Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Hari Purbakala, Koleksi Museum Raya Pustaka dan Museum Keris Dipamerkan di SoloCFD

Alfida Nurcholisah • Minggu, 14 Juni 2026 | 17:02 WIB
Konservasi kijing kayu kuno, koleksi Museum Radya Pustaka yang dipamerkan di CFD Jalan Slamet Riyadi dalam rangka Hari Purbakala 2026, Minggu (14/6). (M IHSAN/RADAR SOLO)
Konservasi kijing kayu kuno, koleksi Museum Radya Pustaka yang dipamerkan di CFD Jalan Slamet Riyadi dalam rangka Hari Purbakala 2026, Minggu (14/6). (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Memperingati Hari Purbakala ke-113, Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Nusantara hadirkan pameran di Solo Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (14/6).

Pengunjung CFD dimanjakan dengan sejumlah koleksi artefak berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Kepala UPTD Museum, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo Bonita Rintyowati menjelaskan, pameran ini menampilkan lima artefak pilihan.

Paling menarik perhatian, yakni kijing kayu yang ditemukan di pinggiran Sungai Bengawan Solo.

Baca Juga: Dampak Harga BBM Naik: Subsidi BST Terancam Dipangkas, Transportasi Publik Bakal Lumpuh 

Hasil kajian awal, artefak tersebut diperkirakan berasal dari masa kerajaan Mataram Islam.

Selain itu, ada batu saluran air atau pancuran kuno, serta kapak batu dari zaman Neolitikum. 

“Kami menampilkan beberapa koleksi Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Nusantara. Jika ingin mengetahui koleksi yang lebih banyak dan lengkap, masyarakat bisa mengunjungi museum kami,” jelasnya.

Baca Juga: Demo Di Gedung DPRD Solo, Dua Mahasiswa UMS Sempat Diciduk Polisi

Pameran juga diisi dengan edukasi konservasi benda-benda bersejarah. Ambil contoh perawatan benda bersejarah dari bahan kayu.

Menurut Staf Teknik Museum Radya Pustaka Bangkit Supriyadi, tiap koleksi memiliki metode perawatan berbeda sesuai bahan penyusunnya.

“Di Museum Radya Pustaka koleksinya macam-macam. Ada yang dari kayu, logam, batu, hingga kertas. Cara perawatannya juga beda-beda. Koleksi kayu yang sifatnya organik, biasanya rentan diserang serangga, rayap, dan jamur,” jelasnya.

Mencegah kerusakan, digunakan ramuan tradisional dari campuran tembakau, cengkeh, dan pelepah pisang yang telah direndam beberapa hari. Ramuan tersebut kemudian dioleskan pada permukaan benda koleksi.

“Ramuan dioleskan pada kayu agar serangga tidak mendekat. Dupa juga digunakan untuk mencegah tumbuhnya jamur,” bebernya.

Perawatan dilakukan secara berkala, minimal sekali dalam kurun tiga bulan. Setelah proses pengolesan, koleksi dibersihkan dan dijemur untuk menghindari munculnya jamur.

Melalui demonstrasi konservasi ini, pihak museum berharap masyarakat tidak hanya menikmati artefak yang dipamerkan, tetapi juga memahami pentingnya upaya pelestarian benda cagar budaya.

“Pameran Hari Purbakala ini salah satu upaya mengenalkan museum. Kami juga ingin menambah wawasan masyarakat terkait proses perawatan benda bersejarah,” ujarnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#hari purbakala #museum radya pustaka #Solo CFD #museum keris nusantara