Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Samanhudi dan Mimpi Ekonomi Rakyat: Dari Batik Laweyan hingga Tantangan UMKM Masa Kini

Kabun Triyatno • Minggu, 5 Juli 2026 | 19:33 WIB
Samanhudi menerima bintang Mahaputra dari Presiden Ke-1 RI Soekarno. (Luthfiana Sekar/Radar Solo)
Samanhudi menerima bintang Mahaputra dari Presiden Ke-1 RI Soekarno. (Luthfiana Sekar/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Di gang-gang sempit Kampung Laweyan, jejak perjuangan Haji Samanhudi masih terasa. Deretan rumah saudagar batik dengan tembok-tembok tinggi, halaman luas untuk menjemur kain, hingga lorong produksi yang menyatu dengan hunian menjadi saksi lahirnya sebuah gagasan besar bahwa ekonomi rakyat hanya akan kuat jika dibangun melalui kebersamaan.

Lebih dari seabad lalu, dari kawasan batik di barat Kota Solo itu, Samanhudi tidak sekadar menjual kain. Ia sedang merancang sebuah gerakan yang kelak menjadi tonggak kebangkitan ekonomi pribumi di Indonesia.

Baca Juga: Merawat Api Perjuangan Samanhudi: Kampung Batik Laweyan Hidupkan Warisan Ekonomi Pribumi lewat Wisata Sejarah

Ironisnya, nama Samanhudi tidak sepopuler tokoh-tokoh nasional lain seperti Sukarno atau Oemar Said Tjokroaminoto. Padahal, menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) Lukman Hakim, peran Samanhudi justru sangat fundamental karena meletakkan fondasi organisasi ekonomi masyarakat pribumi.

Lahir dari Ketimpangan Kolonial

Lukman menjelaskan, perjuangan Samanhudi tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi Hindia Belanda yang sangat timpang. Pada masa itu, akses terhadap modal, perdagangan, hingga perlindungan usaha tidak dinikmati secara merata.

Baca Juga: Batik Abstrak di Gang Sempit Kampung Laweyan Solo Sukses Tembus Pasar Mancanegara

Di Solo, ketimpangan tersebut paling terasa di industri batik. Ribuan warga menggantungkan hidup dari membatik, tetapi para pengusaha pribumi menghadapi persoalan klasik: modal terbatas, sulit memperoleh bahan baku, dan posisi tawar yang lemah di pasar.

Sebagai saudagar batik, Samanhudi merasakan sendiri tekanan tersebut. Ia menyadari, pengusaha kecil tidak mungkin mampu bersaing apabila berjalan sendiri-sendiri.

Baca Juga: Batik Masuk Kurikulum Sekolah, Solo Bentengi Generasi Muda dari Putusnya Warisan Budaya

"Kalau pengusaha pribumi jalan sendiri-sendiri, mereka akan kalah," terang Lukman, menggambarkan inti pemikiran Samanhudi.

Kesadaran itulah yang melahirkan gagasan tentang ekonomi kolektif.

Solidaritas Lebih Penting daripada Modal

Sebelum mendirikan organisasi besar, Samanhudi lebih dahulu membentuk Rekso Rumekso, sebuah perkumpulan yang bertujuan melindungi kepentingan pedagang pribumi.

Meski sederhana, organisasi itu menjadi embrio lahirnya gerakan ekonomi yang lebih besar.

Kala itu, Rekso Rumekso terkendala persoalan administrasi karena belum memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang disyaratkan pemerintah kolonial.

Atas masukan Mas Marco Kartodikromo, Samanhudi kemudian menggunakan AD/ART milik Sarekat Dagang Islam yang sebelumnya dirintis Tirto Adhi Soerjo.

Langkah tersebut menjadi titik balik.

Pada 1911, lahirlah Sarekat Dagang Islam Cabang Solo, organisasi yang kemudian berkembang pesat dan menjadi wadah perjuangan ekonomi masyarakat pribumi.

Ketika Oemar Said Tjokroaminoto bergabung, organisasi itu berubah menjadi Sarekat Islam, salah satu organisasi massa terbesar dalam sejarah Indonesia yang melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional.

Namun, bagi Lukman, warisan terbesar Samanhudi bukanlah organisasi itu sendiri.

Yang jauh lebih penting adalah gagasan bahwa kekuatan ekonomi lahir dari solidaritas, bukan semata-mata modal.

Laweyan, Kawasan Industri yang Dirancang Sejak Awal

Semangat tersebut tumbuh di Laweyan yang sejak awal memang dibangun sebagai kawasan industri batik. Lukman menilai struktur fisik kampung itu menunjukkan fungsi ekonominya.

Rumah-rumah besar milik saudagar, ruang produksi, halaman penjemuran kain, hingga sistem drainase yang mendukung proses membatik menjadi bukti bahwa Laweyan dirancang sebagai kawasan industri rumahan.

"Kalau masuk Laweyan, kelihatan sekali bahwa kawasan itu dibangun untuk produksi," ujarnya.

Karakter Laweyan berbeda dengan Kampung Kauman yang lebih berkembang sebagai kawasan perdagangan perlengkapan ibadah dan busana muslim. Sebab itu, Laweyan menjadi simbol lahirnya gerakan ekonomi rakyat berbasis industri.

Semangat Itu Hidup dalam Koperasi

Setelah Indonesia merdeka, nilai-nilai yang diwariskan Samanhudi tidak berhenti.

Semangat gotong royong ekonomi kemudian diwujudkan melalui berdirinya Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) pada dekade 1950-an di berbagai sentra batik, termasuk Laweyan dan Pekalongan.

Koperasi membantu pengusaha kecil memperoleh bahan baku sekaligus memperkuat posisi tawar mereka di pasar.

Namun tantangan zaman berubah. Jika dahulu ancamannya berasal dari monopoli ekonomi kolonial, kini pelaku usaha kecil menghadapi kompetisi global, produk impor murah, hingga perubahan teknologi produksi.

Sejak akhir 1960-an, industri batik mulai bergeser ketika teknologi printing berkembang. Produksi massal yang lebih cepat dan murah membuat batik tulis maupun batik cap semakin terdesak.

Belakangan, tekanan semakin besar dengan membanjirnya produk impor murah serta tren thrifting yang membuat produk lokal semakin sulit bersaing dari sisi harga.

Masalah Lama dalam Wajah Baru

Menurut Lukman, situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi rakyat sebenarnya belum banyak berubah.

Kelompok usaha kecil, petani, nelayan, hingga pelaku UMKM masih menjadi kelompok yang paling rentan dalam struktur ekonomi.

Mereka masih menghadapi persoalan klasik berupa keterbatasan akses modal, lemahnya perlindungan usaha, dan rendahnya daya saing.

Karena itu, pemikiran Samanhudi dinilai tetap relevan hingga hari ini. Kemandirian ekonomi, katanya, tidak mungkin dibangun secara individual.

Diperlukan kolaborasi, solidaritas, serta keberpihakan nyata terhadap usaha kecil agar ekonomi rakyat benar-benar mampu menjadi fondasi perekonomian nasional.

Lebih dari Sekadar Nama dalam Buku Sejarah

Bagi Lukman, generasi muda perlu mengenal Samanhudi bukan hanya sebagai nama jalan atau pendiri Sarekat Dagang Islam.

Pemikirannya perlu terus dihidupkan melalui pendidikan, museum, seminar, hingga diskusi publik.

Lebih dari seratus tahun setelah Sarekat Dagang Islam lahir, pesan Samanhoedi tetap terasa relevan.

Bahwa kekuatan ekonomi tidak dibangun oleh individu yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan oleh masyarakat yang saling menguatkan.

Dan dari sebuah kampung batik bernama Laweyan, gagasan itu pernah mengubah arah sejarah bangsa. (luthfiana sekar)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pribumi #Samanhudi #ekonomi #laweyan #batik