RADARSOLO.COM - Maraknya kasus pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Solo. Bertepatan dengan Bulan Literasi Keuangan Solo Raya 2026, masyarakat diajak untuk lebih melek literasi keuangan.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 80,51 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan baru berada di angka 66,5 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang telah menggunakan produk dan layanan keuangan, tetapi belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai risiko dan cara penggunaannya.
“Saya ingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan keuangan digital yang kian berkembang seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan berbasis teknologi,” kata Wali Kota Surakarta, Respati Ardi saat membuka membuka Kick Off Bulan Literasi Keuangan Solo Raya Tahun 2026, Minggu (21/6).
Baca Juga: Lepas dari Gawai dan Anak-Anak Kembali Bermain Mainan Tradisional dalam Festival Dolanan Bocah
Pemkot berharap kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital tidak boleh membuat masyarakat lengah. Di balik berbagai kemudahan tersebut, terdapat ancaman berupa penipuan digital, investasi ilegal, hingga pinjaman online ilegal yang dapat merugikan masyarakat. Oleh sebab itu literasi keuangan menjadi kebutuhan mendasar di era digital.
“Masyarakat harus memahami cara memilih layanan keuangan yang legal dan aman agar tidak mudah terjebak dalam penawaran investasi bodong maupun pinjol ilegal,” tegas Wali Kota.
Dalam kesempatan itu Respati juga meminta masyarakat agar tidak mudah percaya dengan tawaran investasi/bisnis yang memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat maupun pinjaman yang prosesnya terlalu mudah tanpa kejelasan legalitas.
Untuk mengantisipasi itu, masyarakat perlu melakukan pengecekan dan memastikan layanan keuangan yang digunakan berada di bawah pengawasan otoritas yang berwenang.
“Ini menjadi tantangan yang harus diatasi melalui edukasi keuangan yang masif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Pemkot Solo berkomitmen untuk mendukung penuh upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Oleh sebab itu edukasi keuangan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang menjadi pengguna terbesar layanan digital.
Melalui Bulan Literasi Keuangan Solo Raya Tahun 2026, Pemkot Solo bersama OJK, Bank Indonesia, dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Solo Raya berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan keuangan yang aman dan sehat semakin meningkat, sehingga masyarakat Solo Raya dapat terhindar dari jeratan pinjol ilegal dan investasi bodong.
“Kemampuan mengelola keuangan dan mengenali potensi penipuan di sektor keuangan menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. Sementara kesadaran finansial yang baik akan membantu masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan dan terhindar dari berbagai praktik yang merugikan,” imbuh Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy