RADARSOLO.COM - Suara langkah kaki pengunjung terdengar pelan memecah keheningan sebuah ruangan sederhana berukuran sekitar 6 x 3 meter di Kampung Sondokan, Laweyan. Dindingnya dipenuhi foto-foto lawas, arsip surat kabar, lukisan, hingga dokumentasi perjalanan seorang tokoh yang pernah menyalakan api kebangkitan ekonomi pribumi: Samanhudi.
Di sudut ruangan itu, tak banyak benda peninggalan asli yang tersisa. Namun setiap foto, setiap potongan berita, dan setiap kisah yang dituturkan seolah membuat Samanhudi kembali hadir. Memasuki ruang museum, pengunjung akan menemukan berbagai dokumentasi penting. Mulai tulisan sejarah museum yang terpajang di dinding, iklan pabrik batik milik Samanhudi di surat kabar, foto rumah hadiah Presiden Soekarno di Laweyan, hingga foto Samanhudi bersama istri pertamanya Suginah dan istri keduanya Raden Nganten Marbingah.
Baca Juga: Samanhudi dan Mimpi Ekonomi Rakyat: Dari Batik Laweyan hingga Tantangan UMKM Masa Kini
Sebagai pemandu Museum Samanhudi sekaligus pemandu wisata Kampung Batik Laweyan Aziz meyakini museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda tua. Lebih dari itu, museum adalah ruang untuk menjaga ingatan kolektif agar generasi sekarang tidak kehilangan jejak sejarah bangsanya.
Kecintaannya terhadap sejarah lahir dari kebiasaan sederhana yaitu membaca. Setiap kisah yang ditemuinya memunculkan rasa penasaran untuk melihat langsung tempat-tempat yang menjadi saksi perjalanan masa lalu. Dari situlah ia semakin mendalami sejarah Laweyan dan sosok Samanhudi.
Dalam kesehariannya, Aziz juga aktif sebagai anggota Linmas Kelurahan Sondakan. Namun sebagian besar waktunya ia dedikasikan untuk menemani pengunjung menyusuri perjalanan tokoh yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan ekonomi pribumi tersebut.
"Kalau bicara Laweyan, ya tidak jauh dari batik, Sarekat Dagang Islam, dan Samanhoedi," ujarnya.
Menurut Aziz, tiga unsur itu tidak bisa dipisahkan. Batik menjadi denyut ekonomi masyarakat Laweyan, Sarekat Dagang Islam menjadi wadah perjuangan para pedagang pribumi, sementara Samanhudi adalah sosok yang memulainya.
Baca Juga: Mengenal Kampung Batik Laweyan
Awalnya museum berada di kawasan Tiga Negeri dan dikelola Yayasan Warna-Warni Indonesia. Berbagai foto, artikel, serta dokumentasi sejarah dikumpulkan untuk mengenalkan perjuangan Samanhudi kepada masyarakat. Namun seiring waktu aktivitas museum meredup hingga sempat terbengkalai. Melihat kondisi itu, warga Kelurahan Sondakan bersama Kelompok Sadar Wisata kemudian berinisiatif menghidupkannya kembali. Museum dipindahkan ke lokasi sekarang dan difungsikan sebagai ruang edukasi sejarah.
Bagi Aziz, Samanhoedi layak ditempatkan sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan bangsa. Ia menggambarkan peran tiga tokoh besar pergerakan nasional melalui analogi yang mudah dipahami.
"Yang menanam adalah Samanhudi, yang merawat adalah Tjokroaminoto, dan yang memanen adalah Bung Karno."
Dalam pandangannya, Samanhudi adalah penanam benih kesadaran. Melalui gerakan ekonomi yang dibangunnya, lahir kesadaran kolektif masyarakat pribumi untuk bangkit dari ketertinggalan.
Samanhudi memang bukan tokoh biasa. Lahir dari keluarga pengusaha batik di Laweyan, ia sempat menempuh pendidikan pesantren di Madiun sebelum kembali membantu usaha keluarganya.
Ironisnya, hampir tidak ada lagi benda pribadi asli milik Samanhudi yang tersisa. Menurut cerita keluarga, banyak peninggalan telah terbakar atau dijual demi membiayai perjuangan organisasi. Karena itulah museum ini lebih banyak mewarisi nilai, gagasan, dan semangat perjuangannya dibandingkan artefak fisik.
Di balik upaya menjaga sejarah itu, Aziz menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagian besar pengelola museum kini telah berusia lanjut. Regenerasi menjadi persoalan utama karena belum banyak anak muda yang bersedia terlibat mengelola museum.
Persoalan lain adalah pendanaan. Museum dikelola secara swadaya tanpa gaji tetap bagi para pengurusnya. Dengan senyum dan nada bercanda, Aziz menyebut penghasilannya sebagai "2M". "Makasih, Mas. Makasih, Mbak."
Baginya, kepuasan terbesar bukanlah materi, melainkan ketika melihat pengunjung pulang dengan pemahaman baru tentang siapa Samanhoedi dan mengapa perjuangannya penting dikenang hingga hari ini.
Untuk menarik minat generasi muda, museum tidak hanya menawarkan ruang pamer. Pengunjung juga diajak mengikuti wisata edukasi menyusuri Kampung Batik Laweyan, mengunjungi rumah kelahiran Samanhoedi, hingga berziarah ke makamnya.
Aziz berharap suatu saat Museum Samanhoedi berkembang menjadi museum yang lebih modern, interaktif, dan menyenangkan sehingga mampu menjangkau lebih banyak kalangan.
"Sejarah bukan hanya lewat buku atau lewat pena, lebih asyik dilihat langsung," katanya.
Di tengah derasnya arus digital dan modernisasi, Aziz percaya museum akan selalu memiliki tempat. Selama masih ada orang yang bersedia datang, mendengar, dan belajar dari masa lalu, semangat perjuangan Samanhudi tidak akan pernah benar-benar padam. Dari ruang sederhana di Laweyan itu, ingatan tentang seorang pelopor kebangkitan ekonomi pribumi terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Sebagai upaya mengenalkan kembali sosok Samanhudi kepada masyarakat, Forum Pengembangan Batik Laweyan (FPKBL) juga mengembangkan Barokah Creative Tourism, sebuah konsep wisata berbasis komunitas yang memadukan budaya, sejarah, edukasi, dan kreativitas masyarakat.
Salah satu program unggulannya adalah Wisata Selusur Jejak KH Samanhudi. Melalui paket wisata tersebut, pengunjung diajak menyusuri lokasi-lokasi bersejarah di Laweyan, mengenal perjalanan hidup Samanhudi, melihat rumah-rumah saudagar batik, hingga memahami bagaimana sebuah kampung kecil pernah menjadi pusat kebangkitan ekonomi pribumi. Program itu diharapkan menjadi jembatan antara generasi muda dengan sejarah bangsanya.
"Harapannya, orang tidak hanya mengenal Samanhudi sebagai nama jalan atau tokoh di buku sejarah, tetapi memahami nilai perjuangannya yang masih relevan hingga hari ini," ujar Ketua FPKBL Alfa Fabela. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun Triyatno