RADARSOLO.COM – Mantan jurnalis senior yang kini menjabat sebagai Staf Ahli DPRD Kota Surakarta, Muchus Budi Rahayu, resmi meluncurkan buku antologi geguritan bertajuk "Udan Ing Tlatah Paran: 33 Mantra Pengasih". Buku tersebut menjadi ruang bagi Muchus untuk mendokumentasikan perjalanan batin, kegelisahan, hingga pengalaman hidup yang dituangkannya melalui sastra Jawa
Peluncuran buku digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo, Senin (6/7) malam, bertepatan dengan malam Selasa Kliwon atau Anggara Kasih. Acara berlangsung khidmat sekaligus hangat dengan dihadiri kalangan seniman, budayawan, wartawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat.
Muchus mengungkapkan, penerbitan buku tersebut berawal dari tantangan yang diberikan TBJT sekitar enam bulan lalu untuk menghimpun karya-karyanya yang selama ini tersebar di berbagai media.
"Saya iyakan karena sekalian memang ingin mendokumentasikan karya-karya saya yang selama ini tersebar di mana-mana. Hal yang asyik juga bisa berkumpul dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, mulai dari teman politik, sesama wartawan, hingga seniman," ujarnya.
Buku tersebut memuat 33 geguritan. Angka itu, kata Muchus, dipilih bukan tanpa alasan. Ia terinspirasi dari tradisi wirid dalam Islam yang dibaca sebanyak 33 kali sebagai simbol doa, harapan, sekaligus kekuatan spiritual.
"Sengaja saya pilih 33 karya. Saya mengambil kekuatan dari konsep wirid atau wiridan dalam Islam, yang biasanya dibaca 33 kali. Jadi saya ingin mengambil esensi kekuatan mantra dan doa dari sana," terangnya.
Melalui buku ini, Muchus berharap seluruh rekam emosi, perjalanan hidup, serta kegelisahan yang pernah dialaminya dapat tersampaikan kepada para pembaca. Antologi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa dunia kepenulisan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dirinya.
Peluncuran buku juga dihadiri Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani. Dalam kesempatan itu, Astrid tampil membacakan dua geguritan karya Muchus di hadapan para tamu undangan. Meski baru pertama kali tampil membacakan puisi Jawa di forum sastra, ia mengaku menikmati pengalaman tersebut.
"Bahasa Jawa itu memiliki cita rasa yang sangat berbeda. Ketika kita menulis geguritan, maknanya bisa dirasakan sangat menjiwai. Kosakata dalam bahasa Jawa jauh lebih kaya dan berlimpah daripada bahasa Indonesia. Faktanya memang seperti itu," ujarnya.
Astrid mengaku tidak merasa gugup saat membacakan geguritan. Menurutnya, kecintaannya terhadap seni membuat momen tersebut justru terasa menyenangkan.
"Sebenarnya tidak deg-degan sih, saya malah sangat menikmati momen tadi karena pada dasarnya saya memang penikmat seni," katanya sambil tersenyum.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Surakarta akan terus mendukung berbagai kegiatan kebudayaan sebagai upaya menjaga identitas dan kekayaan budaya Kota Bengawan.
Apresiasi juga datang dari aktris Teater Solo sekaligus peneliti sosial, Luna Kharisma. Menurutnya, kekuatan utama antologi karya Muchus terletak pada kemampuannya memaknai ruang dan perjalanan sebagai refleksi kehidupan.
"Setelah aku mendengarkan geguritan karya Mas Muchus, serapanku adalah soal bagaimana ia memaknai ruang dan perjalanan. Tempat entah itu Phuket, Hua Hin, rumah, gua, hingga gunung, itu menjadi bagian dari refleksi pikiran dan perasaan. Jadi bukan sekadar menceritakan peristiwa," ujarnya.
Luna menilai pendekatan tersebut menghadirkan warna baru dalam sastra Jawa modern. Jika tema cinta atau kenangan lazim dijadikan pijakan dalam geguritan, Muchus justru menghadirkan ruang dan perjalanan sebagai medium untuk mengolah rasa dan pengalaman hidup.
"Kalau soal cinta atau kasih itu sudah biasa dijadikan patokan rasa. Soal peringatan atau mengeti itu juga peristiwa yang kerap dijadikan patokan rasa. Tapi yang menarik di buku ini adalah caranya memaknai tempat sebagai ruang dan perjalanan hidup," pungkasnya. (dam/nik)
Editor : Niko auglandy