RADARSOLO.COM - Fasilitas edukasi dan penguatan budaya di Kota Solo semakin lengkap.
Menyusul soft launching Tahir Solo Museum,Sabtu (25/7/2026).
Peresmian tahap awal museum yang digagas Tahir Foundation dihadiri Wali Kota Solo Respati Ardi, Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI Prof. Dr. Agus Mulyana, serta pendiri Tahir Foundation Datuk Sri Tahir.
Baca Juga: Kalau Emoji Jadi Bahasa, Harus Punya SPOK Dong? Ternyata Ini yang Membuatnya Berbeda
Dalam sambutannya, wali kota menyampaikan apresiasi kepada Tahir Foundation yang telah menghadirkan museum berskala besar di Kota Bengawan.
Menurutnya, kehadiran museum tersebut menjadi berkah sekaligus warisan berharga bagi masyarakat Solo.
Respati mengatakan, museum itu merupakan hasil kolaborasi antara Tahir Foundation, pemkot, dan dukungan masyarakat.
Dia berharap keberadaan museum dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan bagi pelajar sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
"Alhamdulillah, Kota Solo mendapatkan museum yang sangat luar biasa. Ini menjadi berkah bagi kota kita," jelas Respati.
"Semoga museum ini menjadi tempat edukasi bagi siswa-siswi dan menjadi legacy yang baik untuk generasi penerus," lanjut wali kota.
Pemkot Solo, lanjut Respati, berkomitmen mengembangkan Tahir Solo Museum menjadi museum modern tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas Kota Solo.
"Kami akan menjadikan museum ini sebagai museum modern, tetapi tetap mengakar kepada budaya yang kita miliki," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI Prof. Dr. Agus Mulyana menyebut, Tahir Solo Museum sebagai salah satu museum terbesar di Indonesia.
Dia mengapresiasi langkah Tahir Foundation yang dinilai turut mendukung upaya pemajuan kebudayaan nasional.
Menurut Agus, keberadaan museum menjadi sangat penting karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.
Bahkan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon kerap menyebut Indonesia sebagai negara dengan mega diversity budaya yang menjadi kekuatan besar bangsa.
"Hadirnya museum ini dengan bangunan yang sangat megah diharapkan mampu mengembalikan memori kolektif Solo sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa di Indonesia," katanya.
Dia menambahkan, museum memiliki sedikitnya tiga fungsi utama.
Pertama, menjaga kesinambungan sejarah agar masyarakat tidak terputus dengan masa lalu.
Kedua, menjadi sarana pendidikan karakter melalui nilai-nilai sejarah. Ketiga, memperkuat identitas dan jati diri bangsa.
Selain itu, Agus berharap Tahir Solo Museum juga berkembang menjadi pusat penelitian mengingat Kota Solo memiliki banyak perguruan tinggi.
Museum juga diharapkan menjadi etalase budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Solo kepada masyarakat luas.
Agus mengingatkan agar pengelolaan museum dilakukan secara profesional. Kementerian Kebudayaan, kata dia, siap memberikan dukungan melalui regulasi, registrasi, standardisasi museum hingga berbagai program pendukung lainnya.
Direktur utama Tahir Foundation, Datuk Sri Tahir, mengungkapkan, pembangunan museum tersebut dilandasi ikatan emosional yang kuat dengan Kota Solo.
Ibunya merupakan warga asli Solo yang tumbuh di kawasan Pasar Gede dan Balong sebelum kemudian merantau.
Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam acara tersebut, Tahir mengaku merasakan kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia.
Dia menyebut Solo memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidupnya karena banyak kenangan masa kecil yang dihabiskan di kota itu.
"Ibu saya asli Solo. Hari ini anakmu kembali ke kampungmu. Saya masih ingat masa kecil bermain di Solo, berenang di Tirtomoyo, hingga menikmati suasana Sriwedari. Semua itu membentuk perjalanan hidup saya," tuturnya.
Tahir mengaku berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya dahulu menyewakan becak di Surabaya.
Kesuksesan yang diraihnya saat ini, menurut dia, tidak lepas dari kesempatan yang diberikan Indonesia.
"Saya merasa berutang kepada negeri ini. Kalau tidak ada Indonesia, tidak ada Tahir. Rasa utang itulah yang akan saya bawa sampai akhir hidup saya," ujarnya.
Dia menjelaskan, pembangunan kawasan museum baru memasuki tahap pertama.
Ke depan, kawasan tersebut akan dilengkapi dengan President Center sebagai ruang diskusi, pameran, hingga forum internasional.
Tahir juga mengusulkan pengembangan kawasan penunjang seperti fasilitas UMKM agar mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Solo.
Dengan hadirnya Tahir Solo Museum, diharapkan Solo semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan nasional sekaligus destinasi edukasi sejarah yang dapat dinikmati masyarakat dari berbagai daerah. (atn)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com