RADARSOLO.COM - Keberadaan ojek online (ojol) sangat membantu mobilitas mahasiswa di kampus-kampus di Kota Solo, terutama yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Namun, tidak semua jasa bisa dilayani ojol.
Ceruk pasar inilah yang coba direbut oleh jasa layanan Anjem alias Antar Jemput Mahasiswa di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Bukan sekadar memberikan layanan antar-jemput atau jasa titip (jastip) makanan dan barang, Anjem menghadirkan layanan lain yang tidak tersedia di aplikasi ojol resmi.
Baca Juga: Revitalisasi Keraton Dimulai, LDA Siap Buka Paksa Akses Bergembok
Ambil contoh jasa fotokopi atau mengurus berkas ke kampus.
Menariknya, aspek kenyamanan psikologis justru menjadi daya tawar utama.
Ketika pengguna sudah mengenal karakter pengemudinya, proses pemesanan berikutnya bisa mendobrak sekat birokrasi grup.
Pelanggan bebas memesan layanan, cukup melalui obrolan chat pribadi.
Sebuah proximity alias kedekatan yang membuat Anjem terasa lebih adaptif, ketimbang kakunya sistem aplikasi ojol resmi.
Jasa Anjem baru dirintis Restu Bintang sejak Maret 2024. Langkah berani lulusan UNS ini tidak hanya memudahkan mobilitas harian mahasiswa, tetapi juga membuka lapangan kerja baru yang fleksibel.
“Inspirasi muncul ketika saya berkunjung ke Semarang dan berbincang dengan teman. Di sana layanan antar jemput mahasiswa sudah banyak dan cukup ramai. Sedangkan di Solo belum ada,” ungkap Restu.
Berangkat dari studi komparasi kasual di Kota Atlas tersebut, Restu terdorong untuk menyemai benih usaha serupa di Solo. Target pasarnya kawasan kampus UNS Kentingan, Jebres.
“Awalnya saya benar-benar bergerak sendiri selama enam bulan pertama. Mulai dari membangun branding, merancang strategi pemasaran, hingga mengurus operasional dan menjadi pengemudi pertama,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua Demokrat Solo Mundur, DPP Belum Tunjuk Pelaksana Tugas
Berdiri di tengah ekspansi ojol reguler, tidak semudah membalik telapak tangan.
Namun, Anjem membuktikan diri mampu eksis dan terus merawat basis pelanggan setianya.
Menurut Restu, rahasia resiliensi jasanya bersandar pada tiga pilar utama. Mulai dari fleksibilitas layanan, harga yang kompetitif, hingga kenyamanan.
“Kami berusaha masuk ke segmen yang belum terkaver ojol reguler. Sederhananya, mau titip beli siomay di pinggir jalan pun, di Anjem bisa dilayani,” beber Restu.
Dari segi tarif, Anjem menerapkan kebijakan yang sangat ramah di kantong mahasiswa.
“Tarif mengantar di area kampus dibikin flat antara Rp 5.000-Rp 6.000. Kalau rute di luar kampus, kalkulasi tarifnya kami hitung Rp 2.400 per kilometer (km),” jelasnya.
Lebih dari sekadar hitungan matematis di atas kertas, nilai tambah paling dirasakan adalah kedekatan ruang interaksi. Karena posisi pengemudi dan penumpang berada dalam strata sosial yang sama, yakni sesama mahasiswa.
Percakapan sepanjang perjalanan mengalir tanpa sekat. Obrolan terasa lebih nyambung, santai, dan tak jarang menjadi ruang bertukar informasi seputar tips di dunia perkuliahan.
Setelah fondasi bisnisnya dirasa kukuh dan tingkat kepercayaan konsumen mulai terbangun, Restu membuka pintu lebar-lebar bagi mitra pengemudi lain. Terutama dari kalangan mahasiswa.
Selama mengelola para mitranya, Anjem menerapkan sistem manajemen humanis yang terbilang unik.
Alih-alih mengadopsi gaya kapitalistis dengan memotong persentase dari setiap transaksi harian yang melelahkan pengemudi, Restu justru menerapkan sistem keanggotaan (membership).
Baca Juga: MGN Pastikan Kawal Sidang, Sebut Jokowi Siap Hadir sebagai Pelapor
Para mitra driver cukup membayar iuran tetap Rp 60.000 untuk durasi dua pekan.
“Setelah membayar biaya member, tidak ada potongan sepeser pun per transaksi. Seluruh pendapatan dari orderan murni masuk ke kantong driver,” urai Restu.
Sistem pengelolaan nirlaba ini memberikan kepastian pendapatan yang adil dan transparan. Terutama bagi mahasiswa yang sedang berjuang mencari tambahan uang saku.
Terkait operasional harian, layanan Anjem siaga mulai pukul 07.00-23.00. Di luar itu, pelanggan tetap dilayani. Tapi jangan harap mendapat layanan fast response.
Soal keselamatan bagi driver maupun penumpang, tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
“Kami secara berkala mengimbau driver untuk menghindari rute-rute jalanan yang sepi dan rawan,” bebernya.
Bagi yang ingin memanfaatkan jasa ini, alur pemesanan dirancang sangat praktis.
Konsumen cukup berselancar ke akun Instagram @uns_anjem, lalu klik tautan di bio yang langsung terhubung di grup WhatsApp (WA) komunitas. Setelah itu, mengirimkan format pesanan yang ada.
Melihat keberhasilan formula bisnis berbasis komunitas ini di Solo, Restu kini ingin mengepakkan sayap ekspansinya ke wilayah yang lebih luas. Layanan Anjem kini resmi mengaspal di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja. (anmer jilvandis/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo