Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Demi Pangkas Waktu 20 Menit, Meskipun Rawan, Jembatan Sesek Penghubung Solo-Sukoharjo di Bengawan Solo Tetap Diminati

Damianus Bram • Senin, 6 Juli 2026 | 17:10 WIB
 Jembatan sesek yang menghubungkan Kampung Sewu (Jebres, Solo) dengan Gadingan (Mojolaban, Sukoharjo) langsung diserbu warga setelah sempat dibongkar beberapa waktu lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
Jembatan sesek yang menghubungkan Kampung Sewu (Jebres, Solo) dengan Gadingan (Mojolaban, Sukoharjo) langsung diserbu warga setelah sempat dibongkar beberapa waktu lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Akses penyeberangan alternatif ikonik berupa jembatan sesek (bambu) yang membentang di atas Sungai Bengawan Solo beroperasi kembali.

Jembatan yang mengubungkan Kampung Sewu (Jebres, Solo) dengan Gadingan (Mojolaban, Sukoharjo) ini langsung diserbu warga setelah sempat dibongkar beberapa waktu lalu.

Pantauan radarsolo.jawapos.com,pada Senin (6/7/2026), jembatan sesek ramai dilewati pesepeda hingga pengendara sepeda motor.

Baca Juga: Masuk Target Operasi Pekat Candi 2026, Pemuda di Eromoko Wonogiri Ditangkap Bawa Sabu 1,23 Gram

Struktur jembatan darurat ini memanfaatkan rangkaian drum plastik biru sebagai pelampung, yang kemudian dilapisi anyaman bambu tebal sebagai landasan.

Arif Sulistiyanto, ​salah seorang penjaga jembatan sesek mengungkapkan bahwa jembatan ini baru beroperasisekitar dua minggu terakhir.

Pembuatan jembatna sesek murni lahir dari tingginya desakan dan kebutuhan mobilitas warga sekitar.

​"Baru dua minggu (dibangun kembali). Ini sama masyarakat disuruh untuk bangun lagi sebagai akses warga," ujar Arif ditemui di pos penjagaan, Senin (6/7/2026).

​Arif menjelaskan, keberadaan jembatan sesek ini sangat bergantung pada faktor alam, khususnya debit air sungai.

​Di musim kemarau, saat debit air mengecil dan arus cenderung tenang, warga bergotong-royong merakit jembatan sesek.

Baca Juga: Ringankan Beban Orang Tua, Pemkab Klaten Siapkan Program Seragam Gratis SD-SMP Negeri pada 2027

Namun jika ketinggian air naik, jembatan akan dibongkar demi keselamatan, lalu operasional digantikan menggunakan perahu penyeberangan. 

"Ini perahunya juga sedang kami perbaiki dulu untuk persiapan," imbuh Arif.

​Untuk waktu operasional normal, jembatan ini dibuka mulai pukul 06.00 WIB hingga malam hari.

Namun, karena ada kompensasi dan koordinasi dengan pihak kelurahan setempat, untuk sementara batas aman operasional ditutup tepat pukul 19.00 WIB.

Baca Juga: Lewat Jaringan RPK dan KDMP, Bulog Surakarta Jamin Jangkauan Distribusi Beras SPHP di Klaten Makin Luas

​Bagi warga yang melintas, dikenakan tarif sumbangan swadaya yang sangat terjangkau, yakni Rp1.000 untuk pejalan kaki dan Rp3.000 untuk sepeda motor (boncengan).

Dana ini nantinya dikelola untuk biaya perawatan berkala serta upah para penjaga.

​Keberadaan jembatan sesek dinilai menjadi dewa penolong bagi mobilitas harian kaum pekerja pabrik di kawasan Solo utara (seperti Sariwarna) serta para pedagang yang hendak menuju Pasar Tengklik dan Pasar Sardi.

Jalur tikus di atas air ini mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan.

​"Kalau memutar lewat jalur utama bisa memakan waktu 20 menit sampai 30 menit. Tapi kalau lewat sini, paling hanya 10 menit sudah sampai tujuan," papar Arif.

​Kendati mayoritas warga menyambut baik, operasional jembatan sesek masih diwarnai polemik regulasi.

Baca Juga: Berkas Kasus Penipuan Calo ASN dan Pegawai BUMD Karanganyar Dikirim ke Kejari, Tunggu Status Lengkap

Tepat di dekat akses masuk, terpampang jelas spanduk imbauan resmi dari Pemkot Solo bertuliskan: "Dihimbau untuk tidak melintasi jembatan sesek BERBAHAYA!!!".

​Namun, tuntutan ekonomi dan kebutuhan mobilitas yang cepat tampaknya membuat warga memilih menutup mata dari risiko berbahaya tersebut. (dam)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#hubungkan solo-sukoharjo #pangkas waktu tempuh #Rawan #Jembatan Sesek #sungai bengawan solo