Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Mlampah Wening dan Jenang Suro, Cara Umat Santo Paulus Kleco Merawat Tradisi Malam Satu Suro

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:31 WIB
atusan umat Gereja Katolik Santo Paulus Kleco mengikuti prosesi Mlampah Wening mengelilingi lingkungan gereja, Senin (15/6/2026) malam. (HERNINDYA JALU/RADAR SOLO)
Ratusan umat Gereja Katolik Santo Paulus Kleco mengikuti prosesi Mlampah Wening mengelilingi lingkungan gereja, Senin (15/6/2026) malam. (HERNINDYA JALU/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Langkah demi langkah berjalan perlahan dalam keheningan. Di bawah temaram lampu malam, ratusan umat Gereja Katolik Santo Paulus Kleco mengikuti prosesi Mlampah Wening mengelilingi lingkungan gereja, Senin (15/6/2026) malam. Suasana khidmat itu menjadi pembuka perayaan Malam Satu Suro yang untuk pertama kalinya digelar oleh paroki tersebut.

Tidak terdengar alunan musik ataupun suara percakapan. Hanya langkah kaki para peserta yang bergerak perlahan mengikuti barisan petugas liturgi dan para romo. Prosesi itu menjadi simbol perenungan diri sekaligus ajakan untuk memasuki tahun baru Jawa dengan hati yang lebih tenang dan penuh syukur.

Perayaan Malam Satu Suro kali ini menjadi momen istimewa bagi umat Gereja Santo Paulus Kleco. Pasalnya, kegiatan tersebut merupakan kali pertama dilaksanakan sebagai bentuk inkulturasi budaya Jawa dalam kehidupan rohani umat Katolik.

Baca Juga: Hasil Lengkap Drama Matchday Terakhir 32 Besar liga 4: Persebi Boyolali, Persak Kebumen, Persiharjo Sukoharjo, Persipani, Pasuruan United, Persid Jember, Celebest FC Beda Nasib

Mengusung tema “Nyawiji ing Kabudayan, Rumaket ing Paseduluran, Sumarah ing Kristus”, kegiatan tersebut menjadi upaya menghadirkan nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupan menggereja. Tema itu mengandung makna menyatu dalam kebudayaan, mempererat persaudaraan, serta menyerahkan diri kepada Kristus sebagai pusat kehidupan umat beriman.

Ketua Panitia Perayaan Malam Satu Suro Gereja Santo Paulus Kleco, FX Fajar Suryono, mengatakan gagasan menggelar perayaan tersebut sebenarnya sudah lama muncul. Namun, baru tahun ini seluruh persiapan dapat diwujudkan sehingga kegiatan bisa terlaksana dengan baik.

Menurut dia, perayaan tersebut lahir dari keinginan untuk merawat budaya Jawa yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Solo. Di sisi lain, tradisi tersebut juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan umat dalam suasana spiritual.

“Solo sangat kental dengan budaya Jawa. Ketika ada momentum Malam Satu Suro, kami ingin merayakannya dalam kemasan kerohanian, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat keguyuban antarumat,” ujar FX Fajar Suryono kepada Jawa pos Radar Solo.

Baca Juga: Libur Muharam, Jenang Suro Gratis Jadi Magnet Wisata Pasar Triwindu Solo

Setelah prosesi Mlampah Wening, umat memasuki gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Malam Satu Suro yang dipimpin oleh Romo Bernardinus Haryasmara, MSF, didampingi Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF, dan Romo Hibertus Hartono, MSF. Berbeda dari misa pada umumnya, seluruh rangkaian ibadah malam itu menggunakan bahasa Jawa, mulai dari doa, bacaan liturgi, hingga nyanyian pengiring.

Nuansa Jawa juga tampak dari busana yang dikenakan para petugas liturgi. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa lengkap yang semakin menguatkan suasana inkulturasi budaya di dalam gereja.

Salah satu bagian yang menarik perhatian umat adalah prosesi persembahan hasil bumi. Berbagai jenis palawija, buah-buahan, serta tumpeng sego gurih dibawa menuju altar sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima sepanjang tahun.

Bagi Fajar, persembahan tersebut tidak sekadar simbol tradisi. Hasil bumi yang dibawa umat menjadi gambaran kedekatan masyarakat Jawa dengan alam sekaligus pengingat bahwa segala rezeki yang diperoleh berasal dari anugerah Tuhan.

Usai misa, umat diarahkan menuju area parkir barat gereja untuk mengikuti rangkaian acara berikutnya. Gunungan hasil bumi yang sebelumnya dipersembahkan kemudian dibagikan dan diperebutkan umat. Tradisi itu disambut antusias karena dipercaya membawa berkah sekaligus menjadi simbol rasa syukur bersama.

Malam semakin hangat ketika ratusan umat menikmati Jenang Suro yang disiapkan secara gotong royong oleh 13 wilayah di lingkungan Gereja Santo Paulus Kleco. Di sela-sela santap bersama, panggung budaya menampilkan beragam kesenian Jawa, mulai dari geguritan, macapat, hingga permainan tradisional seperti Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran yang melibatkan anak-anak, remaja, hingga orang tua.

Baca Juga: Ambisi Besar Ricky Nelson: Persis Solo Harus Kembali ke Liga 1!

Antusiasme umat yang memadati lokasi kegiatan membuat Fajar optimistis perayaan serupa dapat menjadi tradisi baru di Gereja Santo Paulus Kleco. Bahkan, seluruh Jenang Suro yang disiapkan panitia habis disantap para peserta.

Baginya, tingginya partisipasi umat menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ikatan yang kuat dengan tradisi dan budaya lokal. Melalui perayaan tersebut, Gereja ingin menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya Jawa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Mungkin ini karena ada kerinduan sebagai orang Solo dan orang Jawa untuk merayakan tradisi Satu Suro dalam nuansa kerohanian Katolik. Harapannya tahun depan bisa digelar lagi dengan kemasan yang lebih semarak, lebih baik, dan semakin melibatkan banyak umat. Ini juga menjadi cara kami ikut melestarikan budaya bangsa di tempat kami lahir dan bertumbuh,” tandasnya. (hj/nik)

Editor : Niko auglandy
#kirab #gereja katolik #malam #suro