
Baca Juga: Suhu Puncak Merbabu Diprediksi Drop di Bawah 5 Derajat, BTNGMb Minta Pendaki Waspada Musim Bediding
Tantangan terbesar muncul setelah skema pembiayaan BST bergeser dari APBN ke APBD pada 2025-2026. Jika pada 2024 subsidi operasional untuk enam koridor mencapai sekitar Rp 80 miliar, maka pada 2026 dukungan anggaran tinggal sekitar Rp 31 miliar. Rinciannya Rp 23 miliar dari APBD Kota Surakarta dan Rp 8 miliar dari APBN.
Akibatnya, hanya tiga koridor utama dan enam koridor feeder yang masih bisa dibiayai. Sejumlah layanan pun terpaksa dihentikan, termasuk BST Koridor 6 dan feeder Koridor 11.
“Artinya ada wilayah-wilayah yang kini kehilangan akses transportasi publik yang sebelumnya sudah berjalan,” kata Anastasia.
Baca Juga: Dengar Suara Kayu Terbakar, Warga Desa Jelok Boyolali Dobrak Rumah Petani yang Mengeluarkan Asap
Efisiensi anggaran juga memukul kualitas layanan. Jam operasional yang dulu melayani warga sejak pukul 05.00 hingga 19.00 WIB kini dipersempit menjadi 06.00 sampai 18.00 WIB. Bagi pekerja pagi dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada BST, perubahan ini jelas menyulitkan.
Tak hanya itu, jumlah armada turun drastis. Koridor 1 yang sebelumnya memiliki 30 armada kini tinggal 16 unit termasuk cadangan. Koridor 5 juga menyusut dari 26 menjadi 16 armada. Konsekuensinya, waktu tunggu penumpang makin lama dan kepadatan di dalam bus berpotensi meningkat.
Padahal, data penumpang menunjukkan BST masih sangat dibutuhkan masyarakat. Koridor 1 mencatat load factor mencapai 122,06 persen pada 2026, tertinggi di seluruh koridor. Angka itu menandakan bus kerap terisi melebihi kapasitas ideal.
“Ini bukti nyata bahwa masyarakat masih sangat membutuhkan BST. Jadi kalau layanan terus dipangkas, yang terdampak pertama kali adalah warga pengguna harian,” tegas Anastasia.
Menurutnya, kenaikan harga BBM justru membuat peran BST semakin strategis. Dengan tarif yang terjangkau, BST membantu warga menekan biaya transportasi dibanding menggunakan kendaraan pribadi yang sangat bergantung pada harga bahan bakar.
“BST sekarang bukan cuma moda transportasi. Ini instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujarnya.
Namun persoalannya, operasional BST masih sangat bergantung pada subsidi pemerintah. Pendapatan tiket disebut belum mampu menutup 20 persen biaya operasional. Tanpa komitmen pendanaan jangka panjang, layanan transportasi publik akan terus berada dalam posisi rapuh.
Karena itu, MTI mendesak pemerintah daerah mencari sumber pembiayaan baru. Mulai dari optimalisasi pendapatan non-tiket, pemanfaatan dana CSR, kerja sama pembiayaan antardaerah, hingga penggunaan sebagian penerimaan Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
MTI bahkan mengusulkan kebijakan mandatory spending sebesar lima persen APBD khusus untuk transportasi massal agar pendanaan BST tidak terus bergantung pada situasi fiskal tahunan.
“Kalau Solo serius ingin mengurangi kemacetan dan ketergantungan kendaraan pribadi, maka transportasi publik harus diprioritaskan. Jangan sampai masyarakat didorong naik angkutan umum, tapi layanannya justru terus dikurangi,” tandas Anastasia.
Tanpa kepastian anggaran, BST terancam makin mengecil dari tahun ke tahun. Dan ketika itu terjadi, warga Solo bisa jadi kembali dipaksa bergantung pada kendaraan pribadi di tengah harga BBM yang terus menghimpit ekonomi rumah tangga.
Editor : Kabun Triyatno