RADARSOLO.COM – Apa jadinya jika furnitur yang biasanya menghias ruangan hunian, disulap jadi kostum karnaval?
Kreativitas ini lahir Program Studi Desain Mode Universitas Sebelas Maret (UNS), memadukan batik cap dan furnitur sebagai salah satu inovasi dalam memeriahkan Solo Batik Carnival (SBC) 2026.
SBC tidak sekadar menampilkan beragam motif batik khas Kota Bengawan, melainkan juga potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya furnitur.
Tercatat 10 kostum hasil kolaborasi dosen, mahasiswa, dan Komunitas Asyikin Art bakal mejeng di SBC.
Baca Juga: Haru! Tunanetra hingga Down Syndrome Tampil Bersama dalam Satu Panggung di Solo
Kolaborasi ini juga didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN).
Dosen Prodi Desain Mode FSRD UNS Apika Nurani Sulistyati menjelaskan, inovasi yang ditawarkan bukan hanya dari sisi visual, tetapi juga merambah fungsi. Sebab selama ini, kostum karnaval identik dengan ukuran jumbo dan sekali pakai.
“Biasanya kostum karnaval hanya dipakai sekali. Setelah itu disimpan, atau bahkan tidak digunakan lagi. Nah, kami ingin membuat kostum yang bisa dipakai berulang, dengan tampilan berbeda melalui sistem mix and match,” jelas Apika, Kamis (9/7).
Baca Juga: 72 Persen Warga Sudah Pilah Sampah, Gajahan Siap Jadi Role Model Solo
Apika menambahkan, seluruh kostum menggunakan batik cap asli Solo. Dipadu padan dengan bahan baku rotan, yang berasal dari industri UMKM di Solo Raya.
“Elemen rotan dipilih karena menyesuaikan tema SBC tahun ini, yang mengangkat potensi UMKM. Salah satunya industri furnitur rotan,” imbuhnya.
Ketua Komunitas Asyikin Art Mohammad Arif Wibowo menambahkan, perpaduan batik cap dan rotan menjadi simbol kolaborasi budaya, pendidikan, dan UMKM kreatif di Kota Bengawan.
Melalui pendekatan kontemporer, material rotan dibentuk menjadi siluet artistik yang terinspirasi dari lekukan furnitur.
“Perpaduan antara batik cap dan rotan ini memiliki karakter dinamis, ringan, dan futuristik. Namun tanpa meninggalkan unsur tradisional yang ada,” jelas Arif.
Selain itu, juga dikembangkan elemen kinetis pada kostum. Nantinya beberapa bagian kostum dapat digerakkan mengikuti langkah pemakai.
Mekanisnya tanpa bantuan baterai, sehingga tetap mengedepankan konsep ramah lingkungan.
Sementara itu, mahasiswa prodi desain mode yang terlibat dalam pembuatan kostum Theresia Dinda Satriyatno mengaku konsep rotan menjadi busana jauh lebih menantang dibanding yang dipelajari di kelas.
“Rotan memang sudah dilemaskan, tetapi tetap sulit dibentuk untuk mempertahankan pola anyaman. Apalagi untuk desain yang asimetris, prosesnya lebih rumit,” ujarnya. (mg4/alf/fer)
Editor : fery ardi susanto