RADARSOLO.COM - Tradisi pembagian Jenang Suro gratis di Pasar Triwindu Solo tak hanya menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam, Selasa (16/6).
Jenang yang dibagikan oleh pedagang itu juga menarik minat wisatawan dan pengunjung dari berbagai daerah.
Jenang Suro yang dibagikan terdiri atas bubur lengkap dengan perkedel, telur, sambal goreng, dan kedelai hitam.
Selain itu, panitia juga menyediakan berbagai jajanan pasar tradisional sebagai upaya mengenalkan kuliner warisan budaya kepada masyarakat.
Ketua Paguyuban Pasar Triwindu Nur Bramantyo mengatakan, tradisi Jenang Suran merupakan warisan budaya yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh para pedagang.
Jika dahulu jenang hanya dinikmati sesama pedagang, kini dibagikan kepada masyarakat umum secara gratis.
“Dulu orang tua kami membuat jenang dan dimakan bersama-sama. Dulu dari pedagang untuk pedagang, sekarang dari pedagang untuk semua,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terhadap tradisi tersebut terus meningkat. Tahun lalu panitia menyiapkan sekitar 150 porsi, namun permintaan membengkak hingga 300 porsi. Tahun ini, naik dua kali lipat mencapai 500 porsi.
“Tujuannya supaya generasi ke depan tidak putus dan juga mengenalkan Pasar Triwindu ke luar. Selain itu sebagai salah satu upaya mengangkat ekonomi pedagang,” terangnya.
Menurut Nur, seluruh proses pembuatan jenang dilakukan secara gotong royong oleh para pedagang sejak sehari sebelumnya. Dana kegiatan pun berasal dari swadaya pedagang.
Keramaian pengunjung terlihat sejak pembagian jenang dimulai. Salah satunya Putri Badiah, 25, warga Karanganyar, yang mengaku datang ke Pasar Triwindu tanpa mengetahui ada agenda pembagian Jenang Suro.
“Awalnya kita cuma mau main ke Pasar Triwindu, ternyata berbarengan dengan acara ini. Tadinya sempat ragu gratis atau tidak. Buburnya enak dan porsinya besar banget. Aku kira cuma setengah, ternyata penuh,” katanya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto