RADARSOLO.COM - Target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membentuk 1.000 desa wisata mulai 2027 mendapat sambutan positif di Kota Solo. Meski berstatus kota, pengembangan dilakukan melalui kampung wisata yang mengandalkan potensi budaya, sejarah, hingga kuliner berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Jawa Tengah AR Hanung Triyono mengatakan, pengembangan 1.000 desa wisata menjadi salah satu program prioritas seiring tema pembangunan pariwisata Jawa Tengah pada 2027.
"Tahun 2027 nanti Jawa Tengah memasuki tema pariwisata berkelanjutan dengan ekonomi syariah. Salah satu upaya kami adalah membentuk 1.000 desa wisata," ujarnya saat ditemui di UNS, Sabtu (18/7).
Baca Juga: Dua Koridor Disekitar Stasiun di Solo Dikonsep Jadi Lokasi Wisata Ramah Pejalan Kaki
Hanung menjelaskan, program tersebut akan diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Pendampingan dapat dilakukan melalui KKN tematik maupun penguatan pelestarian budaya agar menjadi daya tarik wisata.
Di Solo, konsep tersebut diterapkan melalui pengembangan kampung wisata yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Ketua Pokdarwis Kota Solo Mintorogo mengatakan, saat ini sudah ada enam kampung wisata yang memiliki surat keputusan (SK), yakni Baluwarti, Kauman, Kedung Lumbu, Keprabon, Jayengan, dan Kemlayan.
"Tahun ini kami mengusulkan empat kampung lagi. Kemungkinan yang bisa ditetapkan dua kampung terlebih dahulu," ujar Mintorogo sekaligus sebagai Wakil Ketua Pokdarwis Jateng (19/7).
Baca Juga: Jateng Bidik Pertahankan Gelar Juara Umum Peksiminas 2026
Menurut Mintorogo, Solo memiliki modal kuat karena hampir setiap kampung mempunyai potensi budaya yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata. Mulai dari kuliner bersejarah, kesenian tradisional, tradisi kampung, hingga keprajuritan.
Namun, dia mengingatkan bahwa keberhasilan kampung wisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi. Pengelolaan yang konsisten menjadi faktor penentu agar tidak berhenti di tengah jalan.
"Banyak desa wisata di Jawa Tengah yang mati suri karena kurang inovasi, SDM lemah, dan pengelolanya tidak konsisten. Yang paling penting itu kualitas SDM dan sinergi pentahelix, mulai pemerintah, masyarakat, akademisi, media, hingga pelaku usaha," tegasnya.
Dia berharap, pengembangan kampung wisata di Solo dilakukan bertahap dan berkelanjutan. Menurutnya, konsistensi pembinaan lebih penting dibanding membuka banyak destinasi sekaligus tanpa pendampingan yang memadai.
"Kekuatan di solo sinerginya terbangun pentahelix antara pemerintah desa, akademisi, pelaku UMKM dan juga anak muda dari karang taruna. Kami lakukan secara organik tapi kalau enggak konsisten ya naik turun," kata Mintorogo. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy