RADARSOLO.COM - Ada tradisi unik jelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Beberapa jam sebelum memasuki prosesi kirab, yang digelar jam 00.00 WIB, Selasa malam (16/6), Kebo Bule dan pawannya dimandikan sore hari sebelum kirab.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo, sejumlah Kebo Bule keturunan Kerbau Pusaka bernama Kyai Slamet itu dimandikan dengan air kembang di kandang kerbau yang ada di Alun-alun Selatan (Alun-alun Kidul/Alkid). Sebelum dimandikan, Kebo Bule itu didoakan dulu sebelumnya, lantas dimandikan, sampai selanjutnya di bawa pulang ke kandang yang lama di RT 02 RW 09 Gurawan, Kelurahan Pasar Kliwon.
Prosesi memandikan kebo bule hingga memindahkan ke kandang lama ini disebut sebagai tradisi rutin yang dilakukan jelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang biasa dilakukan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
"Ini jamasan, tujuannya sebagai bentuk doa dan harapan agar kirabnya lancar. Memang setiap Suro dibawa pulang, istilahnya nguri-nguri kandang yang lama," kata Heri, perawat kerbau pusaka atau Serati Mahesa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Baca Juga: Nuri Agus Akhirnya Sudah Ditemukan, Ini Kondisi Terkini Eks Kiper Timnas U-23 Tersebut
Di lokasi kandang yang lama, prosesi wilujengan atau syukuran lengkap dengan Nasi Tumpeng dan sebagainya. Setelah di doakan, ubo rampe syukuran itu lantas dimakan bersama-sama dengan seluruh petugas dan warga setempat. Beberapa dipasang sebagai sesaji di depan kandang yang berisi tiga kebo bule yang akan diarak Selasa malam nanti.
"Tujuannya supaya kirab lancar dan tidak ada halangan apa-apa," terangnya.
Uniknya, prosesi memandikan kebo bule juga diikuti dengan memandikan petugas. Heri yang sudah menjadi Serati Mahesa sejak 2012 itu juga menjalani prosesi mandi air kembang bersama beberapa orang lainnya. "Harapannya biar lancar lah," paparnya.
Mulai Selasa (16/6) sore hingga malam nanti tiga kebo bule akan berada di kandang lama yang ada di Kampung Gurawan, Pasar Kliwon itu. Jelang kirab, kira-kira pukul 23.30 WIB kebo bule akan dibawa ke depan Kori Kamandungan karena nantinya akan bertugas sebagai cucuk lampah dalam prosesi adat setiap tahun baru Jawa itu. "Biasanya setengah dua belas malam, nanti nunggu aba-aba dari keraton," beber Heri. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy