Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

LDA Keraton Surakarta dan Panembahan Agung Tedjowulan Siap Gelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro, Kubu Purboyo Singgung Titah PB XIII Soal Suksesi Takhta

Silvester Kurniawan • Senin, 15 Juni 2026 | 22:04 WIB
Kerbau bule Kyai Slamet yang menjadi cucuk lampah kirab pusaka Keraton Solo pada peringatan malam 1 Suro. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Kerbau bule Kyai Slamet yang menjadi cucuk lampah kirab pusaka Keraton Solo pada peringatan malam 1 Suro. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta kembali diwarnai dinamika internal keraton. Di satu sisi, pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta bersama KGPH Panembahan Agung Tedjowulan memastikan seluruh persiapan kirab telah rampung. Di sisi lain, kubu SISKS Paku Buwono XIV Purboyo kembali menegaskan posisi mereka sebagai penerus tahta yang sah dengan mengacu pada titah PB XIII Hangabehi terkait suksesi kerajaan.

Ketua LDA Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koes Murtiyah, menegaskan bahwa pihaknya siap menggelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro pada Selasa (16/6) malam seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan usai mengikuti rapat koordinasi bersama KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dan Pemerintah Kota Surakarta.

Menurut Gusti Moeng, pelaksanaan kirab yang digelar pihaknya akan tetap membawa sejumlah pusaka Keraton Kasunanan Surakarta sebagaimana tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Mereka akan kirab tetapi tidak mengeluarkan pusaka. Sementara saya dan Panembahan Agung sudah siap melaksanakan. Pusaka di keraton ada banyak dan beberapa sudah empat kali ikut kirab untuk melengkapi pusaka dari Kamar Pusaka maupun Sasana Pustaka,” ujarnya, Senin (15/6).

Baca Juga: Kibarkan Merah Putih di Portugal, Rider Binaan Astra Honda Kiandra Ramadhipa Cetak Rekor Terkencang di Moto3 Junior World Championship

Ia mengaku belum mengetahui secara rinci konsep kirab yang akan dijalankan oleh pihak SISKS Paku Buwono XIV Purboyo. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari sejumlah peserta rapat sebelumnya, kubu Purboyo disebut tetap akan melaksanakan kirab namun tanpa mengeluarkan pusaka dari Kamar Pusaka.

“Pelaksanaannya ya seperti biasa. Mulai jalan jam 12 malam. Kami tidak tahu konsep mereka seperti apa,” imbuhnya.

Sementara itu, pihak SISKS Paku Buwono XIV Purboyo yang diwakili pengacara keraton, KPAA Ferry Firman Nurwahyu, turut menghadiri rapat koordinasi bersama Pemerintah Kota Surakarta dan Panembahan Agung Tedjowulan.

Dalam kesempatan tersebut, Ferry datang bersama sejumlah tokoh keraton lainnya seperti KGPHA Panembahan Dipokusumo, GKR Alit, serta GKR Panembahan Timoer.

Usai pertemuan yang berlangsung tertutup itu, Ferry tidak banyak memberikan penjelasan kepada awak media. Ia meminta seluruh pihak merujuk pada keterangan resmi yang telah dibagikan dalam bentuk siaran pers.

“Itu tadi penjelasan sama seperti yang saya tulis. Intinya sama seperti yang ada dalam pers rilis itu. Penjelasan saya dikutip saja, sudah cukup,” katanya.

Dalam rilis tersebut, kubu Purboyo kembali menegaskan posisi SISKS Paku Buwono XIV sebagai penerus tahta yang sah. Mereka merujuk pada Sabda Dalem yang diterbitkan oleh PB XIII Hangabehi pada Januari 2025 melalui dokumen resmi Nomor 001 Tahun 2025.

Dokumen tersebut disebut berisi pedoman tata pemerintahan keraton sekaligus upaya penyelesaian konflik yang selama ini memunculkan dualisme kepemimpinan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: Era Baru Persis Solo Dimulai, Ricky Nelson Datang Bawa Target Promosi ke Super League

Pihak Purboyo juga menekankan bahwa persoalan penunjukan putra mahkota maupun suksesi raja merupakan hak prerogatif raja yang sah berdasarkan paugeran, garis keturunan, tradisi adat, legitimasi spiritual, dan hukum yang berlaku.

Saat ditanya mengenai kemungkinan pelaksanaan kirab secara terpisah, Ferry menegaskan bahwa menurut pandangan mereka tidak ada konsep kepemimpinan ganda di dalam keraton.

“Apakah pelaksanaan sendiri-sendiri? Nggak, mana ada sendiri-sendiri, rajanya kan cuma satu,” tegasnya.

Pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro tahun ini pun dipastikan kembali menjadi perhatian masyarakat Solo. Selain sarat nilai budaya dan spiritual, prosesi tersebut juga berlangsung di tengah dinamika internal Keraton Kasunanan Surakarta yang hingga kini masih menjadi sorotan publik. (ves/nik) 

Editor : Niko auglandy
#purboyo #PB XIII #malam 1 suro