Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

72 Persen Warga Sudah Pilah Sampah, Gajahan Siap Jadi Role Model Solo

Silvester Kurniawan • Kamis, 9 Juli 2026 | 17:27 WIB
Pemilahan sampah mandiri di Kelurahan Gajahan. (M Ihsan/Radar Solo)
Pemilahan sampah mandiri di Kelurahan Gajahan. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Kelurahan Gajahan dinilai berhasil membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diatasi jika dimulai dari rumah tangga. Melihat keberhasilan tersebut, Komisi III DPRD Kota Solo mendorong Gajahan menjadi pilot project pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di seluruh kelurahan di Kota Solo.

Dorongan itu muncul setelah Komisi III meninjau langsung aktivitas Kelompok Pengolah Sampah Kawruh Uwuh, yang selama ini mengelola sampah secara swadaya dengan melibatkan partisipasi aktif warga.

Baca Juga: Gempa Bikin Pipa Sumur Dalam Desa Kundern Sukoharjo Rusak, Segera Diperbaiki Untuk Atasi Krisis Air Bersih

Ketua Komisi III DPRD Kota Solo Taufiqurrahman mengatakan, sistem yang dijalankan di Gajahan telah menunjukkan hasil nyata meski masih memiliki keterbatasan fasilitas.

"Kami dari Komisi III ingin melihat percontohan ini. Mudah-mudahan Gajahan bisa menjadi pilot project pengelolaan sampah di Kota Surakarta," ujarnya.

Menurut dia, keberhasilan tersebut bertumpu pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. Hingga kini sekitar 72 persen warga Gajahan telah melakukan pemilahan sampah, dan angka tersebut ditargetkan terus meningkat hingga menjangkau seluruh rumah tangga.

Baca Juga: Nekat Terobos Lampu Merah, Pajero Hantam Innova di Simpang Gemblegan Solo

"Sudah sekitar 72 persen masyarakat melakukan pemilahan sampah. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa mencapai 100 persen," katanya.

Dampaknya mulai terlihat. Sampah yang masuk ke tempat pengolahan tidak lagi bercampur sehingga bau menyengat dapat diminimalkan. Sampah organik pun dimanfaatkan sebagai pakan ternak sehingga volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan semakin berkurang.

Menurut Taufiqurrahman, pola tersebut menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai manfaat.

Baca Juga: Kondisi Psikis Masih Terguncang, Mantan Karyawati yang Dikirimi Video Syur oleh Camat di Boyolali Didampingi DP2KBP3A

Meski demikian, pengembangan program tersebut masih menghadapi kendala keterbatasan lahan. Karena itu, Komisi III mendorong Pemerintah Kota Surakarta mencari solusi agar kapasitas pengolahan dapat diperluas.

Salah satu opsi yang diusulkan ialah memanfaatkan lahan di sekitar lokasi, termasuk mengajukan skema pinjam pakai terhadap aset milik PT Taspen apabila memungkinkan.

"Kami berharap ada solusi terkait kebutuhan lahan sehingga pengelolaan sampah di Gajahan bisa berkembang lebih besar dan benar-benar menjadi percontohan bagi kelurahan lain di Kota Surakarta," pungkasnya. (atn)

Editor : Kabun Triyatno
ekonomi sirkular Swadaya rumah tangga gajahan sampah