Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

PLN Padam Bergilir, Pedagang di Kota Solo Menjerit: Omzet Ambruk, Bahan Makanan Terbuang

Silvester Kurniawan • Senin, 22 Juni 2026 | 07:11 WIB
PLN tengah memperbaiki instalasi listrik di daerah Serengah, Kota Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
PLN tengah memperbaiki instalasi listrik di daerah Serengah, Kota Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di berbagai wilayah Solo dan sekitarnya mulai memunculkan dampak nyata bagi masyarakat. Tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, kondisi tersebut juga memukul pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga pekerja di sektor industri kreatif yang bergantung pada pasokan listrik dan internet.

Keluhan paling banyak datang dari para pelaku usaha yang merasa pendapatannya menurun akibat listrik yang berulang kali padam dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, sebagian di antaranya mengaku mengalami kerugian karena bahan baku rusak dan aktivitas produksi terhenti.

Salah satunya dirasakan Wulandari, 37, pedagang kuliner olahan ayam dan ikan di kawasan Manahan. Ia mengaku omzet usahanya anjlok dalam tiga hari terakhir akibat pemadaman listrik yang terjadi pada malam hari, saat waktu paling ramai bagi para pedagang makanan.

Menurutnya, kondisi tempat usaha yang gelap membuat calon pembeli enggan datang. Akibatnya, banyak dagangan yang tidak terjual.

“Wes pokoknya bikin susah rakyat kecil saja mas. Kan kita listrik juga bayar tertib, mosok ya oglangan kok bola-bali. Kalau seperti ini pedagang seperti saya ini mau ngadu ke siapa?” keluhnya.

Baca Juga: Akun Instagram Korem 072/Pamungkas Mendadak Diprivat, Buntut Insiden Viral di Mandiri Jogja Marathon 2026?

Biasanya, pendapatannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap malam. Namun selama pemadaman listrik berlangsung, pemasukan yang diperoleh hanya berkisar seratusan ribu rupiah.

Kerugian tidak berhenti pada turunnya penjualan. Wulandari juga harus menanggung kerusakan bahan makanan yang seharusnya tersimpan dalam kondisi dingin di lemari pendingin.

“Pemadamannya sampai kapan ya mas. Kalau begini terus jadi takut bawa bahan banyak tapi tidak laku. Malah mubazir kan jadinya,” ujarnya.

Baca Juga: Jadwal Matchday Kedua 16 Besar Liga 4, 22 Juli: PSN Ngada dan Persibangga Berpeluang Kunci Tiket 8 Besar Hari Ini

Keluhan serupa juga disampaikan pelaku UMKM kerajinan kain perca asal Serengan, Madu Mastuti, 52. Ia mengaku aktivitas produksinya terganggu karena seluruh peralatan kerja bergantung pada pasokan listrik.

Dalam dua hari terakhir, sejumlah pesanan yang seharusnya bisa segera diselesaikan terpaksa tertunda akibat mesin produksi tidak dapat digunakan.

“Produksi saya itu kan sepenuhnya pakai listrik. Mesin jahit, mesin obras, mesin-mesin lainnya jadi nggak bisa jalan. Akhirnya waktu yang sebetulnya buat nyelakne garapan kan jadi hilang. Ini kan sangat mengganggu,” katanya.

Menurut Madu, fenomena mati listrik sebenarnya jarang terjadi di wilayahnya. Namun dalam beberapa hari terakhir, pemadaman justru berlangsung berulang kali dan dirasakan banyak pelaku usaha lainnya.

Dia bahkan menyaksikan langsung dampaknya ketika berada di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Semanggi beberapa waktu lalu. Aktivitas produksi sejumlah pelaku usaha terpaksa berhenti karena listrik padam selama berjam-jam.

Ilustrasi sebuah angkringan tetap buka walau dengan bantuan lilin, karena dalam situasi adanya pemadaman listrik oleh PLN. (Ai)
Ilustrasi sebuah angkringan tetap buka walau dengan bantuan lilin, karena dalam situasi adanya pemadaman listrik oleh PLN. (Ai)

“Ada juga keluhan dari teman-teman pedagang kuliner, pedagang frozen food. Kulkasnya mati kan kerugian jadi tanggungannya pedagang. Dampaknya ya ada waktu yang terbuang, keuntungan tidak maksimal, dan kadang ada juga kerugian karena barang-barang yang harus dibuang karena mati listrik. Jelas ini sangat merugikan,” ujarnya.

Baca Juga: HUT ke-16 CFD Solo, Wali Kota Tegaskan Lagi Larangan Merokok!

Tidak hanya sektor perdagangan dan UMKM, dampak pemadaman listrik juga dirasakan pekerja di bidang industri kreatif.

Ihsan Kolif, 33, warga Gandekan yang bekerja di sektor kreatif digital mengaku harus mencari tempat lain untuk menyelesaikan pekerjaannya. Padahal sebagian besar tugas yang dikerjakan membutuhkan listrik dan jaringan internet yang stabil.

“Pekerjaan yang mestinya bisa selesai dari rumah kan akhirnya harus dilakukan di tempat lain. Akhirnya ada pengeluaran berlebih kan kalau kerjanya di kafe atau tempat makan,” ujarnya.

Situasi serupa dialami pekerja media asal Boyolali yang kini tinggal di kawasan Ngoresan, Jebres, Arga Dirgantara, 35. Ia mengaku kesulitan menyelesaikan pekerjaannya karena pemadaman listrik terjadi tiga hari berturut-turut pada jam-jam produktif.

“Saya warga Boyolali yang kos di Ngoresan, Jebres. Pemadaman listrik ini waktunya tidak pasti, entah karena saya anak kos atau memang karena pemberitahuan yang tidak sampai, mati listrik ini sangat mengganggu,” katanya.

Ironisnya, saat listrik padam, banyak kafe maupun warung makan di sekitar kawasan kampus juga tidak dapat beroperasi normal karena tidak memiliki generator cadangan. Akibatnya, dia kesulitan mencari tempat alternatif untuk bekerja.

“Saya harap PLN lebih baik dalam sosialisasi sebelum melakukan pemadaman listrik. Minimal ada kepastian waktu dan kejelasan alasan sehingga masyarakat bisa melakukan antisipasi saat pemadaman listrik dilakukan,” harap Arga. (ves/nik)

Editor : Niko auglandy
#pln #umkm #listrik