Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ritual 24 Jam Nonstop! Mangkunegaran Siapkan Malam 1 Suro Terbesar Tahun Ini

Damianus Bram • Senin, 15 Juni 2026 | 10:02 WIB
Suasana kirab malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, beberapa tahun lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
Suasana kirab malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, beberapa tahun lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Pura Mangkunegaran Surakarta kembali bersiap menyambut datangnya Tahun Baru Jawa melalui peringatan Malam 1 Suro Tahun Be 1960 yang akan digelar pada Selasa (16/6/2026) malam. Tahun ini, prosesi sakral tersebut mengusung tema "Mulih Pulih", sebuah ajakan untuk kembali kepada jati diri sekaligus memulihkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, alam, dan semesta.

Tradisi yang telah menjadi bagian penting budaya Jawa itu diperkirakan akan melibatkan ribuan peserta dari lingkungan internal Mangkunegaran serta masyarakat umum yang ingin mengikuti laku spiritual maupun menyaksikan prosesi kirab pusaka.

Baca Juga: BTS Juara Lagi! Ini Daftar Lengkap Peraih Penghargaan Pro Futsal League 2025/2026

Ketua Panitia Penyelenggara Malam 1 Suro Mangkunegaran, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, melainkan momentum refleksi bagi masyarakat modern yang kerap terjebak dalam kesibukan sehari-hari.

Menurutnya, kata mulih tidak hanya dimaknai sebagai pulang secara fisik, tetapi juga pulang kepada diri sendiri, kepada alam, dan kepada nilai-nilai kehidupan yang lebih mendasar.

Baca Juga: Alwi Farhan Bungkam Kritik! Juara Australian Open 2026 dengan Cara Meyakinkan: Pebulu Tangkis Asal Solo Ini Hancurkan Wakil China 

"Pulang ke rumah, pulang ke alam, pulang untuk kembali ke diri sendiri. Karena itulah spirit Suro di Mangkunegaran, yaitu pulang atau mulih. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga untuk memulihkan diri kita sendiri atau pulih," ujarnya.

Ritual 24 Jam Dibagi dalam Tiga Tahapan Filosofi Jawa

Berbeda dari perayaan tahun baru pada umumnya, Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran akan berlangsung selama 24 jam penuh dengan rangkaian ritual yang sarat makna spiritual.

Prosesi tersebut dibagi menjadi tiga fase utama yang merepresentasikan perjalanan hidup manusia dalam filosofi Jawa, yakni Atita, Atiki, dan Anagata.

Fase pertama, Atita, dimaknai sebagai upaya melepaskan berbagai hal yang telah berlalu. Tahapan ini diwujudkan melalui doa bersama, santap mutih sebelum tirakat, pameran instalasi 1 Suro, hingga Kirab Pusaka Dalem.

Baca Juga: Kiandra Ramadhipa Tempel Ketat Pemuncak Klasemen Moto3 Junior 2026, Usai Naik Podium Race Portugal

Memasuki tengah malam, prosesi berlanjut ke fase Atiki yang menekankan pentingnya kesadaran penuh terhadap kondisi saat ini melalui laku semedi dan perenungan diri.

Sementara fase terakhir, Anagata, menjadi simbol menyambut masa depan melalui berbagai ritual seperti sembah catur, penulisan kartu harapan, hingga larasati.

Siapkan Area untuk 10 Ribu Penonton

Antusiasme masyarakat terhadap tradisi Malam 1 Suro diperkirakan kembali tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Panitia memperkirakan jumlah peserta internal yang mengikuti prosesi mencapai ribuan orang. Sementara untuk masyarakat umum yang ingin menyaksikan jalannya kirab, area Pamedan Mangkunegaran disiapkan untuk menampung hingga sekitar 10 ribu orang.

Meski demikian, pihak panitia masih merahasiakan jumlah pusaka yang akan dikeluarkan dalam kirab tahun ini. Keputusan tersebut masih menunggu dawuh dari Mangkunegara X atau Gusti Bhre.

"Untuk pusaka yang keluar, kami masih menunggu dawuh dari Kanjeng Gusti," kata Gusti Sura.

Rute Kirab Keliling Pura Mangkunegaran

Kirab pusaka akan dimulai dari gerbang utama Pura Mangkunegaran menuju selatan melalui Jalan Diponegoro hingga kawasan Pasar Pon.

Rombongan kemudian bergerak ke barat melalui Jalan Slamet Riyadi, berlanjut ke Jalan Kartini, mengitari kawasan tembok Mangkunegaran melalui Jalan RM Said dan Jalan Teuku Umar sebelum kembali memasuki kawasan Pura Mangkunegaran.

Rute tersebut menjadi bagian penting dari laku bisu yang dijalani peserta kirab sebagai simbol perjalanan spiritual dan introspeksi diri.

Bukan Festival atau Ajang Konten

Panitia juga mengingatkan masyarakat, fotografer, maupun pembuat konten digital agar memahami bahwa Malam 1 Suro merupakan ritual adat yang sakral.

Karena itu, seluruh pihak yang hadir diharapkan menjaga sikap, menghormati prosesi, dan tidak menjadikan acara tersebut sekadar sebagai tontonan atau objek hiburan semata.

"Acara Suro ini bukan sekadar tontonan, festival, konser, atau hal sejenisnya. Ini adalah ritual adat dan perjalanan tirakat yang dijalani bersama secara sadar," tegas Gusti Sura.

Dengan mengusung semangat "Mulih Pulih", Mangkunegaran berharap Malam 1 Suro tahun ini tidak hanya menjadi peristiwa budaya yang menarik perhatian publik, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali menemukan ketenangan di tengah dinamika kehidupan modern. (Bram/nik) 

 

Editor : Niko auglandy
#gusti bhre #malam 1 suro #Pura Mangkunegaran #Mangkunegara X