Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Cara Hafid Mahmudi “Kipli” Buktikan Anak Punk Solo Mampu Hidup Mandiri.

Silvester Kurniawan • Kamis, 9 Juli 2026 | 18:49 WIB
Kipli belanja sayur di Pasar Legi untuk menyuplai sayuran ke beberapa outlet di Solo Raya. (Arief Budiman/Radar Solo)
Kipli belanja sayur di Pasar Legi untuk menyuplai sayuran ke beberapa outlet di Solo Raya. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Lengkingan alarm gawai berbunyi lantang setiap kali azan subuh berkumandang di sudut Kota Solo. Bagi Hafid Mahmudi, 22, atau yang akrab disapa Kipli, suara itu adalah komando mutlak untuk segera bangkit dari tempat tidur.

Dandanan Kipli sangat nyentrik. Rambutnya dipotong bergaya Mohawk tegak, celananya super ketat (skinny pants), lengkap dengan sepatu boots jenggel khas subkultur jalanan. Namun, alih-alih bersiap untuk nongkrong di lampu merah, pemuda asal Pemalang, Jawa Tengah ini justru meraih secarik kertas catatan belanjaan dan bergegas menuju riuhnya Pasar Legi Solo.

Anak punk yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat ini, kini menggantungkan masa masa depannya dengan menjadi andalan para ibu rumah tangga sebagai kurir sayur mayur dan sembako keliling.

Baca Juga: Mengapa Harta Jampidsus Febrie Ardiansyah Tak Berubah Selama 3 Tahun? Usai LHKPN Melonjak Tajam pada 2023: Komanya Pun Sama Persis

Detak rutinitas harian sejak dua tahun terakhir, Kipli bergerak taktis dalam dua gelombang waktu yang teratur. Pukul 05.00 - 07.00, Kipli berburu sayur-mayur segar, lauk-pauk, dan bahan pokok di Pasar Legi sesuai dengan daftar pesanan para pelanggan setianya. Tepat pukul 07.00, semua komoditas dapur itu harus sudah mendarat di depan pintu rumah konsumen untuk diolah menjadi menu sarapan keluarga.

Selanjutnya pukul 07.30 - 10.00, dia kembali ke pasar dan area pertokoan sekitar untuk menyisir barang belanjaan kloter kedua, umumnya berupa paket sembako skala besar yang rampung didistribusikan sebelum tengah hari.

Baca Juga: 162 Ijazah Lulusan SMK Di Solo Masih Tertahan, Tunggakan Mencapai Rp 336 Juta

Setelah kewajibannya di Depot Sayur Sejahtera selesai pada pukul 10.00, barulah Kipli kembali ke habitat aslinya. Sisa waktu hingga malam hari dia manfaatkan secara produktif untuk mengasah jiwa wirausaha di bidang ekonomi kreatif berbasis komunitas.

“Setelah selesai mengantar sayur, saya fokus mengerjakan usaha mandiri. Kebetulan saya memproduksi aksesoris khas punk. Saat ini pasarnya memang masih untuk kalangan sendiri, tapi ke depan target saya adalah membesarkan lini usaha jaket modifikasi dan aksesoris punk ini secara profesional,” tutur pria asal Pemalang, Rabu kemarin (8/7/2026).

Baca Juga: Jejak Ban Bongkar Misteri McLaren Milik Andra ST Terbelah Dua Di Jalanan Sukoharjo

Rata-rata sehari dia melayani tiga outlet seperti resto dan warung makan di Kota Solo dan sekitarnya serta beberapa pelanggan rumah tangga. Omzet bisa tembus 3 juta sehari.

Dari hasil kerja kerasnya ini dia bahkan ditawari endorse berbagai produk untuk mempromosikan di media sosialnya. Namun tidak semua tawaran diterima karena berbagai sebab.

Kemapanan berpikir yang dimiliki Kipli hari ini tidak jatuh dari langit, melainkan ditempa oleh aspal jalanan. Pada usia 18 tahun, anak tunggal ini mengambil keputusan berani sekaligus nekat meninggalkan rumah demi mencari pengalaman hidup.

Berbekal sebuah motor Vespa tua, dia menjelajah berbagai daerah di Indonesia. Untuk bertahan hidup, Kipli melakoni kerja serabutan. Mulai dari berjualan kopi seduh di atas motornya hingga menumpang tidur dari satu markas komunitas ke komunitas lainnya.

“Waktu pamit ke orang tua bilangnya cari kerja, tapi ya sebenarnya hidup menggelandang di jalanan. Pengalaman keras di jalanan itulah yang memaksa saya mendewasa, meruntuhkan ego, dan mulai sadar bahwa saya harus bertanggung jawab penuh pada masa depan sendiri,” kenang pemuda yang akan merayakan ulang tahun ke-23 pada 19 Juli mendatang ini.

Baca Juga: Canthang Balung di Kasunanan Surakarta dan Edan-edanan di Kasunanan Yogyakarta Sama atau Beda?

Titik balik hidupnya terjadi saat dia bertemu dengan sesama anak punk yang sukses mengelola usaha mandiri bernama Depot Sayur Sejahtera. Terinspirasi oleh rekannya, Kipli mengajukan diri untuk bergabung sebagai karyawan. Di sinilah mentalitas jalanannya diuji untuk tunduk pada regulasi dunia kerja profesional.

Langkah Kipli masuk ke kompleks perumahan dengan seragam punk awalnya sempat memicu pandangan curiga dari warga. Namun, stigma negatif itu runtuh seketika oleh pembuktian etos kerja, keramahan, dan integritas tinggi yang ditunjukkan Kipli setiap kali mengantar barang.

Aksi nyatanya ini bahkan berhasil memulihkan hubungan “diplomatik” dengan orang tuanya di kampung halaman yang sempat renggang akibat keputusannya kabur ke jalanan.

“Respons masyarakat sekarang sangat baik dan mendukung. Banyak orang awalnya takut atau tidak nyaman melihat anak punk. Tapi begitu kita bisa menunjukkan kemampuan kerja dan sopan santun, mereka justru bersimpati. Orang tua saya sekarang juga sudah bangga karena melihat anaknya bisa berdiri di atas kaki sendiri,” kata Kipli mantap.

Bagi Kipli, menjadi pekerja kantoran atau kurir sayur tidak lantas melunturkan ideologi punk yang mendarah daging di tubuhnya. Dasar pemikiran punk yang kritis terhadap sistem yang tidak adil tetap ia rawat dengan baik.

Kipli hanya ingin membuktikan tesis baru di dalam komunitasnya bahwa melawan arus tidak harus berakhir menjadi sampah masyarakat. Berdikari secara ekonomi lewat kerja keras adalah bentuk perlawanan paling elegan untuk membungkam skeptisisme dunia. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#omzet #punk #konsumen #sayur #Pasar Legi