RADARSOLO.COM – Lampu panggung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah menjadi saksi lahirnya ruang ekspresi tanpa sekat bagi penyandang disabilitas. Melalui pertunjukan Nata Lintas, seniman tunanetra, tunarungu wicara, tunagrahita, down syndrome, hingga tunadaksa tampil bersama dalam satu panggung, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Pementasan yang digelar melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X itu menjadi puncak perjalanan panjang sutradara Dwi Mahendra selama tujuh tahun mendampingi komunitas penyandang disabilitas.
Menurut Dwi, Nata Lintas merupakan mimpi yang akhirnya berhasil diwujudkan setelah bertahun-tahun membangun ruang kolaborasi lintas ragam disabilitas.
"Nata Lintas ini adalah hasil capaian saya selama tujuh tahun bergelut dengan teman-teman disabilitas. Dulu saya mempunyai cita-cita menggabungkan lintas disabilitas semuanya, dan malam ini bisa hadir di sini," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Menelaah Makna Mendalam Pementasan Wanita Dalam Pelita di TBJT: Menghidupkan Kembali Suara Marsinah
Baginya, Nata Lintas bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol kesetaraan. Seluruh pemeran berasal dari berbagai latar belakang disabilitas, mulai dari tunanetra, tunarungu wicara, tunagrahita, down syndrome hingga tunadaksa yang diberi kesempatan sama untuk tampil dan menunjukkan kemampuan mereka.
Konsep tersebut lahir dari kegelisahan Dwi yang melihat minimnya ruang bagi penyandang disabilitas untuk tampil di hadapan publik. Selama ini mereka umumnya hanya memperoleh kesempatan pentas pada peringatan Hari Disabilitas, bahkan sebagian besar digelar secara tertutup.
"Berdasarkan komunikasi saya dengan anak-anak, guru, dan alumni, mereka sebenarnya kangen ingin pentas, tetapi tidak ada ruang. Biasanya mereka hanya tampil saat Hari Disabilitas," katanya.
Baca Juga: Pementasan Sedulur Papat Limo Pancer di Desa Gombang: Kolaborasi 100 Seniman Memukau Ribuan Penonton
Pesan kesetaraan kemudian diwujudkan melalui konsep artistik yang mengangkat simbol "sama dengan" sebagai representasi bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk berkarya dan diapresiasi.
Para pemeran berasal dari SLB AYKB Solo, SLB Negeri Solo, serta Sepadan Art Band yang seluruh personelnya merupakan penyandang tunanetra. Mereka juga mendapat pendampingan sejumlah seniman Solo selama proses produksi berlangsung.
Namun proses menuju pementasan tidaklah mudah. Dwi harus menerapkan metode latihan yang berbeda sesuai karakter masing-masing peserta.
Dia menangani peserta tunanetra, tunadaksa, sekaligus menyusun konsep pertunjukan secara keseluruhan. Sementara asisten koreografer mendampingi peserta tunarungu wicara dan down syndrome dengan pendekatan khusus.
Peserta tunanetra, misalnya, membutuhkan instruksi verbal yang sangat detail. Sebaliknya, peserta tunagrahita memerlukan penyampaian yang lebih sederhana agar mudah memahami setiap gerakan. Sedangkan peserta tunarungu mengandalkan bahasa isyarat selama latihan maupun saat menyampaikan dialog di atas panggung.
Menurut Dwi, tantangan terbesar datang saat mendampingi peserta down syndrome karena setiap individu memiliki kemampuan menghafal gerakan yang berbeda-beda.
"Ini yang paling menantang. Setiap latihan rasanya berbeda-beda, cara menghafalnya pun berbeda. Butuh proses panjang, tidak bisa hanya satu atau dua tahun," tuturnya.
Melalui Nata Lintas, Dwi berharap predikat Solo sebagai kota ramah disabilitas juga diwujudkan dalam bidang seni. Ia ingin penyandang disabilitas dilibatkan secara rutin dalam berbagai agenda kebudayaan, bukan hanya pada momen-momen tertentu.
Ia juga menilai dukungan terhadap seniman disabilitas tidak cukup diwujudkan melalui bantuan materi semata. Kehadiran para pemangku kebijakan untuk menyaksikan langsung karya mereka dinilai menjadi bentuk apresiasi yang jauh lebih bermakna.
"Potensi mereka sangat banyak dan luar biasa. Kehadiran para pemangku kebijakan akan memberikan semangat yang berbeda bagi teman-teman disabilitas," pungkasnya. (hj/nik)