RADARSOLO.COM – Ratusan pengemudi ojek online (ojol) memadati Balai Kota Solo, Senin (22/6), untuk mengikuti layanan cek kesehatan gratis (CKG) yang digelar Pemkot Solo bersama salah satu aplikator transportasi daring. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menjangkau kelompok pekerja lapangan yang kerap abai terhadap kondisi kesehatan akibat padatnya aktivitas harian.
Sedikitnya lebih dari 300 pengemudi ojol tercatat mengikuti pemeriksaan kesehatan tersebut. Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali mendapatkan layanan serupa secara langsung tanpa harus mengantre di fasilitas kesehatan.
“Saya baru pertama kali ikut cek kesehatan seperti ini. Sangat terbantu, jadi tidak perlu ke puskesmas,” ujar Joko Purnomo, salah satu peserta.
Joko yang telah menjadi pengemudi ojol sejak 2019 itu mengaku mulai lebih memperhatikan kondisi tubuhnya setelah mengikuti pemeriksaan. Dari hasil skrining, tekanan darah dan kolesterolnya masih dalam batas normal, namun kadar gula darahnya terpantau cukup tinggi sehingga disarankan untuk melakukan kontrol rutin di puskesmas.
“Gula darah saya agak tinggi, jadi tadi disarankan untuk rutin kontrol,” ungkapnya.
Baca Juga: Banding Gugatan Ijazah Jokowi Kandas, PT Jateng Kuatkan Putusan PN Solo
Hal serupa juga dialami sejumlah peserta lain. Pemeriksaan menunjukkan sebagian pengemudi berada dalam kondisi kesehatan yang kurang optimal, sehingga dokter menyarankan perubahan pola makan dan pola istirahat agar tetap bugar saat bekerja di lapangan.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengatakan, program cek kesehatan gratis ini akan diperluas untuk menjangkau kelompok masyarakat rentan lainnya, seperti pengemudi becak, petugas kebersihan, hingga pekerja lapangan lain.
Baca Juga: Cium Aroma Korupsi MBG, Kejari Sragen Pelototi 117 Titik SPPG
“Ini komitmen pemerintah kota untuk memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat rentan. Kami akan terus memperluas cakupan program ini,” ujarnya.
Respati menyebut, dari hasil pemeriksaan kali ini ditemukan sejumlah kasus penyakit penyerta (komorbid) meski jumlahnya di bawah 10 persen. Seluruh peserta yang membutuhkan penanganan lanjutan langsung dirujuk ke puskesmas maupun rumah sakit sesuai kebutuhan medis.
“Jika ditemukan komorbid, langsung kami tindak lanjuti. Yang membutuhkan penanganan lanjutan akan dirujuk ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya. (ves)