Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dulu Pusat Rekaman Nasional, Kini Lokananta Menjadi Ruang Kreatif. Apa yang Berubah?

Tim Radar Solo • Jumat, 3 Juli 2026 | 17:12 WIB
Suasana museum di Lokananta, Jumat (2/6/2023). Revitalisasi Lokananta tak hanya menyajikan museum tapi juga ruang kreativitas seni dan UMKM. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
Suasana museum di Lokananta, Jumat (2/6/2023). Revitalisasi Lokananta tak hanya menyajikan museum tapi juga ruang kreativitas seni dan UMKM. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Selama puluhan tahun, Lokananta dikenal sebagai pusat rekaman musik milik negara yang melahirkan berbagai karya musisi legendaris Indonesia.

Namun, setelah sempat mengalami kemunduran, Lokananta kini hadir dengan wajah baru sebagai ruang kreatif, museum, dan destinasi wisata. 

Perubahan itu memunculkan pertanyaan: apakah transformasi tersebut juga menghidupkan kembali perannya dalam industri musik Indonesia?

Pada dekade 1970–1980-an, Lokananta mencapai masa kejayaannya sebagai perusahaan rekaman milik negara sekaligus salah satu pusat industri musik Indonesia.

Studio ini menjadi tempat lahirnya berbagai karya legendaris, seperti Bengawan Solo karya Gesang dan Walang Kekek yang dipopulerkan Waldjinah.

Sejumlah musisi besar, seperti Bing Slamet, Titiek Puspa, hingga Sam Saimun, juga pernah merekam karya di Lokananta. 

Selain menyimpan ribuan rekaman musik, Lokananta mengoleksi arsip suara bersejarah, termasuk rekaman pembacaan teks Proklamasi oleh Presiden Soekarno.

Baca Juga: Menikmati Gurih-Manis Opor Bebek Pincuk Khas Kranggan Klaten, Kuliner Tradisional yang Bikin Nagih

Memasuki pertengahan 1980-an, produksi rekaman Lokananta mulai menurun. Setidaknya ada tiga faktor yang berkontribusi terhadap kemunduran tersebut. 

Pertama, meningkatnya persaingan dengan perusahaan rekaman swasta di Jakarta yang lebih cepat mengikuti perkembangan musik populer dan teknologi rekaman.

Kedua, berubahnya selera pasar terhadap musik tradisional Jawa, seiring munculnya genre hiburan baru seperti campursari dan solo organ.

Ketiga, berkurangnya produksi karya-karya baru yang memiliki daya tarik komersial setelah wafatnya maestro karawitan Nartosabdho pada 1985, yang selama ini menjadi salah satu pencipta repertoar populer bagi Lokananta.

Penurunan produksi tersebut terus berlangsung hingga Lokananta kehilangan posisi strategisnya dalam industri rekaman nasional.

Setelah mengalami penurunan produksi selama beberapa dekade, perjalanan Lokananta mencapai titik terendah ketika perusahaan rekaman milik negara tersebut dinyatakan pailit pada 2004.

Namun, hampir dua dekade kemudian, pemerintah melakukan revitalisasi kawasan Lokananta yang resmi dibuka kembali pada pertengahan 2023. 

Revitalisasi ini tidak hanya memulihkan bangunan bersejarah, tetapi juga mengubah fungsi kawasan menjadi ruang kreatif yang memadukan pelestarian sejarah dengan aktivitas industri kreatif masa kini.

Baca Juga: Cabo Verde Berani Tantang Lionel Messi: Insya Allah Kami Kalahkan Argentina di Piala Dunia

Kini, Lokananta menghadirkan berbagai wajah baru, mulai dari museum musik, studio rekaman, ruang pertunjukan, galeri pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga area publik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Transformasi tersebut menjadikan Lokananta tidak lagi sekadar dikenal sebagai perusahaan rekaman negara, melainkan juga sebagai destinasi wisata sejarah musik sekaligus pusat kegiatan kreatif di Kota Solo.

Sejak kembali dibuka, kawasan ini telah dikunjungi ratusan ribu orang yang datang untuk menikmati berbagai kegiatan, mulai dari pameran, konser musik, hingga suasana ruang publik yang tersedia.

Yang berubah bukan hanya wajah fisik Lokananta, tetapi juga perannya. Dari perusahaan rekaman negara yang berfokus pada produksi musik, Lokananta kini bertransformasi menjadi ruang kreatif yang memadukan pelestarian sejarah, aktivitas budaya, dan destinasi wisata. 

Jika dahulu nilai utamanya terletak pada karya-karya yang dihasilkan di studio rekaman, kini daya tariknya juga bertumpu pada pengalaman yang ditawarkan kepada publik melalui museum, pertunjukan, dan ruang komunal.

(Inayah)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#open space #solo #cafe #lokananta #nongkrong