RADARSOLO.COM - Sebuah rumah lawas yang dibangun pada tahun 1900 masih kokoh berdiri di Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo.
Rumah yang berusia 126 tahun tersebut awalnya merupakan kediaman kakek dari Ananta Wahana, mantan anggota DPR RI.
Kini, rumah yang didominasi warna biru laut itu dibuka secara gratis untuk memfasilitasi berbagai kegiatan sosial warga kampung.
Baca Juga: Jadwal Belum Pasti, Ini Cara Cek Status Penerima BLT Kesra Rp900 Ribu via HP pada Juli 2026
Ananta menjelaskan, setelah 25 tahun mengabdi sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Banten dan melakukan banyak hal untuk masyarakat di sana, ia memutuskan pulang kampung untuk memberikan kontribusi nyata bagi tanah kelahirannya di Solo.
"Tempat ini dinamakan Omah Leluhur, karena kebetulan rumah ini dulu awalnya adalah rumah kakek saya dibangun tahun 1900 pas, jadi umurnya sudah 126 tahun," ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
"Selama saya di Banten, saya melakukan banyak hal untuk masyarakat di sana. Masak untuk kampung saya sendiri tidak melakukan apa-apa," lanjut Ananta.
Bertekad memberikan kontribusi bagi masyarakat di kampung halaman, Ananta menyampaikan kepada masyarakat untuk bisa memanfaatkan Omah Leluhur.
"Hari ini kami mengundang ada tokoh Islam, ada tokoh Katolik, ada tokoh masyarakat, RT-RW, jadi monggo (Omah Leluhur) dipakai untuk PKK monggo, Posyandu monggo. Kegiatan apa saja monggo, asalkan positif," ujarnya.
Filosofi Tiga Bangunan Utama
Kompleks Omah Leluhur berdiri di atas lahan luas yang terbagi menjadi tiga struktur bangunan utama dengan filosofi nama dan makna yang mendalam:
-
Wisma Karangtumarintis: Bangunan depan yang digunakan sebagai tempat singgah pribadi pemilik saat berada di Solo. Nama ini membawa filosofi mendidik setan menjadi dewa, yang bermakna mengubah karakter manusia yang dulunya tidak baik menjadi pribadi yang baik.
-
Rumah Projohantoko: Bangunan bagian tengah berupa joglo kecil dan rumah keluarga. Nama ini diambil dari nama sang kakek Ananta, Projohantoko, selaku pemilik awal tanah tersebut.
-
Joglo Singgir Basuki: Bangunan di area belakang berupa joglo besar yang mampu menampung kapasitas 50 hingga 60 orang. Nama ini didedikasikan dari nama sang ayah, Singgih Basuki.
Melalui penyediaan ruang komunal ini, Ananta berharap Omah Leluhur dapat menjadi penawar di tengah situasi kehidupan modern yang cenderung pragmatis dan serbasulit.
Omah Leluhur diproyeksikan menjadi wadah pemberdayaan karang taruna dan masyarakat agar bisa berkembang ke arah yang lebih positif.
"Sekarang ini kan situasinya pragmatis, situasinya susah. Pokoknya ini bagaimana kita bisa lebih baik. Mendidik 'setan menjadi dewa'," pungkasnya. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono