RADARSOLO.COM – Pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (16/6/2026) malam, sempat diwarnai ketegangan antara kubu SISKS Paku Buwono XIV Mangkubumi dan kubu SISKS Paku Buwono XIV Purboyo. Namun, insiden tersebut berhasil diredam sehingga seluruh rangkaian prosesi adat tetap berlangsung aman, tertib, dan lancar hingga selesai.
Ketegangan terjadi sesaat sebelum prosesi inti dimulai. Momen itu dipicu ketika gending gamelan dibunyikan sebagai penanda kedatangan seorang raja menuju Sasana Parasdya, singgasana yang menjadi simbol legitimasi dan penghormatan dalam tradisi keraton.
Pada saat hampir bersamaan, baik SISKS PB XIV Mangkubumi maupun SISKS PB XIV Purboyo diketahui sama-sama bergerak menuju Sasana Parasdya. Situasi tersebut memunculkan kebingungan dan berujung pada adu argumen singkat di antara pihak pendukung kedua kubu.
Baca Juga: Keraton Surakarta Catat Sejarah, Dua Raja Hadiri Wilujengan Malam 1 Suro
Ketegangan memuncak ketika langkah Mangkubumi dihentikan oleh GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani yang berada di kubu Purboyo. Tindakan itu kemudian memicu reaksi dari GKR Wandansari Koes Murtiyah atau Gusti Moeng yang berada di pihak Mangkubumi.
Meski sempat terjadi adu mulut, situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Kedua pihak memilih menahan diri dan mencari jalan tengah agar prosesi adat tetap berjalan sesuai agenda.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, menilai peristiwa tersebut lebih tepat disebut sebagai kesalahpahaman daripada sebuah insiden besar.
"Oh itu sebenarnya bukan insiden. Saat gending dibunyikan, Sinuhun sini (Mangkubumi) mau ke sana, sementara Sinuhun yang sana (Purboyo) juga miyos. Makanya tadi kita cari jalan yang terbaik supaya tidak membuat salah satu pihak kecewa," ujarnya.
Sebagai bentuk penyelesaian, Mangkubumi akhirnya memilih mengalah dan tidak melanjutkan langkah menuju Sasana Parasdya. Dengan demikian, lokasi tersebut digunakan oleh Purboyo untuk melanjutkan prosesi sesuai kesepakatan yang dicapai saat itu.
Sementara itu, Pengageng Paran Prakarsa, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat, menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan GKR Panembahan Timoer merupakan bagian dari tugas dan kewenangannya sebagai Pengageng Sasana Wilapa yang ditunjuk oleh SISKS PB XIV Purboyo.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga tata aturan dan paugeran yang berlaku dalam pelaksanaan upacara adat keraton.
"GKR Panembahan Timoer selaku Pengageng Sasana Wilapa menggunakan otoritasnya untuk menegakkan tata aturan yang berlaku. Jadi bagi pihak-pihak yang ingin memaksakan kehendaknya berarti melanggar adat," tegasnya.
Terlepas dari dinamika yang sempat terjadi, seluruh rangkaian Kirab Pusaka Malam 1 Suro akhirnya berjalan sesuai rencana. Prosesi pemberangkatan kirab, perjalanan pusaka mengelilingi rute yang telah ditentukan, hingga kepulangan rombongan ke dalam kompleks keraton berlangsung tanpa kendala berarti.
Penanggung Jawab Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengapresiasi seluruh pihak yang telah menjaga suasana tetap kondusif sepanjang acara berlangsung.
"Sudah selesai semuanya, sudah baik. Kita doakan saja agar semua berjalan sesuai dengan rencana kita. Ke depan ya sama-sama saja, ini kan sudah dijalankan bertahun-tahun yang seperti ini," ujarnya.
Baca Juga: Jelang Kirab Pusaka Malam 1 Suro Kebo Bule dan Pawang Ikut Dimandikan
Meski sempat diwarnai ketegangan sesaat, pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro tahun ini tetap menjadi simbol kuat bahwa tradisi dan budaya Keraton Kasunanan Surakarta masih dapat dijaga dan dilaksanakan di tengah dinamika internal yang masih berlangsung. (Ves/nik)
Editor : Niko auglandy